Mereka datang dengan dua mobil, yang di lereng Wilis sudah cukup untuk membuat tetangga melongok dari balik pagar. Yang turun pertama seorang perempuan setengah baya berkacamata, rambut diikat rapi, membawa map kulit dan kamera yang menggantung di leher seperti perhiasan. Itu Bu Wresni, kurator dari Museum Tosan Aji di kota. Yang turun dari mobil kedua seorang lelaki tua bertubuh kecil, berbatik halus, jari-jarinya penuh cincin batu akik, dan caranya menatap segala sesuatu seperti orang yang sudah membeli separuh dunia dan menimbang membeli sisanya. Itu Pak Hardjasaputra, kolektor.
Pak Wirantaka menerima mereka di pendopo dengan teh dan pisang goreng. Kinanthi duduk di samping pamannya, tangannya masih ada noda arang di bawah kuku yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia mendengarkan lebih banyak daripada bicara. Itu kebiasaannya.
"Padepokan ini," kata Bu Wresni setelah basa-basi secukupnya, "sudah lama jadi perhatian kami. Tapi yang membuat kami datang hari ini satu hal saja." Ia menoleh ke dinding pendopo, ke warangka timoho di atas kain mori. "Kyai Sarpa Wedha."
Kinanthi merasakan sesuatu menghangat di dadanya. Bukan keris itu sendiri, tapi cara orang menyebut namanya. Seperti nama yang ia warisi.
Bu Wresni menjelaskan dengan hati-hati, seperti orang yang sudah berlatih menjelaskan ini. Pemerintah, lewat dinas kebudayaan dan tim ahli cagar budaya, sedang mempertimbangkan menetapkan sejumlah benda pusaka sebagai cagar budaya bertaraf nasional. Bukan sembarang benda. Harus ada nilai sejarah, nilai keilmuan, nilai kelangkaan. Dan Kyai Sarpa Wedha, dengan provenansnya yang jelas, dengan empu pembuatnya yang tercatat, dengan tahun pembuatan yang diketahui, adalah kandidat yang kuat.
"Sangat kuat," Pak Hardjasaputra menambahkan. Suaranya serak, pelan, tapi setiap kata dijatuhkan dengan bobot. "Saya sudah lihat ratusan keris, Nak. Ribuan. Sarpa Wedha ini bukan keris biasa. Pamornya itu... pamor yang seperti bernapas."
Kinanthi menunduk sedikit, menahan rasa bangga agar tidak terlihat di wajahnya. Ia gagal sebagian.
"Tapi ada masalah teknis," Bu Wresni melanjutkan. "Begitu sebuah benda jadi cagar budaya nasional, ada aturan ketat soal penyimpanan, kelembapan, keamanan. Tidak boleh lagi digantung di pendopo terbuka seperti ini. Tidak boleh dimandikan setiap Suro dengan cara lama. Idealnya disimpan dalam ruang terkontrol di museum."
Kinanthi mengangkat wajah. "Diambil dari padepokan?"
"Disimpan," Bu Wresni mengoreksi dengan lembut. "Bukan diambil. Tetap milik keluarga. Tapi disimpan di tempat yang layak. Dan di sinilah usulan kami." Ia membuka map kulitnya. "Kami ingin memesan sebuah duplikat resmi. Pinninggih. Ditempa oleh tangan keluarga ini juga, dengan sebisa mungkin meniru bilah asli, untuk dipajang menggantikan yang asli. Jadi orang tetap bisa datang ke padepokan, melihat sosok Kyai Sarpa Wedha, sementara yang asli aman tersimpan."
Hening sebentar. Pak Wirantaka memandang keponakannya.
"Dan yang kami minta menempa duplikat itu," Bu Wresni menatap Kinanthi lurus, "adalah Anda. Kami sudah tanya ke beberapa empu. Semua menyebut satu nama. Cicit Ki Brajaguna yang katanya bisa membaca pamor seperti membaca tulisan."
Kinanthi tidak langsung menjawab. Di dalam dirinya ada dua hal yang bertabrakan. Yang pertama, kehormatan yang nyaris membuatnya sesak. Menempa kembaran Kyai Sarpa Wedha. Ditugaskan oleh negara, oleh museum, oleh kolektor sekelas Hardjasaputra. Tidak ada empu muda yang tidak akan menjual sebelah matanya untuk pekerjaan ini.
Yang kedua, lebih sunyi, lebih dalam, hampir tidak ia akui pada dirinya sendiri. Untuk menempa kembaran sebuah keris, ia harus mempelajari keris itu sedekat-dekatnya. Lebih dekat daripada yang pernah ia lakukan. Lebih dekat daripada siapa pun di keluarga ini pernah membiarkannya.
"Saya harus membongkar warangkanya," Kinanthi berkata pelan. "Mengeluarkan bilahnya. Memeriksa pesinya, ganjanya. Mengukur setiap luk. Menghitung lipatan dari sisa pamor di sor-soran. Kalau saya disuruh meniru, saya tidak bisa cuma melihat dari jauh."
Pak Wirantaka bergerak di tempat duduknya. Sangat halus. Tapi Kinanthi yang duduk di sebelahnya merasakannya, seperti merasakan getaran samar pada paron sebelum retak muncul.
"Tentu," kata Bu Wresni. "Itu syaratnya. Akses penuh ke bilah. Tentu di bawah pengawasan keluarga."
Semua mata beralih ke Pak Wirantaka. Ia kepala keluarga. Ia yang memegang kunci. Selama ini, Kyai Sarpa Wedha hanya dikeluarkan setahun sekali, saat dimandikan di bulan Suro, dan itu pun dengan upacara, dengan banyak tangan, dengan banyak mata, tidak pernah lama, tidak pernah benar-benar diperiksa, hanya dimuliakan.
Pamannya diam lama. Terlalu lama. Kinanthi memperhatikan jari-jari Wirantaka yang mencengkeram lututnya sendiri, buku-bukunya memutih. Wajah pamannya, yang biasanya setenang air sumur, kini menyimpan sesuatu yang Kinanthi tidak punya nama untuknya. Bangga, ya. Tapi di bawah bangga itu ada lapisan lain. Sesuatu yang lebih mirip takut.
"Boleh," Wirantaka akhirnya berkata. Suaranya datar, terlalu dijaga. "Demi padepokan. Demi nama Mbah Braja." Ia berhenti. "Tapi Kinanthi." Ia menoleh, dan tatapannya pada keponakannya tiba-tiba terasa berat, hampir memohon. "Tirukan saja yang kau lihat. Tempa duplikatnya sebaik-baiknya. Jangan kau cari-cari yang tidak perlu. Keris itu sudah jadi keris itu selama enam puluh tahun. Tugasmu meniru, bukan menyelidiki."
Kata yang aneh untuk dipilih, pikir Kinanthi. Menyelidiki. Tidak ada yang menyebut menyelidiki. Mereka bicara meniru.
Tapi ia mengangguk. "Inggih, Pak."
Bu Wresni tersenyum lega dan mulai mengeluarkan berkas-berkas, surat pesanan resmi, anggaran, jadwal. Pak Hardjasaputra menyeruput tehnya dengan puas, matanya kembali ke warangka di dinding seperti orang yang memandang kekasih. Mereka bicara soal honor, soal tenggat, soal upacara penyerahan yang akan digelar bersamaan dengan pengukuhan cagar budaya nantinya.
Kinanthi mendengar setengah. Setengah lagi dari dirinya sudah ada di pendopo, sudah di depan warangka, sudah membayangkan tangannya menarik bilah itu keluar dari sarungnya untuk pertama kali dalam hidupnya, perlahan, dengan napas tertahan, untuk benar-benar melihatnya. Ia merasakan kehormatan itu seperti panas yang menyenangkan.
Ia tidak tahu, dan tidak mungkin tahu, bahwa kegelisahan di mata pamannya bukan haru. Bahwa kalimat 'jangan kau cari-cari yang tidak perlu' bukan nasihat seorang tua yang cerewet. Bahwa di antara semua orang di pendopo itu, hanya satu yang sudah tahu apa yang akan ditemukan tangan Kinanthi pada bilah itu, dan orang itu baru saja, dengan suara yang gemetar ditahan, mengizinkannya.