Selama tiga hari Maharani mencoba meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang aneh. Ia bekerja seperti biasa: menimbang bayi di posyandu, mengantar vitamin ke rumah-rumah, mengecek tekanan darah Wak Minah yang tak pernah mau berhenti makan gulai. Ia bahkan menusuk jarinya sendiri dengan jarum lanset dan memeriksa kadar hemoglobinnya dengan alat sederhana di poskesdes. Hasilnya normal. Tidak ada anemia. Tidak ada alasan medis untuk apa pun yang dirasakannya.
Maka pada hari keempat, ketika hujan kembali turun dan kampung menjadi sunyi, Maharani melakukan sesuatu yang sudah tiga tahun ia hindari. Ia membuka kamar neneknya.
Kamar itu masih seperti saat Rukiah meninggalkannya: dipan kayu rendah, kelambu yang menguning, lemari pakaian dari kayu surian yang berbau kapur barus. Maharani membersihkan banyak sudut rumah ini setelah neneknya wafat, tetapi kamar ini tak pernah disentuhnya, seakan ada larangan tak tertulis yang masih berlaku bahkan setelah kematian.
Seumur hidupnya, larangan adalah bahasa yang dipakai neneknya untuk mengasuhnya. Jangan ke hutan kalau bulan sedang penuh, Rani. Jangan sekali-kali minum dari mata air di balik bukit—biar haus mati pun jangan. Jangan tidur menghadap utara. Jangan keluar kalau kau mencium bau melati di malam yang tak ada melatinya. Maharani kecil pernah bertanya kenapa, dan dijawab dengan tamparan pelan di mulut—bukan karena marah, melainkan ketakutan. Ia ingat tangan neneknya gemetar setelah menampar. Ia ingat neneknya memeluknya erat-erat malam itu dan berbisik, "Jangan tanya. Selama kau tak tahu, kau aman."
Kini Maharani mengerti bahwa ketidaktahuan itu adalah hadiah yang sengaja diberikan kepadanya. Dan ia hendak mengembalikannya.
Di dasar lemari, di balik tumpukan kain batik lama, ada sebuah peti kecil dari kayu hitam yang dikunci dengan gembok berkarat. Maharani sudah pernah melihat peti ini sekali, bertahun lalu, ketika ia masih kecil dan mengintip dari celah pintu. Neneknya sedang berbicara kepada peti itu—berbicara, seolah benda mati itu bisa mendengar—dengan suara serak penuh kepedihan. Maharani tak pernah lupa kalimat yang ia tangkap malam itu: "Cukup aku saja. Jangan dia. Jangan cucuku."
Gembok itu mudah patah, sudah rapuh dimakan waktu. Di dalam peti, terbungkus kain putih yang sudah kusam, Maharani menemukan dua benda.
Yang pertama sebuah kalung. Tali ijuk yang dipilin rapi, dan tergantung di tengahnya, sebuah taring. Bukan taring babi atau anjing. Maharani sudah cukup banyak melihat tulang untuk tahu bahwa ini taring kucing besar—melengkung, runcing, sepanjang ruas jarinya, berwarna kuning gading dengan akar yang menghitam. Taring harimau. Ketika kulitnya menyentuh permukaan taring itu, sebuah getaran halus menjalar ke lengannya, dan untuk sesaat ia mendengar—atau mengira mendengar—deru napas berat di telinganya, lambat dan dalam, seperti binatang besar yang sedang tidur dan baru saja membuka satu mata.
Ia hampir menjatuhkan kalung itu.
Benda kedua adalah secarik kertas yang dilipat berkali-kali, hampir hancur di lipatannya. Maharani membukanya dengan hati-hati. Tulisan tangan neneknya, tetapi bukan dalam bahasa yang ia kenal sebagai bahasa sehari-hari. Aksara dan kata-kata yang terdengar tua, mantra yang ditulis untuk diingat, bukan untuk dipamerkan. Sebagian besar tak ia pahami, tetapi satu baris ditulis lebih besar, dengan tinta yang lebih tebal, seakan ditekankan: Yang menjelma untuk menolong, kehilangan. Yang menolak menjelma, membiarkan mati. Pilih dengan ingat, sebab ingatan itulah harganya.
Maharani membaca baris itu berulang-ulang sampai kata-katanya kehilangan bentuk. Ingatan itulah harganya. Ia tidak mengerti, dan ia takut bahwa suatu saat ia akan mengerti.
Ketukan keras di pintu depan membuatnya hampir berteriak.
Ia menyembunyikan kalung dan kertas itu di balik bajunya, lalu bergegas keluar. Di beranda, basah kuyup, berdiri anak Pak Lurah dengan wajah pucat pasi.
"Bi Maharani, cepat. Di kebun sawit blok tujuh. Ada orang."
Mereka berlari menembus hujan. Di tepi perkebunan, di mana barisan sawit muda bertemu dengan sisa-sisa hutan yang belum sempat ditebang, sekelompok orang sudah berkerumun di bawah terpal seadanya. Mereka menyibak ketika Maharani datang, dan untuk pertama kalinya dalam kariernya, Maharani berharap dirinya datang terlambat agar tak perlu melihat.
Seorang lelaki tergeletak di lumpur. Maharani mengenalinya—Jumadi, perambah dari kampung seberang yang sering masuk-keluar hutan mencari kayu dan tanah untuk diperjualbelikan. Tubuhnya utuh, tidak dimangsa. Tetapi lehernya. Lehernya terkoyak oleh empat goresan sejajar, dalam dan bersih, seperti sapuan tangan raksasa berkuku besi. Tanah di sekelilingnya merah.
Maharani berlutut, jari-jarinya mencari denyut yang ia tahu tak akan ada. Kulit Jumadi sudah dingin. Sudah beberapa jam. Mata bidan dalam dirinya bekerja meski perutnya bergolak: luka itu bukan dibuat senjata, tukasnya dalam hati, tepiannya tak rata seperti pisau. Ini cakar. Empat cakar. Dan jaraknya—ia merentangkan jarinya sendiri tanpa sadar membandingkan—jaraknya terlalu lebar untuk harimau biasa.
Di sekelilingnya, orang-orang sudah mulai berbisik tentang gadungan, tentang Inyiak yang murka karena hutannya dirampas, tentang darah manusia pertama yang tumpah di tanah Talang dalam puluhan tahun. Maharani hampir tak mendengar mereka. Sebab di tengah hujan, berlutut di samping mayat seorang lelaki yang lehernya dirobek, ia menyadari satu hal yang membekukan darahnya lebih dingin daripada air hujan yang mengguyur punggungnya.
Malam ketika Jumadi mati—malam yang menurut bisik-bisik terjadi dua hari lalu—Maharani tidak ingat berada di rumah. Ia ingat tidur. Ia ingat terbangun lelah luar biasa dengan kaki pegal seolah berjalan jauh. Tetapi di antara dua hal itu, ada lubang hitam yang rapi, dan untuk pertama kalinya ia memaksa dirinya menatap lubang itu, dan tidak menemukan apa pun di dalamnya selain ketakutan.