Bima tidak menjawab pertanyaan Kinan, pemuda itu hanya terus menatap sampai perempuan yang ia lihat itu menghilang. Kinan menyentuh tangan Bima membuat pemuda itu menoleh ke arahnya. Ia menatap Kinan dengan tatapan bingung.
“Kenapa?” tanyanya.
Kina memutar bola matanya. “Justru aku yang harusnya bertanya kepada Kakak, siapa perempuan tadi, kenapa Kakak menatapnya sampai seperti itu? atau jangan-jangan….” Kinan menggantung kalimat dan menatap Bima penuh selidik.
Bima tersenyum lalu mengacak rambut sepupunya itu. “Apa kau mau menunggu di sini sebentar? aku ingin ke sana,” tanya Bima.
“Kakak mau mendatangi gadis yang kakak taksir itu?” tanya Kinan penasaran.
“Bukan seperti itu ceritanya, jangan bicara yang bukan-bukan. Aku hanya ingin memastikan sesuatu, kau tungggu sebentar dan jangan