Judas turun ke ruang hitam untuk terakhir kalinya pada hari Kamis itu, dengan Josh di sampingnya dan dengan dua pekerja yang membawa peralatan pembongkaran di belakang mereka.
Ruangan bawah tanah di rumah peternakan di utara Nemville itu masih sama seperti terakhir kali dia meninggalkannya: sangkar besi di tengahnya, meja dan kursi tempat dia menyaksikan pertunjukan-pertunjukannya, dinding-dinding yang tidak pernah dicat dan tidak pernah perlu dicat. Ruangan yang sudah menjadi rumah bagi sisi tergelap dirinya selama bertahun-tahun, ruangan yang sudah menyaksikan hal-hal yang tidak akan pernah bisa dia ceritakan kepada siapa pun di luar tembok-temboknya.
“Bongkar semuanya,” perintahnya, dan suaranya tidak bergetar sedikit pun. “Sangkarnya, mejanya, alat-alatnya, semuanya. Ruangan ini ditutup mulai hari ini. Dan aku ingin dindingnya diratakan dengan tanah sebelum akhir bulan.”
Dua pekerja itu mulai bekerja tanpa satu pun pertanyaan. Josh berdiri di sampingnya di tengah ruangan itu, memandangi sekelilingnya dengan tatapan yang sulit dibaca bahkan oleh Judas yang sudah mengenalnya bertahun-tahun.
Di lantai atas, keluarga Parker dan Howkin berdiri di beranda rumah mereka dengan wajah-wajah yang tidak tahu harus merasa apa. Dua keluarga yang sudah bertahun-tahun menjaga tempat ini dengan seluruh hidup mereka, yang anak-anak mereka tumbuh besar dengan mengetahui bahwa ada bagian dari peternakan ini yang tidak boleh mereka dekati, dan yang sekarang menyaksikan bagian itu dibongkar di depan mata mereka sendiri. Judas sudah memerintahkan Josh untuk memastikan mereka berdua dan keluarga mereka tidak kehilangan apa pun dari penutupan ini: rumah-rumah mereka tetap menjadi milik mereka, pekerjaan mereka di peternakan kuda itu tetap berjalan, dan satu-satunya yang berubah adalah bahwa tidak ada lagi bagian dari hidup mereka yang harus mereka jaga dengan rasa takut.
“Tuan Parker bertanya kepada saya tadi pagi, apakah dia melakukan sesuatu yang salah sehingga Tuan menutup tempat ini,” lapor Josh pelan. “Dia takut Tuan menutupnya karena kecewa dengan pengabdiannya selama ini.”
“Dan apa jawabanmu?”
“Saya katakan yang sebenarnya: bahwa Tuan menutupnya bukan karena mereka gagal menjaganya, tapi karena Tuan tidak lagi membutuhkan apa yang ada di dalamnya. Dan bahwa pengabdian keluarga mereka adalah satu-satunya hal di tempat ini yang tidak akan ikut dibongkar.” Josh berhenti sejenak. “Dia menangis, Tuan. Pria yang sudah menjaga ruangan itu selama dua puluh tahun tanpa pernah bertanya apa-apa, dan dia menangis di berandanya karena satu kalimat penghargaan pertama yang pernah didengarnya.”
Judas diam untuk waktu yang lama setelah itu, dan ketika dia berbicara lagi, suaranya sudah berubah menjadi lebih rendah.
“Catat nama keluarga mereka dalam daftar perlindungan kerajaan, Josh. Permanen. Untuk mereka dan untuk anak-anak mereka. Itu perintah.”
“Sudah saya catat sejak kemarin, Tuan. Sebelum Tuan memerintahkannya.”
Untuk sesaat, Judas menatap sekretarisnya itu dengan tatapan yang sudah lama tidak berbentuk apa pun selain rasa terima kasih yang tidak diucapkan, dan Josh menjawabnya dengan anggukan kecil yang sudah menjadi bahasa mereka berdua sejak bertahun-tahun.
“Ada yang ingin kau katakan?” tanya Judas.
“Banyak, Tuan. Tapi tidak ada yang perlu.” Josh menatap sangkar besi yang sedang dibongkar itu sejenak, lalu kembali ke Judas. “Tuan yakin dengan ini? Ruangan ini sudah menjadi bagian dari cara Tuan bekerja sejak sebelum saya mengabdi. Orang-orang di luar sana mengenal Tuan karena tempat-tempat seperti ini. Ketakutan mereka terhadap tempat-tempat seperti ini adalah sebagian besar dari apa yang menjaga Tuan tetap aman selama bertahun-tahun.”
“Ketakutan yang kutebarkan adalah sebagian besar dari apa yang membuatku menjadi seperti Baron, Josh.” Judas menjawab tanpa menoleh, dengan matanya yang mengikuti pekerjaan pembongkaran itu dengan tatapan yang sudah mengambil keputusan sejak lama. “Aku sudah menghabiskan dua puluh tahun menjadi orang yang ditakuti oleh semua orang, dan aku tahu persis ke mana jalan itu berakhir. Jalan itu berakhir di sebuah aula di tengah laut, dengan sebuah detonator di tangan dan dengan tidak ada satu pun orang di dunia yang berdiri di sampingmu saat semuanya runtuh. Aku tidak mau berakhir seperti itu. Aku punya terlalu banyak hal untuk dipertahankan sekarang untuk berakhir seperti itu.”
Josh mengangguk pelan, dan untuk sesaat, sesuatu yang mirip dengan senyum yang tulus lewat di wajahnya yang biasanya datar itu.
“Dan serigala-serigala di halaman belakang, Tuan?”
“Kirim ke suaka margasatwa kerajaan di utara. Semuanya, tanpa terkecuali. Mereka hewan-hewan buas yang seharusnya tidak pernah dipaksa untuk menjadi alatku. Mereka layak hidup di tempat yang tidak mengharuskan mereka memakan manusia untuk bertahan hidup.” Judas berhenti sejenak. “Dan Josh. Catat semua nama keluarga-keluarga dari orang-orang yang pernah masuk ke ruangan ini dan tidak pernah keluar lagi. Semuanya yang masih bisa dilacak. Kirimi mereka kompensasi, diam-diam, tanpa nama pengirimnya. Itu tidak akan mengembalikan apa pun. Tapi itu satu-satunya hal yang masih bisa kulakukan untuk mereka sekarang, dan aku akan melakukannya.”
Josh mencatatnya tanpa mengatakan apa-apa, tapi dia mencatatnya dengan gerakan yang sedikit lebih pelan dari biasanya, gerakan orang yang sedang menyimpan satu momen penting di dalam ingatannya untuk diceritakan kembali suatu hari nanti.
Sebelum meninggalkan peternakan itu sore harinya, Judas berdiri sejenak di depan sangkar besi yang sudah separuh terbongkar, memandangi ruangan yang sudah menjadi saksi bisu tahun-tahun tergelap dalam hidupnya. Dia memikirkan Brenda yang menari di dalam sangkar itu dengan besi-besi yang membara di bawah kakinya. Dia memikirkan wajah-wajah lain yang sudah lewat di ruangan ini sebelum dan sesudahnya. Dan dia memikirkan seorang gadis kecil berusia sembilan tahun yang belajar untuk membunuh di sebuah kamar tidur di istana dan menghabiskan dua puluh tahun berikutnya membangun kerajaan dari ketakutan karena dia tidak pernah diajarkan cara lain untuk merasa aman.
“Aku bukan orang baik, Josh,” ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada sekretarisnya. “Aku tidak akan pernah menjadi orang baik. Ada terlalu banyak darah di tanganku yang tidak akan pernah bisa dicuci oleh siapa pun, termasuk oleh laut sekalipun. Tapi aku bisa memilih untuk tidak menambahnya lagi. Dan aku memilih untuk tidak menambahnya lagi.”
“Itu yang membuat Tuan berbeda dari orang-orang seperti Baron, Tuan,” jawab Josh pelan. “Bukan darah di tangan Tuan. Tapi keputusan untuk berhenti menambahnya. Orang-orang seperti Baron tidak pernah berhenti. Tuan berhenti. Itu satu-satunya perbedaan yang penting di dunia ini.”
Judas menatapnya sejenak, dan mengangguk kecil, dan berjalan keluar dari ruangan bawah tanah itu untuk terakhir kalinya dalam hidupnya, meninggalkan dua puluh tahun kegelapannya di dalamnya untuk diratakan dengan tanah bersama tembok-temboknya.
Dan malam itu, di teleponnya, sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah lama tidak pernah menghubunginya — nomor Frey, wanita bayaran yang dulu menjadi langganan tetapnya di Grand Peacock, dengan satu kalimat yang singkat dan jujur.
[Kudengar kau sudah menemukan seseorang. Semoga dia membuatmu bahagia dengan cara yang tidak pernah bisa kulakukan, Jud. Kau layak mendapatkan hal yang baik, meskipun kau tidak pernah percaya bahwa kau layak. — Frey]
Judas menatap pesan itu untuk waktu yang lama, dan membalasnya dengan satu kalimat yang juga singkat dan juga jujur.
[Terima kasih, Frey. Semoga kau juga menemukan hal yang baik. Kau juga layak, meskipun kau juga tidak pernah percaya bahwa kau layak.]
Dan dengan itu, satu bab terakhir dari kehidupan lamanya ditutup dengan damai, tanpa satu pun pintu yang dibiarkan terbuka di belakangnya.