Untuk menempa duplikat yang benar, Kinanthi tetap butuh memeriksa bagian terakhir yang belum ia lihat: pesi, tang besi yang masuk ke dalam deder, gagang kayu, dan tersembunyi di dalamnya. Pada banyak keris, justru di pesi ini empu menaruh tandanya. Ia meminta izin pamannya untuk membuka deder Sarpa Wedha. Pak Wirantaka menolak dua kali, dengan alasan yang berbeda-beda, dan baru pada permintaan ketiga, ketika Kinanthi mengingatkan bahwa Bu Wresni menjanjikan akses penuh dan duplikat tidak akan sah tanpa meniru pesinya, pamannya menyerah dengan wajah seorang yang menyerahkan kunci ke ruangan yang ia kunci sendiri puluhan tahun lalu.
Melepas deder dari pesi adalah pekerjaan yang sabar. Deder dipasang dengan getah dan dipanaskan tipis, dan Kinanthi mengerjakannya dengan tangan yang sangat hati-hati, sedikit demi sedikit, sampai kayu timoho itu lepas dan pesi besinya terbuka ke udara untuk pertama kali entah sejak berapa lama.
Ia membersihkan pesi dengan kain dan sedikit minyak, menghapus karat tipis dan kotoran tahun-tahun, dan ketika permukaan besi itu mulai terbaca di bawah cahaya senter yang ia miringkan, ia melihat goresan. Tanda tangan empu. Pada keris, empu kadang menggores cap atau inisial atau lambang kecil di pesi sebagai tanda buatannya. Di pesi ini ada tanda, dan Kinanthi mengenalinya, karena ia sudah melihatnya berkali-kali di gudang: tanda Ki Brajaguna, sebuah goresan menyerupai ular melingkar, sarpa, sesuai nama padepokan.
Ia hampir lega. Setidaknya tandanya benar. Setidaknya ada yang benar.
Tapi tangannya, yang tidak pernah bohong, menahan senternya sedikit lebih lama. Karena di bawah cahaya yang miring, di mana bayangan menonjolkan setiap relief sehalus apa pun, ia melihat sesuatu yang lain. Di bawah tanda ular Ki Brajaguna, samar, hampir rata dengan permukaan, ada bekas goresan lain. Goresan yang lebih tua. Goresan yang sudah dikikir, diratakan, dihaluskan supaya hilang, lalu ditimpa dengan tanda Brajaguna di atasnya.
Kinanthi menahan napas. Ia memiringkan senter dari sudut lain, lalu dari sudut lain lagi, mempelajari permukaan pesi seperti seorang dokter membaca tulang di bawah kulit. Bekas yang dikikir itu tidak hilang sepenuhnya. Tidak ada kikiran yang benar-benar menghapus goresan dalam pada besi, ia selalu meninggalkan hantu, perubahan tekstur, bayangan. Dan hantu di pesi ini berbentuk sesuatu. Bukan ular. Bukan tanda Brajaguna. Ada lengkung, ada garis-garis, ada bentuk yang berbeda sama sekali. Tanda empu lain. Diratakan. Lalu ditutup dengan tanda buyutnya.
Ia duduk mundur dari meja, tangannya gemetar sekarang, dan ia tidak mencoba menyembunyikannya karena tidak ada yang melihat. Pamannya menolak ada di ruangan ketika pesi dibuka, dan baru sekarang Kinanthi mengerti kenapa.
Satu tanda yang dikikir bisa saja kecelakaan, pikirnya, mencari pembelaan untuk keluarganya seperti ia selalu mencari. Mungkin Brajaguna memperbaiki keris empu lain dan menambahkan tandanya. Mungkin pesi ini diambil dari keris lain. Mungkin, mungkin. Tapi satu hal yang ia tahu dari tahun di gudang tadi, satu hal yang sudah ia kunci dalam dirinya, menolak setiap pembelaan: bilah ini bukan tahun enam puluh dua. Pamornya bilang begitu. Maka pesi ini juga bukan tahun enam puluh dua. Dan kalau pesi ini ditempa belakangan, kenapa ada tanda empu lain yang lebih tua, yang dikikir, di bawahnya?
Itu tidak masuk akal. Kecuali. Kinanthi menatap pesi itu, dan kepingan-kepingan mulai bergerak di kepalanya dengan logika dingin seorang empu. Kecuali tanda di bawah ini bukan ditempa bersama bilah ini. Kecuali tanda lama ini dipindahkan, dipalsukan, ditiru di permukaan pesi baru untuk membuat keris baru ini tampak menyimpan jejak yang lebih tua. Atau kecuali ada lebih dari satu keris dalam cerita ini, dan tanda-tanda telah dipertukarkan untuk membingungkan siapa pun yang melihat seperti Kinanthi melihat sekarang. Ia belum tahu. Tapi ia tahu satu hal dengan pasti, dan kepastian itu menggigit: tanda di pesi ini bukan untuk menghormati. Tanda di pesi ini untuk menutupi.
Ia memasang kembali deder dengan tangan yang dijaga agar mantap, mengembalikan keris ke warangka, dan tidak mengatakan apa pun pada pamannya selain bahwa pesinya sudah ia ukur. Wirantaka menatapnya, mencari di wajah keponakannya, dan Kinanthi membuat wajahnya sekosong yang ia bisa. Untuk kedua kalinya ia berbohong pada pamannya, dan kali ini ia tahu persis kenapa.
Malam itu ia tidak ke kamar. Ia ke gudang dokumentasi. Di antara peti-peti berdebu ada satu yang berisi buku-buku tempa lama padepokan, jurnal-jurnal tebal berisi catatan pesanan, bahan, tanggal, yang dijaga turun-temurun. Ia mencari yang paling tua. Ia menemukannya: sebuah buku bersampul kulit yang sudah retak-retak, dengan tahun-tahun ditulis di punggungnya dengan tinta yang memudar. Ia membukanya dengan hati-hati, membalik halaman demi halaman, melewati 1959, 1960, 1961, mencari tahun yang sudah membakar pikirannya sejak siang. 1962.
Halaman itu tidak ada.
Bukan kosong. Tidak ada. Antara halaman terakhir 1961 dan halaman pertama 1963, ada sisa-sisa kertas yang sobek di dekat jilidan, serat-serat yang menggantung, bekas robekan yang kasar. Seseorang telah merobek seluruh catatan tahun 1962 dari buku tempa padepokan. Dengan tangan. Dengan sengaja. Dan menyisakan sobekan itu seperti luka yang tidak dijahit.
Kinanthi memegang buku itu di pangkuannya, di gudang yang gelap, di malam yang sunyi, dan untuk pertama kali sejak semua ini dimulai ia merasa benar-benar takut. Bukan takut pada hantu, ia tidak percaya hantu pada keris. Takut pada manusia. Karena pamor yang salah zaman bisa kebetulan, tanda yang dikikir bisa salah baca, tapi halaman yang dirobek tidak bisa apa-apa selain disengaja. Tiga kejanggalan tidak lagi bisa disebut kejanggalan. Tiga kejanggalan yang menunjuk ke arah yang sama, ke tahun yang sama, adalah sebuah pola. Dan pola berarti ada seseorang, dulu, yang dengan tenang dan sabar dan teliti, menutupi sesuatu yang terjadi di besalen ini pada tahun 1962. Sesuatu yang berkaitan dengan seorang empu yang tandanya dikikir, dan sebuah keris yang berpura-pura jadi keris lain.
Ia menutup buku itu. Di luar, embun mulai turun. Dan Kinanthi tahu, dengan kepedihan yang tenang, bahwa ia sudah tidak bisa berhenti. Tangannya sudah membaca terlalu banyak.