Keesokan hari setelah melewati malam yang menghujani dirinya, Safya kembali mengalami demam tinggi. Tidak seperti penilaian orang bahwa ia adalah wanita yang terlihat kuat dari luarnya. Kini fisiknya juga mudah sakit karena jiwa yang rapuh akan cinta. Rama merawat istrinya itu dari malam hingga pagi menjelang. Terkadang Safya mengigau hingga mendesahkan suara kesedihan yang tak disadarinya. Rama pun menyeka tangan dan kaki istrinya yang mengalami demam dengan kompres hangat. Ia melirik pada cincin kawin yang dulu dipakaikan pada jari manis sang Istri. Kilau emasnya tidak berubah sama sekali. Akan tetapi cinta Rama yang dulu mulai bersemi, kini justru mulai kandas di tengah jalan hidup yang ditapaki.
Pria itu merapikan pakaian formal yang dikenakan dengan setelan dasi panjang dan berwarna