“Apa yang kau ucapkan itu, Pak?” wajah Jelita berubah tegang. Ia merasa ucapan Abizar tadi memiliki maksud tertentu dan itu membuatnya cemas. Apa yang dipikirkan pria yang telah membuatnya memiliki bayi yang ada dalam gendongannya ini.
“Jelita, aku memang salah karena telah membutamu kecewa, tapi kau tahu aku tidak ada pilihan lain. Sekarang proses perceraianku dengan wanita itu masih dalam proses dan hasilnya baru akan keluar satu minggu lagi. Kau bilang jika aku sudah menyelesaikan semuanya kau akan menerimaku kembali. Tapi kenapa sikapmu padaku semakin dingin? bukankah seharusnya kau sudah bisa menerimaku setidaknya jangan melarangku untuk bertemu dengan anak kita?” tutur Abizar dengan wajah sedih.
“Yang aku tanyakan kenapa Bapak berbicara padaku seperti tadi? Ucapanmu terdengar sepe