Satu bulan kemudian, sesuai janji Vaza, Ara sembuh sepenuhnya — dan hal pertama yang dia lakukan dengan kekuatannya yang pulih itu bukanlah memanggil air untuk pekerjaan apa pun.
Hal pertama yang dia lakukan adalah mengajak Judas ke dalam dunianya.
“Kau yakin ini akan berhasil?” tanya Judas, berdiri di tepi dermaga kecil di utara Nemville dengan wajah orang yang sedang berusaha keras untuk tidak terlihat seperti orang yang sedang berusaha keras untuk tidak terlihat gugup. “Aku tidak bisa bernapas di dalam air, Ara. Itu satu-satunya perbedaan kecil antara kita yang kau sepertinya lupa.”
“Aku tidak pernah lupa apa pun tentangmu.” Ara berdiri di sampingnya dengan pakaian selamnya dan dengan senyum yang sudah dia simpan sejak seminggu yang lalu. “Aku tidak akan membawamu ke kedalaman. Hanya ke laguna dangkal di balik karang utara, dua belas meter di bawah permukaan, tempat desa mereka berdiri di bagian yang paling dangkal. Dan aku akan menjaga satu kantong udara tetap mengelilingimu selama kita di bawah sana — sebuah gelembung besar yang kubentuk dari air di sekitarmu, dengan udara yang cukup untuk dua puluh menit. Itu yang akan kulakukan dengan kekuatanku yang baru pulih, dan Vaza akan menjaga kita berdua dari samping kalau aku kelelahan.”
“Dua puluh menit di bawah air di dalam sebuah gelembung yang kau jaga dengan pikiranmu,” ulang Judas datar.
“Dua puluh menit,” jawab Ara. “Atau kita bisa tidak jadi pergi, dan aku akan menceritakan kepadamu tentang desa mereka dari atas permukaan seperti seorang turis yang membosankan.”
Judas menatapnya, dan kemudian mulai melepas jaketnya dengan gerakan orang yang sudah memutuskan sejak awal bahwa dia akan melakukan hal gila ini, betapa pun gila kedengarannya.
“Dua puluh menit, Nona. Dan kalau gelembungmu pecah, aku akan menghantui lautmu sampai ke dasar-dasarnya.”
“Ditambahkan ke daftar hal-hal yang membuatku ingin terus hidup,” jawab Ara, dan mereka melompat ke dalam air bersama-sama, bergandengan tangan, dengan Vaza yang sudah menunggu di bawah permukaan dengan jenggot panjangnya yang berkilau.
Sensasi pertama yang Judas rasakan adalah dingin yang menyelubunginya sepenuhnya — dan kemudian, tidak ada dingin sama sekali. Air di sekitarnya berhenti menyentuhnya. Sebuah lapisan tipis membentuk di sekeliling tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, sebuah gelembung besar yang memisahkannya dari laut yang mengelilinginya seperti membran yang hidup, dengan udara yang bersih dan bisa dihirup di dalamnya, dan dengan wajah Ara yang tersenyum kepadanya dari luar gelembung itu, berenang di sampingnya dengan gerakan yang tidak memerlukan satu pun alat bantu napas.
Mereka turun bersama-sama, bergandengan tangan melalui membran itu, ke dalam laguna karang di utara yang membuka di depan mereka seperti sebuah kota yang tersembunyi di dalam dunia yang tersembunyi.
Turun itu sendiri adalah pengalaman yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Judas seumur hidupnya. Cahaya matahari berubah dari putih menjadi biru kehijauan seiring mereka turun, mengalir melalui air di sekeliling gelembungnya seperti kaca-kaca patri yang bergerak. Ikan-ikan kecil berwarna perak bergerak dalam kawanan-kawanan besar yang berbelok serentak seperti satu makhluk raksasa, melewati mereka begitu dekat sehingga Judas bisa melihat matanya sendiri terpantul kecil-kecil di sisik-sisik mereka. Dan di bawah sana, karang-karang utara itu membentang seperti sebuah benua mini yang berwarna-warni, dengan bentuk-bentuk yang tidak pernah dia lihat di buku mana pun — karang yang bercabang seperti pohon-pohon raksasa, anemon-anemon yang bergerak pelan seperti bunga-bunga yang bernapas, dan cahaya-cahaya kecil yang berkerlip dari makhluk-makhluk yang bahkan tidak memiliki nama di kamus manusia mana pun.
Dua anak duyung kecil yang sedang bermain kejar-kejaran di antara pilar karang berhenti ketika mereka lewat, dan menatap gelembung udara yang membawa seorang manusia daratan ke dalam dunia mereka dengan mata yang membelalak besar, sebelum ibu mereka menarik mereka pergi dengan satu gerakan ekor yang cepat — sambil terus menoleh ke belakang dengan rasa penasaran yang sama besarnya dengan rasa penasaran dua anaknya.
“Mereka tidak pernah melihat manusia daratan sebelumnya,” ucap Ara, dengan suaranya yang terdengar jernih melalui membran itu dari luar gelembungnya. “Kau adalah pertunjukan terbesar di desa ini dalam seribu tahun terakhir, Jud. Bersiaplah untuk menjadi terkenal.”
Dan Judas melihatnya dengan matanya sendiri: desa duyung di bawah air, rumah-rumah yang dibangun dari karang-karang besar dan kerang-kerang raksasa yang berkilau dalam cahaya biru kehijauan yang turun dari permukaan, jalan-jalan air yang dilalui oleh duyung-duyung yang berenang hilir mudik dengan gerakan yang anggun dan tidak tergesa-gesa, anak-anak duyung kecil yang berkejaran di antara pilar-pilar karang dengan tawa yang terdengar seperti lonceng-lonceng kecil di dalam air, dan di tengah desa itu, sebuah alun-alun besar dengan sebuah bangunan tua yang menjulang seperti aula dari zaman yang sudah jauh lebih tua dari kerajaan mana pun di daratan.
Di depan bangunan tua itu, sekelompok duyung tua sudah menunggu — para tetua desa dengan jenggot-jenggot panjang dan ekor-ekor yang sudah berubah warna oleh usia, dan di depan mereka semua, seorang duyung perempuan tua dengan mata yang sudah sangat tua tapi masih menyala dengan cahaya yang tidak bisa dipadamkan oleh kedalaman berapa pun.
“Putri Arandelle,” ucap duyung perempuan tua itu, dan suaranya bergema di dalam air dengan berat ratusan tahun kehidupan di dalamnya. “Anak dari anak perempuan kami yang pergi ke daratan. Akhirnya kau pulang ke rumah yang sudah menunggumu sejak sebelum kau lahir.”
Ara membungkuk di dalam air, dengan tangan Judas yang masih tergenggam di tangannya, dengan air mata yang langsung menjadi bagian dari laut di sekitarnya.
“Dan kau membawa seorang tamu dari daratan,” lanjut duyung tua itu, menatap Judas di dalam gelembung udaranya dengan tatapan yang menilai tapi tidak menghakimi. “Seorang pangeran dari kerajaan permukaan. Yang pertama yang pernah berdiri di dalam desa ini sejak desa ini berdiri, ribuan tahun yang lalu.”
Judas membungkuk di dalam gelembungnya, dengan seluruh hormat yang bisa ditunjukkan oleh seorang pangeran kepada sebuah dunia yang bahkan tidak pernah dia bayangkan keberadaannya sebulan yang lalu.
“Suatu kehormatan yang tidak akan pernah bisa kubayar dengan apa pun, Yang Mulia,” ucapnya, dan suaranya terdengar aneh di dalam gelembung udaranya sendiri, seperti berbicara dari dalam sebuah lonceng.
Duyung perempuan tua itu menatap mereka berdua bergantian, lama sekali, dan kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak diperkirakan oleh siapa pun di sana: dia tersenyum, dengan seluruh keriput ratusan tahun di wajahnya ikut tersenyum bersamanya.
“Kalian berdua datang ke sini dengan tangan yang saling menggenggam,” ucapnya pelan. “Seperti dia dan laki-laki daratannya dulu. Seperti ibumu dan ayahmu kemudian. Laut kami tidak pernah berhenti bercerita tentang cinta-cinta yang berjalan menyeberangi dua dunia, dan kalian berdua adalah cerita yang ketiga dalam garis yang sama. Ikuti aku, Putri Arandelle. Ada banyak yang harus kuceritakan kepadamu tentang nenekmu, tentang garis darahmu, dan tentang mengapa laut sudah menunggumu jauh lebih lama dari yang pernah kau ketahui.”