Selama tiga hari Yuda mengamati. Ia berpura-pura bekerja, menggotong ikan ke sana kemari, tetapi matanya selalu mencuri pandang ke dermaga utara, ke kapal berlayar hitam yang awaknya turun naik membawa muatan. Ia menghafal pola mereka: kapan mereka pergi ke kedai, kapan mereka kembali, dan jam-jam ketika geladak kapal nyaris kosong menjelang dini hari.
Naga Senja akan berlayar pada malam keempat. Yuda mendengarnya dari dua awak yang bercakap di pasar, suara mereka kasar dan penuh logat asing. "Kapten bilang air pasang tengah malam. Siapa yang telat, ditinggal."
Maka Yuda memutuskan. Malam itu, ia tidak pulang.
Ia mengemas sedikit barang ke dalam buntalan kain: roti keras, sebotol air, pisau lipat, dan tentu saja kompas ayahnya. Ia menatap kamar kecilnya yang pengap untuk terakhir kali, lalu menyelinap keluar ke dalam malam yang berbau hujan.
Dermaga utara gelap gulita. Kabut tebal naik dari air, menelan cahaya bulan. Yuda merayap di antara tumpukan peti dan tong, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut suaranya terdengar. Naga Senja menjulang di hadapannya, lebih besar dari yang ia kira dari kejauhan. Lambungnya yang hitam basah oleh embun, dan ukiran kepala naga di haluannya menyeringai padanya dengan mata kayu yang kosong.
Sebuah peti besar sedang dinaikkan ke geladak dengan derek. Yuda menunggu. Ketika awak yang menjaga berbalik untuk meneriaki sesuatu pada temannya, Yuda berlari rendah, menyusup di balik tumpukan barang yang akan diangkut, dan dengan satu lompatan yang membuat napasnya tertahan, ia bergelung di dalam sebuah peti rotan yang setengah terbuka, penuh gulungan tali.
Derek menyentak. Peti terangkat. Perut Yuda terasa naik ke tenggorokan saat ia terayun di udara, lalu mendarat dengan debam di geladak. Ia menahan rintihan. Tali-tali kasar menggores wajahnya, tetapi ia tidak bergerak.
Langkah-langkah berat lewat di dekatnya. Suara-suara. "Muatan terakhir sudah naik?" "Sudah, Bos Boru. Tinggal nunggu kapten." Lalu derak kayu, gemeretak rantai jangkar, dan tiba-tiba seluruh dunia bergerak. Kapal melepas dari dermaga.
Yuda mengintip dari celah peti. Pelabuhan Tanjung Garam menjauh, lampu-lampunya mengecil menjadi titik-titik emas dalam kabut, lalu lenyap sama sekali. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berada di laut lepas. Di sekelilingnya hanya ada kegelapan air dan langit, dan deru angin yang mengembangkan layar hitam di atasnya.
Ia seharusnya takut. Tetapi yang ia rasakan adalah euforia yang nyaris membuatnya tertawa keras.
Geladak ramai oleh awak yang bekerja. Yuda menghitung sedikitnya tiga puluh orang, mungkin lebih. Mereka kasar, berotot, dengan kulit terbakar matahari dan bekas luka di mana-mana. Beberapa berteriak perintah dalam bahasa yang setengah ia mengerti. Seorang lelaki bertubuh raksasa dengan jenggot dikepang berdiri di tengah, mengaum perintah, dan Yuda menebak itulah "Bos Boru" yang disebut tadi, sang juru mudi kepala.
Lalu suasana berubah.
Semua suara berhenti. Awak yang tadinya sibuk tiba-tiba diam, menunduk, atau menyibukkan diri dengan tugas mereka tanpa berani menengadah. Dari arah anjungan belakang, sebuah sosok berjalan turun. Tinggi, ramping, mengenakan mantel panjang berwarna biru tua yang berkibar pelan ditiup angin laut. Wajahnya separuh tersembunyi di balik topi lebar, tetapi Yuda bisa melihat kilau matanya bahkan dari kejauhan, sedingin dan setajam mata elang.
Kapten Surya.
Yuda menahan napas. Sang kapten berhenti di tengah geladak, memandang ke laut, dan untuk sesaat seolah seluruh kapal tunduk pada kehadirannya. Bahkan angin terasa lebih sopan.
"Arah barat daya," kata Kapten Surya. Suaranya tidak keras, tetapi membawa berat yang membuat setiap orang bergerak. "Kita kejar bintang sebelum bulan tenggelam."
Yuda menelan ludah dalam persembunyiannya. Ia telah berhasil. Ia berada di kapal bajak paling ditakuti di tujuh samudra. Tetapi saat ia memandang punggung sang kapten yang menjauh, dan wajah-wajah keras para awak, sebuah pikiran dingin merayap di benaknya.
Ia berhasil naik. Sekarang ia harus bertahan hidup di atasnya. Dan ia tidak punya rencana sama sekali untuk bagian itu.