Pembicaraan resmi tentang masa depan itu berlangsung seminggu kemudian, di ruang pertemuan kecil istana Monaghan, dengan meja bundar yang hanya diisi oleh empat orang: Ratu Moana, Raja Canis Major, Judas, dan Ara.
Yang membukanya adalah Raja Canis Major, dengan secarik dokumen di tangannya dan dengan wajah seorang raja yang sudah belajar untuk tidak pernah lagi menghindari percakapan-percakapan sulit di dalam hidupnya.
“Sebelum dua kerajaan ini melangkah lebih jauh ke dalam kerjasama apapun,” ucapnya, meletakkan dokumen itu di atas meja, “ada satu masalah kecil yang harus kita bicarakan secara resmi, karena masalah ini sudah tidak bisa lagi disebut masalah kecil. Cucuku adalah putri resmi kerajaan Osmod, terdaftar dalam garis takhta kerajaanku. Dan cucumu adalah putra mahkota kerajaan Monaghan, pewaris langsung takhta kerajaanmu. Dua orang yang berdiri di garis dua takhta yang berbeda, yang sekarang sedang jatuh cinta di depan mata seluruh benua.”
“Kek, ini bukan—” Ara memulai, tapi kakeknya mengangkat tangannya dengan lembut untuk menghentikannya.
“Aku tidak mengatakan ini untuk melarang kalian, Arandelle. Aku sudah menghabiskan sisa hidupku untuk memperbaiki satu kesalahan besar yang kubuat ketika aku melarang ibumu mencintai pria pilihannya. Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama dua kali.” Raja Canis Major menatapnya dengan tatapan yang sudah tidak menyembunyikan apa pun. “Aku mengatakannya karena dua takhta yang berdiri di dalam satu hubungan memerlukan percakapan yang jujur, dan percakapan itu harus diadakan sekarang, ketika kita semua masih bisa memilih kata-katanya dengan baik, bukan nanti ketika keadaan sudah memilih kata-katanya untuk kita.”
Ratu Moana mengangguk pelan dari sisi meja yang lain.
“Canis benar. Dan karena itu, aku akan memulai dengan pertanyaan yang paling penting dari semuanya, dan aku ingin jawaban yang jujur dari kalian berdua, bukan jawaban yang romantis.” Dia menatap Judas, lalu Ara, bergantian. “Takhta. Dua takhta itu. Apa yang kalian berdua inginkan darinya, sungguhan, tanpa memikirkan apa yang diinginkan oleh orang-orang di sekeliling kalian?”
Judas menjawab lebih dulu, dan jawabannya keluar tanpa satu detik pun keraguan.
“Aku tidak pernah menginginkan takhta itu, Nek. Tidak sejak aku berusia sembilan tahun dan melihat apa yang dilakukannya kepada orang-orang di sekitarnya. Aku menerima posisiku karena aku terlahir di dalamnya, bukan karena aku memilihnya. Tapi—” dia mengangkat tangannya sebelum neneknya berbicara, “—tapi aku juga tidak akan lari darinya. Aku sudah menghabiskan dua puluh delapan tahun melihat apa yang terjadi ketika orang-orang yang salah duduk di atas takhta. Kalau suatu hari nanti aku harus duduk di sana, aku akan duduk di sana dan memastikan tidak ada satu pun Baron lain yang pernah lahir di kerajaan ini lagi. Itu bukan keinginan. Itu tanggung jawab. Dan aku sudah berhenti lari dari tanggung jawabku sejak lama.”
Ratu Moana menatap cucunya untuk waktu yang lama, dan sesuatu yang dalam dan bangga lewat di wajahnya yang tua, seperti matahari yang lewat sebentar di balik jendela.
Dan Ara menjawab setelahnya, dengan suara yang lebih pelan tapi tidak kalah tegarnya.
“Aku tidak pernah menginginkan apa pun selain lautku, Kek. Kalian berdua tahu itu. Aku menerima nama Tarrigan kembali karena itu hak ibuku, bukan karena aku menginginkan gelarnya. Tapi kalau nama itu datang dengan tanggung jawab untuk kerajaan ibuku, maka aku akan membawanya, dengan cara yang sama yang diajarkan oleh ibuku: dengan mencintai lautnya dan orang-orangnya lebih dari aku mencintai gelar apa pun.” Dia berhenti sejenak, dan tatapannya beralih ke Judas di seberang meja. “Dan tentang kami berdua ... aku tidak tahu bentuknya nanti akan seperti apa. Tapi aku tahu bahwa aku tidak akan melepaskannya karena dua takhta menyulitkannya. Aku sudah menghabiskan enam belas tahun membiarkan orang lain memutuskan hidupku untukku. Aku sudah selesai dengan itu.”
Raja Canis Major dan Ratu Moana saling berpandangan di seberang meja itu, dan dua raja tua itu tersenyum kepada satu sama lain dengan senyum orang-orang yang sudah mengetahui jawaban itu sejak jauh sebelum mereka menanyakannya.
“Kalau begitu, dengarkan keputusan dua raja tua yang sudah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memikirkan hal ini,” ucap Ratu Moana. “Kalian berdua tidak akan dipaksa untuk memilih antara satu sama lain dan takhta-takhta kalian. Osmod dan Monaghan akan menjalin kerjasama resmi yang mengakui hubungan kalian berdua sebagai bagian dari masa depan dua kerajaan, dengan semua konsekuensi dan perlindungan yang datang bersamanya. Bukan karena kami ingin mengatur hidup kalian. Tapi karena kami sudah belajar, dengan harga yang sangat mahal, bahwa cinta yang diperjuangkan di tempat terbuka selalu lebih kuat dari cinta yang disembunyikan di balik pintu-pintu istana.”
“Dan satu lagi,” tambah Raja Canis Major, menatap Judas dengan tatapan yang sudah berubah menjadi tatapan seorang kakek yang sedang menilai calon anggota keluarganya, bukan menilai seorang pangeran tamu. “Pangeran Judas. Aku sudah mendengar banyak hal tentangmu, dan tidak semuanya adalah hal-hal yang bisa diceritakan di meja makan. Tapi aku juga sudah menyaksikan sendiri apa yang kau lakukan untuk cucuku di perairan tengah, dan untuk kerajaanku ketika kau tidak punya kewajiban apa pun untuk melakukannya. Jadi aku hanya akan bertanya satu hal kepadamu, dan aku ingin jawabanmu dengan kata-kata, seperti yang selalu kau gunakan.”
Judas berdiri dari kursinya, dan menjawab dengan suara oratornya yang sudah lama tidak dia gunakan untuk hal-hal yang paling penting dalam hidupnya.
“Yang Mulia. Aku mencintai cucu Yang Mulia lebih dari aku mencintai semua yang kumiliki di dunia ini digabungkan menjadi satu. Aku tidak datang untuk meminta izin, karena dia bukan milik siapa-siapa yang izinnya bisa kuminta. Tapi aku datang untuk memberitahu, dengan segala hormat, bahwa aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk memastikan bahwa dia tidak akan pernah lagi berdiri sendirian menghadapi apa pun. Itu bukan janji seorang pangeran kepada seorang raja. Itu janji seorang laki-laki kepada kakek dari perempuan yang dicintainya.”
Raja Canis Major menatapnya lama, dan kemudian dia mengangguk, satu kali, dengan mata yang sudah mulai basah di sudut-sudutnya.
“Jawaban yang benar,” ucapnya pelan. “Persis seperti jawaban yang seharusnya kudengar dari mulut ayahnya, bertahun-tahun yang lalu, kalau saja aku cukup bijak untuk mendengarkannya.”
Ketika pertemuan itu selesai dan dua orang muda itu sudah meninggalkan ruangan, dua raja tua itu duduk berlama-lama di meja bundar yang sama dengan dua cangkir teh yang sudah dingin, dengan wajah-wajah orang yang sudah tidak lagi membutuhkan kata-kata untuk berbicara satu sama lain.
“Kita sudah tua, Moana,” ucap Raja Canis Major akhirnya, dengan senyum yang lelah dan hangat dalam waktu yang sama. “Sudah terlalu tua untuk merencanakan pernikahan dua kerajaan di satu sore.”
“Kita tidak merencanakan apa-apa, Canis. Kita hanya memastikan bahwa kali ini, tidak ada satu pun pintu istana yang tertutup untuk mereka berdua. Anak-anak itu yang akan menulis sisanya sendiri.” Ratu Moana menyesap tehnya yang sudah dingin tanpa mengeluh sedikit pun. “Dan kurasa mereka akan menulisnya dengan lebih baik dari yang pernah kita tulis, karena mereka sudah membuktikan bahwa mereka lebih berani dari kita dalam satu hal yang paling penting: mereka berani memilih satu sama lain di tempat terbuka, di depan seluruh dunia, tanpa satu pun persembunyian.”
Raja Canis Major mengangguk pelan, menatap ke arah pintu tempat dua orang itu keluar tadi.
“Untuk Sarella,” ucapnya pelan.
“Untuk Sarella,” jawab Ratu Moana, mengangkat cangkirnya sedikit. “Dan untuk semua yang seharusnya sudah kita lakukan lebih awal.”
Mereka minum bersama dalam keheningan yang hangat itu, dua raja tua yang sudah kehilangan terlalu banyak untuk kehilangan satu hal lagi, dan di luar jendela, langit Monaghan berubah perlahan menjadi warna emas sore yang panjang.