Kinanthi memulai duplikatnya keesokan paginya, dan ia memulainya dengan sungguh-sungguh, karena hanya dengan menempa sungguh-sungguh ia bisa berpikir jernih. Tangan yang sibuk membuat kepala tenang. Ia memilih besi, memilih baja, memilih nikel, dan ia sengaja memilih bahan yang setua mungkin, mencari potongan-potongan tua dari gudang padepokan, karena kalau ia ingin meniru pamor Sarpa Wedha, ia harus mencoba mendekati bahannya. Dan justru di situ, sejak hari pertama, masalahnya muncul lebih jelas.
Ia tidak bisa membuat pamor itu dengan bahan tahun enam puluhan.
Ia mencoba. Ia melipat nikel rongsokan tua dengan baja, membakar, menempa, melipat lagi, dan hasilnya, ketika ia menduga-duga pamornya, selalu lebih kasar, lebih bernyawa liar, lebih tidak rata daripada Sarpa Wedha. Untuk mendapat kehalusan dan keseragaman seperti pada bilah pusaka itu, ia tahu persis apa yang harus ia pakai. Ia harus pakai nikel lempengan murni yang seragam, bahan yang baru masuk ke padepokan jauh setelah Ki Brajaguna muda.
Ia duduk di depan paron yang dingin pada sore hari ketiga, menatap dua potong besi di tangannya, satu dari rongsokan tua, satu dari lempengan baru, dan untuk pertama kali ia mengizinkan dirinya menyusun pertanyaannya dengan utuh. Bukan rasa lagi. Pertanyaan.
Ia pergi ke gudang dokumentasi padepokan, ruang sempit di belakang joglo yang penuh peti dan map berdebu. Di sana, di antara surat-surat dan foto-foto, ada koleksi kecil keris-keris contoh karya Ki Brajaguna sendiri, yang tidak dijual, disimpan keluarga sebagai pembanding mutu. Beberapa di antaranya bertahun. Buyutnya, ternyata, punya kebiasaan baik bagi seorang penyelidik: ia mencatat tahun pembuatan beberapa karyanya di pangkal pesi, atau di buku tempa, atau pada secarik kertas yang diselipkan di warangka.
Kinanthi mengeluarkan satu per satu. Ia menyusunnya di lantai gudang berdasarkan tahun. Sebilah dari tahun 1958. Sebilah dari 1965. Sebilah dari 1971. Dua bilah dari awal 1980-an. Ia mengamati pamor masing-masing di bawah senter, membandingkan, mencatat. Dan pola itu muncul di depan matanya dengan kejelasan yang membuat perutnya dingin.
Karya-karya buyutnya dari tahun lima puluhan dan enam puluhan punya pamor yang lebih kasar, lebih liar, lebih tidak rata, persis seperti yang ia duga, karena bahannya memang begitu, nikel dari rongsokan, tempaan yang lebih sedikit lapisnya. Lalu, pada karya dari awal tahun tujuh puluhan, ada perubahan kecil. Dan pada karya tahun delapan puluhan, perubahan itu sempurna: pamor jadi halus, rapat, seragam, dengan transisi yang lembut antar lipatan. Bahannya berubah. Tekniknya berubah. Padepokan, di suatu titik di akhir tahun enam puluhan menjelang tujuh puluhan, mulai mendapat nikel lempengan murni dan mulai memakai cara melipat yang lebih banyak, dan sejak itu pamor mereka jadi seperti yang kita kenal sekarang.
Kinanthi mengangkat kepalanya dari deretan keris di lantai. Di pikirannya, ia menempatkan Sarpa Wedha di samping karya-karya ini. Dan Sarpa Wedha, yang konon ditempa pada 1962, punya pamor yang persis seperti karya tahun delapan puluhan. Bukan seperti karya tahun enam puluhan. Bukan sedikit pun.
Ia duduk diam sangat lama di lantai gudang yang gelap.
Sebagai empu, ia tahu apa artinya ini, dan ia tidak bisa membantah dirinya sendiri karena yang membantah adalah pengetahuannya sendiri. Sebuah bilah ditempa dari intinya sampai kulitnya dengan bahan dan teknik satu zaman. Pamor bukan hiasan yang ditempelkan belakangan, pamor adalah struktur bilah itu sendiri, lahir dari lipatan besi dari dalam. Bilah dengan pamor sehalus Sarpa Wedha, dengan nikel sebersih itu, mustahil ditempa pada tahun 1962. Mustahil. Bahannya belum ada di padepokan ini saat itu. Tekniknya belum dipakai.
Keris yang tergantung di pendopo, yang dipuja seluruh keluarganya, yang sebentar lagi akan dikukuhkan negara sebagai mahakarya Ki Brajaguna tahun 1962, ditempa belasan tahun setelah tahun yang diakui. Akhir tahun tujuh puluhan, paling cepat. Mungkin lebih.
Ini bukan kesalahan kecil dalam pencatatan. Ini bukan salah ingat keluarga. Ini ketidakmungkinan fisik. Keris itu bukan keris yang mereka kira. Entah ia ditempa belakangan dan diberi nama lama, entah ia ditukar dengan sesuatu yang lain di suatu titik, tapi satu hal pasti: bilah yang dipajang di pendopo bukan bilah yang ditempa pada 1962. Bilah itu palsu, dalam arti yang paling telanjang: ia berbohong tentang dirinya sendiri.
Kinanthi menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak menangis. Ia tidak berteriak. Ia hanya duduk di lantai gudang dengan deretan keris di depannya, merasakan sesuatu yang sangat besar runtuh pelan-pelan di dalam dadanya tanpa suara. Karena kalau Sarpa Wedha bukan karya buyutnya tahun enam puluh dua, maka separuh dari siapa dirinya, separuh dari kebanggaan yang ia bangun sejak kecil, separuh dari alasan ia menolak kota dan memilih palu, dibangun di atas sesuatu yang tidak benar.
Ia mendengar langkah di luar gudang. Pamannya. Dengan cepat, gerakan yang ia sendiri tidak rencanakan, Kinanthi mengembalikan keris-keris itu ke peti, menutupnya, dan berdiri seolah ia baru saja mencari sesuatu yang biasa.
"Cari apa di sini gelap-gelap?" tanya Wirantaka di ambang pintu.
"Bahan," kata Kinanthi. Suaranya, ia kaget mendengarnya sendiri, terdengar hampir normal. "Cari nikel tua buat duplikatnya. Susah niru pamornya, Pak."
Pamannya menatapnya. Lama. Di kegelapan gudang, Kinanthi tidak bisa membaca matanya, dan untuk pertama kali ia bersyukur tidak bisa.
"Susah?" kata Wirantaka pelan.
"Susah," Kinanthi mengulang. "Pamornya halus sekali. Bahannya bagus sekali." Ia berhenti. Lalu, karena ia tidak bisa menahan diri, karena bagian dari dirinya yang seorang empu lebih kuat daripada bagian yang takut, ia menambahkan, sangat pelan, sambil menatap pamannya: "Bahannya bagus sekali untuk keris tahun enam puluh dua, Pak."
Ia melihat sesuatu melintas di wajah pamannya. Sangat cepat, seperti percikan yang padam sebelum sampai ke tanah. Lalu Wirantaka memalingkan wajah.
"Sudah malam," kata pamannya. "Makan dulu. Jangan terlalu dipikir keris itu. Tiru saja yang kau lihat."
Ia pergi. Kinanthi berdiri sendiri di gudang gelap, dengan jantung berdebar, dan dengan satu kepastian baru yang lebih menakutkan daripada temuannya tadi: pamannya tahu. Pamannya sudah tahu, dari awal, jauh sebelum ia memberi izin, bahwa keris itu menyimpan kebohongan tentang tahunnya. Dan tetap mengizinkannya melihat. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah keris itu berbohong. Pertanyaannya: kenapa, dan siapa yang menyuruhnya berbohong, dan apa yang masih disembunyikan di balik kebohongan setua enam puluh tahun itu.