Abizar terkejut bukan main, ia segera berlari menghampiri istrinya.
“Jelita, ada apa? kenapa kau berteriak?” tanya Abizar cemas, ia menggenggam tangan Jelita dan menatapnya lembut.
“Bayi…bayiku di mana, kenapa perutku rata? Mereka telah mengambil bayiku, bayiku telah hilang… tidak…!” Jelita menangis tersedu-sedu. Abizar meraih tubuh Jelita dan memeluknya dengan lembut.
“Bayimu masih ada, Jelita. Dia sehat, jadi jangan khawatir, ya?” ucap Abizar sambil terus mengelus lembut lengan istrinya itu.
Tangis Jelita berhenti saat mendengar ucapan Abizar, ia menatap suaminya dengan tatapan bingung.
“Apa maksudmu, Pak? ba-bayiku masih hidup? Di mana? Di mana dia, Pak!” Jelita ingin beranjak dari tempat tidur, tapi Abizar menahannya.
“Tenanglah, kau bisa melihatnya tapi nanti. Setelah kau sudah