Mereka melakukannya tiga hari kemudian, pagi-pagi, sebelum tetangga bangun, di ruang tengah joglo yang sengaja ditutup tirai. Pak Wirantaka membuka lemari jati tua, mengeluarkan kunci dari saku kemejanya, dan menurunkan warangka timoho dari dinding pendopo dengan dua tangan, seperti orang menggendong bayi yang sedang tidur. Ia meletakkannya di atas meja yang sudah dialasi kain mori. Lalu ia mundur selangkah, dan tidak mau lebih dekat.
"Silakan," katanya. Cuma itu.
Kinanthi mencuci tangannya dulu di belakang, menggosoknya dengan jeruk nipis untuk menghilangkan sisa minyak dan arang, mengeringkannya dengan kain bersih. Bukan karena upacara. Karena minyak dari kulit bisa meninggalkan jejak pada bilah, dan ia ingin tangannya jujur pada besi. Ia duduk. Ia menarik napas. Lalu, untuk pertama kali dalam dua puluh tujuh tahun hidupnya, ia mencabut Kyai Sarpa Wedha dari warangkanya.
Bilah itu keluar dengan bunyi yang sangat halus, gesekan kayu pada baja, dan untuk sesaat Kinanthi lupa bernapas. Di tangan ia memegang legenda keluarganya. Luk tiga belas berpilin anggun, sor-soran yang kokoh, ganja yang menyatu rapi dengan bilah. Dan pamornya. Pamor ngulit semangka yang konon disebut Pak Hardjasaputra seperti bernapas. Guratan-guratan nikel yang muncul ke permukaan seperti urat-urat halus di kulit buah, mengalir mengikuti lekuk bilah, rata, terkendali, indah.
"Astaga," Kinanthi membisik tanpa sadar.
Ia mulai bekerja seperti yang ia tahu. Ia mengukur panjang bilah dengan jangka. Ia menghitung luk satu per satu, menekan jarinya ke setiap lekuk, ke setiap puncak dan lembah. Ia mencatat di buku kecilnya, angka demi angka, dengan tulisan tangan yang rapat. Ia memeriksa kembang kacang, lambe gajah, semua ricikan, semua bagian kecil yang membuat sebuah keris punya watak. Ia mengamati pamor di bawah cahaya yang ia atur sudutnya, memiringkan bilah, mencari arah aliran nikel, mencoba membaca berapa kali besi ini dilipat untuk menghasilkan kerapatan guratan seperti ini.
Dan di situlah, di tengah kekaguman yang nyaris membuatnya gemetar, tangannya tersandung.
Ia tidak bisa langsung menamainya. Itu hanya rasa, mula-mula. Seperti orang yang mengenali seseorang tapi tidak bisa ingat dari mana. Pamor ini halus. Sangat halus. Terlalu... Kinanthi menghentikan pikirannya. Terlalu apa? Ia melanjutkan.
Ia memiringkan bilah lagi, menatap aliran nikel di bagian sor-soran tempat pamor paling terbaca. Cara guratan ini disusun, kerapatannya yang sangat teratur, kehalusan transisi antara satu lipatan dan lipatan berikutnya. Ada keterampilan luar biasa di sini, tidak diragukan. Tapi ada juga sesuatu yang lain. Sesuatu tentang cara nikelnya diolah. Nikel ini terasa... bersih. Modern. Murni dengan cara yang Kinanthi kenal karena ia sendiri pernah memakai bahan seperti itu, bahan yang baru bisa didapat padepokan ketika pemasok dari kota mulai menjual nikel lempengan yang lebih seragam.
Kapan itu? Ia mencoba mengingat dari cerita-cerita lama. Bukan tahun enam puluhan, itu pasti. Dulu, kata para sepuh, mereka memakai nikel dari mana saja yang bisa didapat, dari per mobil bekas, dari rongsokan, dari pecahan meteorit kalau beruntung, dan hasilnya tidak pernah sebersih ini, tidak pernah seseragam ini.
Kinanthi meletakkan bilah itu. Tangannya, ia sadari, sedikit berkeringat. Ia menyeka di celananya.
"Ada apa?" Pak Wirantaka bertanya dari sudut ruangan. Cepat. Terlalu cepat. Seperti orang yang sudah menunggu pertanyaan itu sepanjang pagi.
"Tidak ada," kata Kinanthi. Dan untuk pertama kali ia berbohong pada pamannya, dan ia tidak tahu kenapa ia melakukannya, hanya tahu bahwa ada sesuatu di ruangan ini yang membuatnya ingin menyimpan apa yang ia rasakan untuk dirinya sendiri sampai ia yakin. "Saya cuma kagum. Pamornya luar biasa."
Pamannya mengangguk, tapi bahunya tidak turun. Tetap tegang.
Kinanthi melanjutkan mengukur, mencatat, memotret dengan kamera sederhana yang Bu Wresni pinjamkan. Tapi separuh kepalanya sudah pergi ke tempat lain, ke gudang ingatan tentang besi dan tahun dan teknik, mengaduk-aduk, mencari pembanding, menolak kesimpulan yang mulai membentuk dirinya sendiri di sudut pikirannya seperti karat yang baru muncul.
Ia berkata pada dirinya sendiri: kamu gugup. Ini pertama kalinya kamu memegang pusaka sekeramat ini. Wajar kalau tanganmu jadi aneh, kalau matamu jadi mencari-cari yang tidak ada. Empu yang gugup membaca pamor seperti orang lelah membaca tulisan, semua huruf jadi mencurigakan. Kamu cuma capek. Kamu cuma kagum berlebihan.
Tapi Kinanthi tahu, bahkan saat ia membujuk dirinya, bahwa itu tidak benar. Ia tidak gugup ketika tangannya bekerja. Tangannya tidak pernah bohong. Tangannya sudah membaca ribuan bilah, dan tangannya, pagi ini, sedang berkata sesuatu padanya dengan suara yang sangat pelan tapi sangat jelas: ini bukan besi tahun enam puluh dua.
Ia menutup pekerjaannya menjelang siang. Pak Wirantaka memasukkan kembali bilah ke warangka, mengangkatnya kembali ke dinding, mengunci lemari, dan baru setelah keris itu tergantung lagi di tempatnya, bahu pamannya turun. Kinanthi memperhatikan itu juga.
Malamnya, di kamarnya, ia tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi ranjang dengan buku catatan kecilnya, membaca ulang angka-angka dan keterangan yang ia tulis sepanjang pagi. Di halaman terakhir, di pojok bawah, dengan tulisan yang lebih kecil dari yang lain, seakan ia malu menuliskannya, ada satu baris yang ia gores pelan: nikel terlalu bersih. Pamor terlalu rapi. Cek bahan akhir 60-an vs setelahnya.
Ia menatap baris itu lama. Lalu ia memutuskan dua hal. Pertama, ia akan tetap menempa duplikatnya, mulai besok, dengan sungguh-sungguh, karena itu tugasnya dan ia tidak melanggar tugas. Kedua, diam-diam, di sela-sela menempa, ia akan mencari tahu. Bukan untuk membongkar apa pun. Ia tidak punya niat membongkar. Ia cuma seorang empu yang tangannya menangkap sesuatu yang ganjil, dan seorang empu tidak bisa tenang sampai ia tahu apa yang sebenarnya ia pegang.
Ia menutup buku itu, mematikan lampu, dan berbaring menatap gelap. Di luar, jangkrik berbunyi, dan dari arah pendopo, dalam imajinasinya saja barangkali, ia merasa seolah keris itu menatap balik.