Abizar mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia masih terus berpikir apa yang akan dilakukan Jovanka pada keluagarnya kelak. Ia sangat yakin kalau Jovanka akan melakukan apa pun untuk membalas dendam. Apa yang harus ia lakukan?
“Apa aku harus berbicara baik-baik kepada wanita itu? tapi bagaimana kalau dia bersikeras tidak ingin berpisah denganku?” Abizar kembali menghela nafas panjang.
Mobil masuk ke dalam parkiran rumah sakit. Abizar turun dari mobil dan langsung melangkah menuju ruangan perawatan Jelita. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya.
Begitu sampai di depan pintu ruangan, Abizar pun langsung membuka pintu dengan senyum mengembang.
“Sayang, aku sudah da…” kalimatnya menggantung karena ia melihat Bima. Pemuda itu tersenyum ceria. Bukan hanya itu, omanya pu