Seminggu setelah tribunal Vestra, Ara masih belum bisa berdiri lebih dari sepuluh menit tanpa merasa dunia berputar pelan di sekelilingnya.
Bukan karena luka. Tidak ada satu pun luka di tubuhnya yang bisa dilihat oleh dokter mana pun. Tapi dua malam berturut-turut di perairan tengah itu sudah menguras sesuatu dari dalam dirinya yang tidak bisa diukur oleh alat kedokteran mana pun — kekuatan yang sudah dia paksa melewati batasnya dua kali dalam satu malam, pertama untuk menenggelamkan antena sebuah kapal induk, kemudian untuk membanjiri enam kompartemen bahan peledak dari jarak bermil-mil. Tubuh manusianya baik-baik saja. Tapi bagian dirinya yang berasal dari laut itu sedang terbaring lelah seperti otot yang disobek paksa bekerja terlalu jauh.
Vaza datang ke istana Monaghan setiap pagi untuk memeriksanya, berdiri di sisi kolam besar di sayap timur tempat Ara menghabiskan sebagian besar waktunya berendam sampai sebatas dada, dan membaca kondisi gadis itu dengan tangan-tangan tuanya yang menyentuh permukaan air seperti dokter membaca denyut nadi.
“Kau memaksa kekuatanmu melewati batas yang seharusnya tidak pernah kau lewati, Putri,” ucapnya pada pagi ketiga, dengan nada yang lebih keras dari biasanya — nada seorang tabib yang sedang memarahi pasiennya karena alasan yang paling ia pedulikan. “Dua kali dalam satu malam, di daratan, dengan tubuh yang bahkan belum sepenuhnya pulih dari kerja-kerja sebelumnya. Kau tahu apa yang kau lakukan itu sama dengan apa dalam dunia manusia? Sama dengan seorang pelari yang memaksakan kakinya yang patah untuk berlari maraton dua kali berturut-turut. Kakinya masih bisa bergerak, Putri. Tapi setiap langkahnya sedang merobek sesuatu yang tidak akan tumbuh kembali kalau kau terus memaksanya.”
“Aku tidak punya pilihan lain, Vaza.”
“Orang-orang yang kau cintai selalu membuatmu merasa tidak punya pilihan lain. Itu penyakit tertua dari keluarga ibumu.” Vaza menghela napas panjang, dan nadanya melunak kembali. “Dengarkan aku baik-baik, Putri Arandelle, karena aku hanya akan mengatakannya sekali. Mulai hari ini, selama satu bulan penuh, kau tidak akan menggunakan kekuatanmu untuk apa pun. Tidak untuk memanggil air, tidak untuk menggerakkannya, tidak untuk apa pun yang lebih besar dari membasuh wajahmu. Tubuhmu butuh waktu untuk menenun kembali apa yang sudah kau robek, dan tenunan itu hanya bisa bekerja kalau kau berhenti menarik benangnya.”
“Satu bulan penuh?”
“Satu bulan penuh. Dan setelah itu, kalau kau ingin kekuatanmu tumbuh kembali dengan benar — bukan hanya pulih, tapi tumbuh menjadi lebih kuat dan lebih terkendali dari sebelumnya — aku akan membawamu ke satu tempat yang seharusnya sudah kubawa sejak lama. Ke perairan utara, ke tempat tinggal kaum ibumu, ke satu-satunya tempat di dunia ini di mana orang-orang sepertimu belajar untuk menjadi utuh.”
Ara menatapnya dari dalam kolam itu dengan mata yang membelalak pelan.
“Kaum ibuku. Mereka ... masih ada?”
“Mereka selalu ada, Putri. Jauh di perairan utara, di kedalaman yang tidak pernah dijangkau oleh kapal-kapal manusia. Mereka sudah mengetahui keberadaanmu sejak kau lahir, dan mereka sudah menunggumu pulang lebih lama dari yang kau ketahui.” Vaza menatapnya dengan tatapan yang sudah menyimpan rahasia ini selama bertahun-tahun. “Tapi itu nanti, setelah kau sembuh. Satu bulan istirahat penuh dulu, Putri. Tidak bisa ditawar.”
Dan di sisi lain istana, di ruang kerja Ratu Moana, Judas sedang menghadapi interogasi yang jauh lebih menakutkan dari semua interogasi yang pernah dia hadapi di ruang hitam: interogasi seorang nenek tentang sebuah ciuman di atas atap.
Sebelum itu, sore harinya, dia menyempatkan diri mampir ke sayap timur, ke kolam besar tempat Ara menjalani hukuman istirahat totalnya, dan mendapati gadis itu duduk di tepi kolam dengan buku harian ibunya di pangkuannya dan kaki yang terendam air, dengan wajah orang yang sedang menghitung hari seperti tahanan yang menunggu pembebasannya.
“Hari keempat dari tiga puluh,” ucapnya, tanpa mengangkat wajah dari buku hariannya. “Vaza menghitungnya setiap pagi dengan ketelitian auditor kerajaan. Aku sudah mencoba menawarnya menjadi dua puluh hari, dan dia menatapku seperti aku baru saja mengusulkan untuk membunuhnya.”
“Dia benar untuk menatapmu seperti itu.” Judas duduk di sampingnya di tepi kolam itu, melepas sepatunya, dan merendamkan kakinya ke dalam air yang sama tanpa satu pun izin. “Kau hampir mati dua kali dalam satu malam di perairan tengah. Aku menghitungnya juga, Ara. Dua kali. Dan aku bukan orang yang suka menghitung hal-hal seperti itu, jadi kau bisa membayangkan betapa tidak sukanya aku dengan angka itu.”
Ara menoleh dan menatapnya, dan untuk sesaat, sesuatu yang lembut lewat di antara mereka di tepi kolam itu, di bawah langit sore yang berwarna jingga.
“Dua puluh sembilan hari lagi,” bisiknya. “Dan kemudian ke utara. Ke desa mereka. Kau akan ikut, kan?”
“Aku akan ikut,” jawab Judas, tanpa satu detik pun jeda. “Bahkan kalau aku harus belajar bernapas di dalam air untuk itu.”
“Kau tidak perlu bernapas di dalam air untuk itu. Kau hanya perlu mempercayaiku.”
“Hal yang sama,” jawabnya pelan. “Sudah sejak malam pertama.”
Dan di sisi lain istana, di ruang kerja Ratu Moana, Judas sedang menghadapi interogasi yang jauh lebih menakutkan dari semua interogasi yang pernah dia hadapi di ruang hitam: interogasi seorang nenek tentang sebuah ciuman di atas atap.
“Jadi,” ucap Ratu Moana, dengan teh di tangannya dan senyum yang sudah terpasang sejak Judas masuk ke ruangan itu, “kau mencium cucu Raja Canis Major di atas atap istana kita, di bawah langit yang sama yang menyaksikan semua kebodohanmu selama dua puluh delapan tahun, dan kau berpikir berita seperti itu tidak akan sampai ke telinga nenekmu dalam waktu kurang dari dua jam?”
Judas berdiri di depan meja neneknya dengan postur seorang terdakwa, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak punya satu pun kalimat pongah untuk membela dirinya.
“Aku tidak pernah berpikir untuk menyembunyikannya, Nek.”
“Bagus. Karena kalau kau berpikir untuk menyembunyikannya, kau akan berhadapan dengan dua masalah sekaligus.” Ratu Moana menyesap tehnya dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari wajah cucunya. “Sekarang katakan padaku dengan jujur, Judas Ellington, dan ingat bahwa aku sudah mengenalmu sejak kau masih berada di dalam perut ibumu. Ini hal yang serius, atau ini hanya satu lagi dari permainan-permainanmu dengan para wanita?”
Ruangan itu hening sejenak. Dan Judas menjawab dengan suara yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, karena betapa tenang dan betapa utuhnya jawaban itu keluar dari dalam dirinya.
“Ini hal yang paling serius dalam hidupku, Nek. Tidak ada satu pun hal lain yang pernah mendekatinya.”
Ratu Moana menatapnya lama, sangat lama, dan kemudian dia meletakkan cangkir tehnya perlahan dan berdiri dari kursinya, dan berjalan ke arah cucunya itu dengan langkah-langkah yang sudah tidak lagi menyimpan satu pun niat untuk menginterogasi.
“Kalau begitu, dengarkan nasihat seorang nenek yang sudah menyaksikan terlalu banyak orang bodoh kehilangan hal-hal baik dalam hidup mereka,” ucapnya pelan, menggenggam lengan Judas dengan tangannya yang tua. “Jangan membuatnya menunggu terlalu lama untuk mengetahui bahwa kau serius. Perempuan seperti dia tidak menunggu, Jud. Mereka bukan perempuan-perempuan yang biasa kau kejar dan tinggalkan. Mereka adalah laut yang berdiri tegak di depanmu dan menantangmu untuk berani berenang ke dalamnya. Dan kalau kau sudah memutuskan untuk berenang, berenanglah sampai ke dasarnya, atau jangan berenang sama sekali.”
“Aku sudah di dasarnya, Nek,” jawab Judas pelan. “Sudah sejak malam dia menarikku keluar dari mobil yang tenggelam itu.”