Malam pun benar-benar tiba. Langit yang tadi berwarna ungu kebiruan kini berubah menjadi gelap pekat, hanya diterangi cahaya samar dari lumut yang tumbuh di batang pohon raksasa dan bintang-bintang yang berdenyut jauh di atas sana. Angin malam bertiup kencang, membawa hawa dingin yang tajam menusuk hingga ke sumsum tulang. Di ketinggian ini, malam bukan sekadar pergantian waktu — ia adalah ujian bagi siapa pun yang tidak siap menghadapinya.
Alby meringkuk sedapat mungkin di dalam ruang sempit kerangkeng akar, kedua lengannya melingkar erat di tubuhnya yang telanjang, berusaha menahan getaran yang tak henti-henti mengguncangnya. Tidak ada duri yang melukai kulitnya lagi, namun rasa dingin terasa jauh lebih kejam daripada tusukan tajam. Ujung jari kakinya sudah mati rasa, napasnya keluar berupa kepulan uap putih samar.
"Sial," gerutunya pelan, giginya beradu berisik. "Bisa-bisa aku mati beku di sini sebelum sempat menyesali ucapanku yang konyol. Belum sempat membujuk sang Ratu, malah jadi patung es duluan. Kesan pertama yang sangat buruk, Alby."
Ia mengangkat kepala, menatap dua sosok yang berdiri diam di atas dahan pohon raksasa di sampingnya. Di sebelah kiri, Velin berdiri tegak dengan wajah datar, matanya menatap lurus ke depan namun Alby yakin ia mengawasi setiap gerak-geriknya. Di sebelahnya, Mouram memegang gagang tombak erat-erat, sesekali melirik Alby dengan tatapan yang masih menyiratkan rasa tidak suka dan curiga.
"Hei..." panggil Alby, suaranya bergetar bukan karena takut, melainkan karena dingin yang tak tertahankan. "Kau berdua tidak kedinginan? Atau kulit kalian memang setebal kulit pohon beringin?"
Mouram mendengus kasar. "Diamlah, manusia. Hentikan suaramu yang mengganggu ketenangan hutan ini."
"Aku tidak bisa diam kalau kedinginan begini," jawab Alby memberanikan diri. "Dengar, jika aku mati beku sebelum Ratu kembali besok, kau tidak akan pernah tahu kebenarannya. Dan kau juga tidak akan tahu apakah aku benar-benar ancaman atau sekadar orang malang yang tersesat. Apakah kau mau memikul tanggung jawab itu di hadapan Sylviana?"
Keheningan menyelimuti mereka. Angin kembali berhembus lebih kencang, membuat kerangkeng akar berayun pelan.
Dari dahan yang sedikit lebih tinggi, tempat Eolara bersandar santai dengan mata terpejam, terdengar desahan malas yang panjang. Perlahan mata penyihir itu terbuka, menampakkan iris hijau lumut yang tampak mengantuk namun tetap tajam. Ia melirik sekilas ke arah Mouram.
"Mouram, berikan selimut cadanganmu."
Mouram menoleh cepat tak percaya. "Nyonya Eolara! Selimut ini tipis! Jika aku memberikannya padanya, aku yang akan kedinginan semalaman!"
"Ratu memerintahkan agar dia tetap hidup sampai besok pagi," ucap Eolara pelan, kembali memejamkan mata. "Jika dia mati kedinginan, itu kesalahanmu. Dan kau tahu betapa Ratu tidak suka jika perintahnya tidak terlaksana dengan sempurna. Atau kau lebih ingin menjelaskan mengapa tawanan pentingnya mati karena kau pelit selembar kain?"
Mouram tertegun. Ia menatap selimut kasar yang terselip di pinggangnya, lalu menatap Alby yang tampak hampir menggigil sampai pingsan. Dengan raut wajah yang semakin masam, ia akhirnya menghela napas pasrah.
Tanpa berkata apa-apa, Velin mengangkat tangannya perlahan. Cahaya hijau samar memancar dari ujung jarinya, dan seketika itu juga akar-akar kecil serta ranting kering menyatu membentuk jembatan sempit yang kokoh namun bergoyang di atas jurang gelap.
Dengan langkah berat, Mouram melangkah menyeberang. Ia tidak mendekat sepenuhnya, hanya berhenti di ujung jembatan lalu menyodorkan selimut cokelat tua itu menggunakan ujung gagang tombaknya, seolah takut terkena kulit manusia sedikit saja.
"Terima saja dan diamlah!" tegurnya ketus. "Jangan membuat keributan lagi."
Alby meraih selimut itu dengan cepat, langsung melilitkannya hingga ke dagu. Kainnya kasar dan berbau apek, namun kehangatannya terasa seperti surga. Ia menghela napas lega, lalu matanya jatuh pada ujung tombak yang digunakan Mouram. Matanya menyipit memperhatikan bagaimana gagang kayunya terpasang miring ke kiri, ikatannya longgar, dan setiap kali digerakkan sedikit, ujung tombak itu bergoyang tidak seimbang.
"Tombakmu tidak seimbang, bukan?" tanya Alby tiba-tiba. "Bagian besinya miring, ikatan di tengah terlalu longgar, dan ujung gagangnya terlalu berat. Jika kau menyerang dengan itu, tenagamu terbuang sia-sia karena kau harus terus menyeimbangkannya. Bukankah merepotkan?"
Wajah Mouram memerah seketika. "Apa kau tahu apa-apa tentang senjata? Jangan sok tahu!"
"Aku tidak tahu tentang senjata perang," jawab Alby tenang sambil meraba pisau lipat di lehernya. "Tapi aku tahu tentang kayu. Aku tahu keseimbangan. Berikan aku lima ranting kecil yang kuat dan lurus — seukuran jari telunjukmu, sepanjang telapak tanganmu — dan aku akan memperbaikinya. Hanya itu syaratnya. Tidak ada sihir, tidak ada tipu daya."
Mouram terdiam. Ia menatap tombak kesayangannya, lalu menatap Alby yang menatapnya tulus tanpa sedikit pun meremehkan. Ia menoleh ke arah Velin seakan mencari pendapat. Velin hanya mengangguk pelan, matanya tetap waspada namun tidak melarang.
Dengan ragu, Mouram mematahkan lima ranting kecil dari dahan terdekat. Ranting-ranting itu berwarna cokelat keemasan dengan serat rapi dan kuat — bukan kayu biasa, melainkan buatan sihir Velin. Saat ranting itu putus, Velin sedikit meringis pelan seolah merasakan getaran samar, namun tetap diam.
Mouram menyodorkan ranting-ranting itu. "Nah, ini. Sekarang lakukan apa yang kau katakan. Tapi ingat, jika kau merusaknya lebih parah, aku tidak akan ragu melukaimu sedikit pun."
Alby tersenyum tipis. "Tenang saja. Aku tidak akan merusak barang orang lain. Itu bukan kebiasaanku."
Dengan hati-hati, Alby mulai bekerja. Ia mengeluarkan pisau lipat kecil dari kalungnya, benda sederhana yang tampak tidak berharga di mata makhluk sihir, namun baginya itu alat paling berguna. Ia meraut ujung-ujung ranting itu dengan cekatan namun teliti, menyesuaikan ukurannya, lalu menyusunnya membentuk penyangga tambahan di bagian gagang yang goyah. Sambil bekerja, ia terus berbicara pelan.
"Lihat ini," ucapnya sambil menyusun potongan kayu. "Kayu ini kuat, tapi jika posisinya tidak pas, kekuatannya sia-sia. Sama seperti pekerjaan. Jika kita mengatur langkah dengan benar, kita tidak perlu mengeluarkan tenaga dua kali lipat untuk hasil yang sama. Manusia menciptakan roda, tuas, katrol — semuanya untuk satu tujuan: agar pekerjaan berat menjadi ringan. Kita tidak sekuat kalian, tidak punya sihir, jadi kita belajar memanfaatkan apa yang ada dengan sebaik-baiknya."
Mouram awalnya berdiri diam melipat tangan di d**a. Namun lama-kelamaan, matanya mulai terpaku pada tangan Alby yang bergerak lincah dan terampil. Ia mendengarkan setiap kata — tentang cara menyambung serat agar tidak putus, mencari titik seimbang, menghemat tenaga. Hal-hal yang tak pernah diajarkan penyihir atau ahli senjata di istana. Hal-hal sederhana namun masuk akal sekali.
"Kau tahu," ucap Mouram tiba-tiba dengan suara rendah seolah ingin menakut-nakuti Alby. "Kau beruntung Nyonya Eolara sedang dalam suasana hati baik. Kalau tidak, kau tidak akan sempat bicara sebanyak ini. Kau tahu siapa dia sebenarnya? Dia bukan sekadar penyihir yang malas."
Alby tidak berhenti bekerja, hanya mengangkat alis sedikit. "Memangnya dia siapa?"
"Dulu, ratusan tahun yang lalu," lanjut Mouram sambil melirik Eolara dengan pandangan penuh hormat sekaligus takut. "Dia adalah petualang paling berani dan paling kuat yang pernah dimiliki Sylvenor. Dia menjelajahi setiap sudut benua ini, mengalahkan monster purba, menyegel kekuatan gelap yang bisa menghancurkan kerajaan ini. Konon, sihir tidurnya bukan sekadar membuat orang mengantuk — dia bisa membuat jiwa seseorang terperangkap dalam mimpi buruk selamanya. Dia berhenti bertualang bukan karena lelah berjalan, tapi karena sudah melihat cukup banyak penderitaan dan memutuskan bahwa tidur adalah cara terbaik menjauh dari segalanya. Jadi jangan sampai kau membuatnya benar-benar marah, manusia. Kau mungkin tidak akan pernah bangun lagi."
Keheningan sejenak terjadi. Alby berhenti sejenak, menelan ludah perlahan. Ia melirik Eolara yang masih terlihat damai, lalu tersenyum tipis.
"Kalau begitu aku harus berusaha sebaik mungkin agar tidak mengganggu tidur nyenyaknya," gumamnya pelan sambil menyelesaikan ikatan terakhir. "Selesai."
Ia menyodorkan tombak itu kembali. Dengan ragu, Mouram menerimanya. Ia merasakan bagaimana beratnya kini terasa pas, seimbang di telapak tangannya, tidak lagi miring. Ia mengayunkannya perlahan, dan gerakannya terasa ringan, mantap, tepat sasaran. Tidak ada guncangan sedikit pun.
"Ini..." Mouram tertegun tak percaya. "Bagaimana kau melakukannya hanya dengan lima potong kayu kecil?"
"Karena aku tahu di mana letak masalahnya," jawab Alby sambil menarik selimut lebih rapat. "Terkadang hal yang paling sulit diperbaiki bukan karena rusak parah, tapi hanya karena kita tidak tahu di mana letak ketidakseimbangannya itu berada."
Velin yang sejak tadi diam tiba-tiba bersuara pelan. "Kau... mengajarkan cara itu pada siapa saja?"
"Siapa saja yang mau mendengar dan menghargainya," jawab Alby sambil menyandarkan punggungnya, memejamkan mata perlahan. "Pengetahuan tidak ada gunanya jika disimpan sendirian."
Mouram masih mengayun-ayunkan tombaknya seolah tak percaya. Ia mendengus pelan berusaha menyembunyikan rasa kagumnya. "Hmph, setidaknya kau tidak sekadar mulut manis. Tapi jangan kira dengan ini aku akan melupakan bahwa kau adalah penyusup."
Alby tertawa kecil. "Tenang saja. Kalau aku mau lari, aku pasti sudah memilih tempat yang lebih hangat dan tidak dijaga dua orang yang sangat waspada seperti kalian. Lagipula, belum sempat aku bertemu Ratu lagi, mana mungkin aku pergi begitu saja?"
Mouram menyeringai. "Kau benar-benar nekat. Berani-beraninya melontarkan kalimat itu di depan wajah Sang Ratu. Kalau saja Galvanis tidak menahan diri, kau mungkin sudah berubah jadi pupuk pohon."
"Galvanis itu tegas sekali ya," gumam Alby sambil membetulkan posisi duduknya. "Tapi kau lebih menakutkan kalau sedang cemberut begitu. Sama saja dengan beruang yang sedang kelaparan."
"Heh, berani sekali kau mengejekku!" Mouram melempar sepotong ranting kecil ke arah Alby — bukan untuk menyakiti, melainkan bercanda. "Lihat saja nanti kalau kau turun dari sana, aku akan tunjukkan siapa yang seperti beruang!"
Velin yang biasanya diam seribu bahasa tiba-tiba terkekeh pelan. Suara tawanya yang lembut namun jelas membuat Mouram terkejut sejenak, lalu ikut tertawa lepas. Suasana tegang sejak tadi perlahan mencair sepenuhnya.
Percakapan pun mengalir begitu saja. Mulai dari membahas cara menjaga keseimbangan saat memanjat pohon raksasa, membandingkan kayu terkuat di dunia manusia dan Sylvenor, hingga kembali membahas Eolara.
"Kebanyakan orang takut berbicara terlalu keras di dekatnya," bisik Mouram. "Mereka bilang meski matanya tertutup, telinganya mendengar setiap kata di seluruh hutan. Bahkan ada yang bercerita dia pernah membiarkan seseorang tidur lima puluh tahun hanya karena mengganggu tidur siangnya."
"Dia terlihat sangat tidak berbahaya," komentar Alby. "Seperti kucing besar yang hanya ingin beristirahat tenang."
"Itulah kesalahan terbesar!" sahut Mouram. "Dulu dia orang yang paling sulit ditebak. Sekali dia menatapmu dengan mata setengah tertutup, kau sudah tidak bisa bergerak seujung kuku pun. Cukup satu kedipan mata, mimpi buruk terburukmu terasa nyata. Konon dia sengaja terlihat malas supaya tidak ada yang memintanya bertarung lagi. Dia sudah terlalu sering menggunakan kekuatannya untuk hal menyedihkan, dan sekarang hanya ingin hidup tenang."
"Kalau begitu dia sebenarnya orang yang sangat baik hati ya," kata Alby pelan. "Menyembunyikan kekuatan dahsyatnya bukan karena takut, tapi karena tidak ingin menyakiti siapa pun lagi. Itu justru tanda kekuatan terbesar."
Mouram terdiam menatap Alby, lalu mengangguk pelan. "Kau benar. Tidak banyak yang bisa melihatnya begitu. Padahal jika Sylvenor benar-benar bahaya, Nyonya Eolara adalah benteng terakhir yang tak akan pernah runtuh."
Mereka kembali diam menikmati hening hutan yang kini terasa tidak lagi menakutkan. Angin berhembus pelan membawa wangi bunga malam samar.
"Kira-kira kalau dia dengar kita membicarakannya begini..." bisik Alby tersenyum menggoda. "Dia akan membiarkan kita tidur sampai pagi atau mengirim kita bermimpi dikejar kawanan serigala raksasa?"
Mouram menyeringai lebar lalu berbisik pelan sambil menutup mulutnya. "Ssst... kalau dia dengar, kita mungkin bermimpi jadi ulat bulu yang harus merayap sampai ke puncak gunung es. Jadi lebih baik kita diam saja dan berpura-pura ikut tidur dengannya."
Alby tertawa menahan suara. "Setuju. Itu rencana paling cerdas malam ini."
Di kejauhan, di dahan tempat Eolara bersandar, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang tak terlihat siapa pun. Napasnya tetap teratur seolah ia benar-benar tertidur lelap, namun satu jari lentiknya bergerak sangat pelan — membuat angin yang tadinya dingin kini berubah sejuk dan nyaman, menyelimuti ketiga orang itu dengan kehangatan tak terduga sepanjang sisa malam itu.