Setelah merasa kenyang, Jelita pun kembali ke atas dan masuk ke kamarnya. Ia betah sekali berada di dalam kamarnya. Ia selalu ingin melihat wajah polos dari bayinya itu. Rasanya tidak ada sumber kebahagiaan lain selain menatap wajah bayinya itu. Ia tidak ingin yang lain lagi, selama ia dan bayinya bersama, tidak ada yang perlu ia khawatirkan.
Jelita pun merebahkan tubuhnya, rasa penat dan lelah langsung menghilang begitu kepalanya menyentuh bantal. Rasanya ia ingin sekali tertidur, tapi bagaimana kalau bayinya terbangun nanti dan dia tidak sadar.
“Aku akan tidur sebentar saja,” gumannya. Karena rasa kantuk yang menyerang dan letih yang mendera, Jelita pun tertidur dengan sangat lelap.
Suara bel tiba-tiba berbunyi, Bi sumi yang sedang di dapur keluar untuk melihat siapa yang datang. Kal