Setahun setelah Kiran meninggal, Rio mengunjungi makamnya bersama Naya dan Antoni. Mereka membawa bunga sederhana. Rio berdiri paling lama, mengingat bagaimana hari-hari setelah kehilangan terasa seperti berhenti, sementara kini ia dapat menjalani pekerjaan dan pulang ke rumah.
Ia bercerita kepada Kiran bahwa ia masih menjadi direktur dan belum kembali mengoperasi. Ia juga mengatakan sedang menjalin hubungan dengan Mira. Ia tidak meminta tanda atau jawaban dari makam itu. Ia hanya ingin menyebut kenyataan hidupnya.
"Aku masih merindukanmu," katanya. "Aku juga mulai mencintai hidupku lagi."
***
Mira tahu Rio mengunjungi makam hari itu. Ia mengirim pesan bahwa ia tidak akan mengganggu, tetapi tersedia bila Rio ingin berbicara. Rio membalas terima kasih dan mengatakan ia akan menghubunginya setelah pulang.
Di rumah, ia bertemu Mira. Mereka duduk bersama. Rio bercerita bahwa ia menangis di makam dan tidak merasa bersalah setelahnya. Mira mendengarkan. Ia tidak bertanya apakah ia sekarang sudah siap menikah.
Rio berkata ia ingin membicarakan masa depan dengan lebih jelas. Mira bertanya apakah ia bermaksud melamar. Rio menjawab ia sedang memikirkannya, tetapi belum ingin membuat kejutan sebelum mereka sepakat soal kehidupan bersama.
Mira menghargai itu. Ia mengatakan ia juga ingin membangun hidup dengan Rio, tetapi ingin membicarakan beberapa hal sebelum jawaban apa pun diminta.
***
Mereka membahas rumah, pekerjaan, dan batas keluarga. Mira ingin mempertahankan pekerjaannya dan punya ruang bermusik. Rio ingin tetap memimpin rumah sakit dan terus mengevaluasi kesiapan klinis tanpa janji kembali mengoperasi.
Mereka sepakat bahwa jika Rio tidak pernah kembali menjadi ahli bedah, hal itu tidak membatalkan hubungan. Mira pun tidak akan diminta menjadi pendamping duka tunggal. Rio akan tetap mengandalkan keluarga dan Renaldy.
Malam itu Rio pulang dengan pikiran lebih teratur. Setahun tidak membuat kehilangan menjadi kecil. Namun ia tidak lagi merasa hidup baru harus menunggu sampai ia berhenti merindukan Kiran. Ia dan Mira akan mengambil keputusan karena saling memilih, bukan karena kalender memaksa.
Mira mengirim pesan bahwa ia memberi Rio waktu sendiri pada hari tersebut. Ia tidak meminta laporan tentang kunjungan makam. Rio menghargai ruang itu. Setelah pulang, ia menghubunginya dan menyampaikan bahwa ia menangis sebentar, tetapi merasa lebih lega setelah mengatakan kenyataan dengan jujur.
Mira bertanya apakah ia ingin bertemu atau beristirahat. Rio memilih bertemu sebentar. Mereka duduk di rumah Mira dan minum teh. Rio berkata ia tidak ingin hari peringatan menjadi sesuatu yang harus dirayakan atau dihindari.
***
Mira mengatakan ia bersedia mendampingi Rio pada hari-hari sulit, tetapi ia tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang tahu perasaannya. Rio menjawab ia masih berbicara dengan Naya, Renaldy, Banyu sesekali, dan profesional yang ia temui.
Mereka membicarakan hubungan eksklusif dan masa depan. Mira berkata ia ingin hubungan mereka bergerak ke arah pernikahan jika keduanya siap. Rio menjawab ia juga ingin, tetapi ingin memastikan mereka telah membicarakan hal penting.
***
Mira menanyakan apakah Rio merasa perlu menunggu tahun tertentu untuk melamar. Rio menjawab waktu bukan aturan; ia hanya ingin memberi ruang bagi duka dan hubungan mereka tumbuh. Mira menyetujui. Mereka tidak menetapkan tanggal, tetapi sepakat berbicara lagi bila salah satu merasa siap.
Mira ingin tetap menggunakan namanya sendiri setelah menikah. Rio berkata itu pilihannya. Mereka juga membicarakan lokasi tinggal dan membagi pekerjaan rumah. Tidak semua detail selesai, tetapi keduanya tahu pembicaraan itu bisa dilanjutkan.
***
Rio mengakui ia sempat takut menikah berarti menghapus Kiran. Mira menjawab pernikahan mereka tidak mengubah fakta masa lalu. Ia tidak akan meminta Rio menghapus kenangan, tetapi ia berharap mereka menciptakan kebiasaan baru yang menjadi milik mereka berdua.
Rio menyetujui. Ia tidak berkata Mira telah menggantikan siapa pun.
Setelah pulang, Rio menulis bahwa setahun adalah waktu yang telah mereka lalui, bukan obat. Ia masih rindu dan masih memilih hidup. Ia ingin melamar Mira bila keputusan itu tetap terasa benar setelah lebih banyak percakapan.
Rio mengajak Mira berbicara dengan tenang tentang arti ulang tahun kematian Kiran. Ia tidak ingin hari itu menjadi hari ketika ia menghindari semua kegiatan, tetapi juga belum tahu ingin melakukan apa.
Mira menyarankan ia menentukan sendiri setelah mendekati tanggal. Mereka dapat membuat rencana fleksibel, tanpa menganggap Mira harus hadir.
***
Rio berkata ia ingin menikah karena melihat masa depan bersama Mira, bukan karena setahun telah lewat. Mira menjawab ia ingin memperhatikan cara mereka melewati bulan-bulan berikutnya.
Mereka sepakat tidak mengubah peringatan Kiran menjadi tenggat. Lamaran, jika terjadi, akan lahir dari percakapan dan pilihan mereka.
Rio bertanya apakah Mira ingin ada ritual khusus pada hari ulang tahun pernikahan. Mira menjawab ia ingin sesuatu yang sederhana dan tidak wajib dilakukan setiap tahun. Rio setuju.
***
Mereka juga membicarakan bagaimana mengingat Kiran. Rio ingin mengunjungi makam sendiri pada hari tertentu. Mira tidak keberatan. Ia ingin mereka memiliki perayaan sendiri tanpa mengubahnya menjadi perbandingan.
***
Mira bertanya apakah Rio merasa siap melamar. Rio berkata ia masih menginginkan itu, tetapi ingin memastikan keputusan datang dari rasa cinta, bukan tenggat. Mira menjawab ia ingin menikah suatu hari, tetapi tidak sedang meminta lamaran segera.
***
Mereka sepakat membicarakan kembali setelah satu bulan. Rio akan memikirkan hal-hal praktis, dan Mira juga akan menilai bagaimana hubungan mereka terasa.
Mereka tidak menahan satu sama lain dengan janji. Mereka hanya melanjutkan pilihan yang sudah mereka buat.
Rio berkata ia ingin membuat keputusan lamaran setelah mereka membicarakan satu kali lagi soal tempat tinggal dan pekerjaan. Mira setuju, sebab ia juga ingin merasa siap secara praktis.
***
Mereka tidak menganggap percakapan itu menunda cinta; mereka menganggapnya bagian dari komitmen.
Beberapa hari kemudian, Rio dan Mira kembali membahas tempat tinggal serta pekerjaan. Mereka mencatat hal yang perlu dinegosiasikan dan bagian yang belum diketahui. Mira berkata ia ingin tetap memiliki ruang untuk kariernya; Rio mendukungnya tanpa menganggap dukungan sebagai pengorbanan sepihak. Rio juga menjelaskan jadwalnya mungkin berubah karena tanggung jawab rumah sakit. Mereka belum menemukan jawaban untuk semuanya, tetapi keduanya merasa didengar. Keputusan besar terasa lebih dekat sekaligus tetap bebas. Mereka sepakat tak akan memakai lamaran sebagai cara menutup pertanyaan yang belum dibahas.