Aula tua di tengah desa duyung itu dipenuhi oleh cahaya biru yang turun dari lubang-lubang kecil di langit-langitnya, dan di dalamnya, di depan sebuah dinding yang dipenuhi ukiran-ukiran tua yang menceritakan sejarah kaum laut dari zaman ke zaman, duyung perempuan tua itu — yang memperkenalkan dirinya sebagai Tetua Marena, penjaga ingatan desa — menceritakan kisah yang sudah menunggu Ara selama dua puluh tahun hidupnya.
“Nenekmu bernama Neyla,” ucap Tetua Marena, dan namanya bergema di dalam aula itu seperti nama yang sudah sangat lama tidak diucapkan keras-keras di tempat ini. “Anak perempuan dari tetua desa kami pada masanya, yang paling kuat dari generasinya, yang bisa memanggil air bahkan sebelum dia bisa berbicara. Dan satu-satunya dari kami yang pernah memilih untuk meninggalkan laut demi seorang manusia dari daratan.”
Ara duduk di lantai karang aula itu dengan Judas di sampingnya — di dalam gelembung udaranya yang sudah diperkuat oleh Vaza untuk kunjungan yang lebih panjang — dan mendengarkan dengan seluruh dirinya.
“Neyla bertemu dengan kakekmu di tepi pantai utara, di malam yang sama ketika dia seharusnya dinobatkan sebagai penjaga desa berikutnya. Seorang manusia muda dari keluarga nelayan, yang tersesat di karang-karang utara dalam badai, dan yang dia selamatkan dari tenggelam dengan tangannya sendiri.” Tetua Marena tersenyum kecil, senyum yang sudah menyimpan kisah ini selama berpuluh-puluh tahun. “Dia seharusnya melepaskannya begitu badai itu berlalu. Itu aturannya. Selamatkan, lepaskan, lupakan. Tapi dia tidak melakukannya. Dia terus kembali ke permukaan, malam demi malam, sampai suatu hari dia datang kepada ayahnya dan mengatakan bahwa dia memilih daratan. Bahwa dia memilih manusianya. Dan bahwa dia akan meninggalkan laut untuk selamanya, dengan kekuatannya yang akan tertidur di dalam tubuh manusianya sampai ke akhir hayatnya.”
“Kekuatannya tertidur?” tanya Ara, hampir berbisik.
“Orang-orang kami yang memilih hidup di daratan secara permanen akan kehilangan hubungan penuhnya dengan laut, Putri. Itu harga dari pilihan itu. Tubuh mereka berubah sepenuhnya menjadi tubuh manusia, dan kekuatan mereka tertidur di dalamnya, terkunci, tidak bisa digunakan lagi. Tapi kekuatan itu tidak pernah hilang, Putri. Ia hanya tidur, dan ia diwariskan, tidur di dalam darah, turun dari generasi ke generasi, menunggu satu anak yang lahir cukup dekat dengan laut untuk membangunkannya kembali.” Tetua Marena menatapnya dengan tatapan yang dalam. “Neyla mewariskannya kepada ibumu, Sarella — setengah tidur, setengah terjaga, karena Sarella lahir dari darah manusia yang lebih kuat. Dan Sarella mewariskannya kepadamu, Putri Arandelle — sepenuhnya terjaga, karena kau lahir dan tumbuh di tepi laut yang memanggilnya sejak hari pertama hidupmu. Kau adalah anak pertama dalam tiga generasi yang kekuatannya bangun sepenuhnya. Itu sebabnya para duyung di perairan Monaghan memanggilmu Putri sejak kau kecil. Mereka sudah mengenali siapa kau sebelum kau sendiri mengetahuinya.”
Ara duduk diam di lantai karang itu dengan tangan yang tanpa sadar memegang liontin kerang peraknya, dengan kepingan-kepingan besar yang jatuh ke tempatnya satu per satu di kepalanya: kekuatan ibunya yang tidak pernah dijelaskan, air yang selalu mendengarkannya sejak kecil, para duyung yang sudah mengetahui namanya sebelum dia tahu cara menyebutnya sendiri.
“Dan nenekku,” ucapnya pelan. “Neyla. Apa yang terjadi dengannya setelah dia pergi ke daratan?”
Tetua Marena diam untuk waktu yang lama, dan di dalam diam itu ada jawaban yang Ara sudah rasakan sebelum jawaban itu diucapkan.
“Dia hidup dengan bahagia bersama manusianya sampai manusianya itu dipanggil oleh kematian, dua belas tahun kemudian. Dan pada hari pemakamannya, setelah menyerahkan putri kecil mereka — ibumu, Sarella — kepada keluarga suaminya untuk dibesarkan di daratan, Neyla berjalan kembali ke laut utara di malam yang gelap, dan tidak pernah lagi terlihat oleh siapa pun di daratan.” Tetua Marena menatapnya dengan tatapan yang sudah menyimpan rahasia terakhirnya. “Tapi dia tidak mati, Putri Arandelle. Orang-orang kami yang kembali ke laut setelah bertahun-tahun di daratan tidak mati begitu saja. Mereka kembali menjadi bagian dari laut sepenuhnya — bukan sebagai duyung yang berenang seperti kami, melainkan sebagai sesuatu yang lebih tua dan lebih besar dari itu. Neyla ada di dalam air utara itu, Putri, di dalam setiap arus dan setiap ombaknya, dan dia sudah mengetahui tentangmu sejak lama. Dia yang mengirimkan arus untuk membawa Vaza menemukanmu di malam ketika kau pertama kali memanggil laut dari pantai Monaghan, bertahun-tahun yang lalu. Dia yang sudah menjagamu dari jauh, sejak hari pertama hidupmu, tanpa pernah kau ketahui.”
Ara menatap Tetua Marena itu dengan air mata yang sudah mengalir menjadi bagian dari laut di sekelilingnya, dan untuk waktu yang lama dia tidak bisa mengucapkan satu kata pun.
“Dia masih ada,” bisiknya akhirnya.
“Dia masih ada,” jawab Tetua Marena. “Dan suatu hari nanti, ketika kau sudah cukup kuat dan cukup bijak untuk berenang ke perairan utara, kau akan bisa memanggilnya, dan dia akan menjawab. Laut tidak pernah kehilangan anak-anaknya, Putri Arandelle. Laut hanya menunggu mereka pulang, dengan kesabaran yang lebih tua dari waktu itu sendiri.”
Judas, yang sudah mendengarkan seluruh kisah itu dari dalam gelembung udaranya dengan keheningan yang penuh hormat, merasakan tangan Ara mencari tangannya di dalam air dan menggenggamnya kuat, dan dia menggenggamnya kembali dengan seluruh kekuatan yang dia miliki, tanpa satu kata pun yang perlu diucapkan di antara mereka.
Di perjalanan pulang ke permukaan, mereka berhenti sejenak di tepi laguna, di sebuah karang besar yang datar menghadap ke utara, dan Ara duduk di sana dalam keheningan yang panjang dengan matanya yang menatap ke arah perairan gelap yang membentang di depannya. Perairan utara. Perairan tempat neneknya berjalan masuk ke dalam laut di malam yang gelap dua belas tahun setelah kebahagiaannya berakhir di daratan, dan tidak pernah kembali — karena dia tidak pernah benar-benar pergi.
“Aku bisa merasakannya sekarang,” bisiknya, lebih kepada laut di depannya daripada kepada Judas yang duduk di sampingnya. “Samar sekali, seperti denyut yang sangat jauh. Tapi ada. Di sana, di utara, ada sesuatu yang berdenyut dengan irama yang sama dengan iramaku. Aku sudah merasakannya sejak kecil, dan aku selalu mengira itu hanyalah suara laut yang biasa. Ternyata itu dia. Ternyata itu dia sejak awal.”
“Suatu hari nanti, kita akan pergi ke sana bersama,” jawab Judas pelan. “Kau akan memanggilnya, dan dia akan menjawab, dan aku akan berdiri di sampingmu ketika itu terjadi. Itu janjiku, Ara. Dengan kata-kata.”
Dan di atas permukaan, jauh di utara, di perairan yang sudah sangat lama tidak dikunjungi oleh siapa pun, sebuah arus hangat bergerak pelan ke arah selatan, seolah-olah laut itu sendiri sedang tersenyum.