Jelita membeku menerima perlakuan Abizar, tapi ia tidak bisa bergerak. Jelita hanya membiarkan Abizar memeluknya. Ada perasaan tenang menyelimuti hatinya.
“Terima kasih Jelita, aku merasa sangat senang…” ungkap Abizar sambil terus memeluk jelita.
“Em, Pak. Aku rasa rasa senangnya tidak perlu sampai berlebihan seperti ini,” ucap jelita mengingatkan Abizar karena ia sudah mulai kepanasan di peluk Abizar.
“Oh, maafkan aku. A-aku tidak bermaksud…” Abizar buru-buru melepas pelukannya dan mundur beberapa langkah.
“Tidak apa-apa, terkadang di saat senang kita bisa kehilangan kontrol,” ucap Jelita sambil menyelimuti bayinya dengan selimut hangat. Sedangkan Abizar hanya mengusap tengkuknya dengan canggung. Jelita menoleh ke arahnya.
“Bapak bisa istirahat di kamar sebelah kalau begitu. Aku j