meeting hari ini berjalan lancar tanpa Hambatan, para calon penulis yang akan bergabung dengan perusahaan mereka pun terlihat sangat puas dengan metode kerja di perusahaan yang Michael pimpin.
hingga siang ini Michael berhasil menandatangani kerja sama dengan beberapa penulis handal yang akan lebih memajukan perusahaan majalah yang di pimpinnya.
setelah selesai meeting Andin dan Mike pun mampir di salah satu mall untuk membeli kado, tadinya Andin sempat mengira jika Mike akan membelikan kado untuk kekasihnya, tapi ternyata dia kesini untuk membeli kado untuk ibunya.
selesai memilih barang Mike pun berencana langsung menemui ibunya. rupanya selama ini ibu dari bosnya itu ada di salah satu rumah sakit yang di khususkan untuk orang lanjut usia, selain memang sudah tua, ibu Mike ternyata mengidap penyakit demensia
karena kesibukan Mike dan kakak perempuannya mereka terpaksa menitipkan ibunya di rumah sakit itu, agar ibunya lebih mudah di awasi oleh perawat yang di sana.
" bapak bisa menurunkan saya di halte depan saja, saya nanti mau mampir ke kantor dulu untuk ngambil mobil", ujar Andin
" tidak perlu, saya yang akan antar kamu sampai ke rumah, mobil nanti saya suruh supir kantor yang antar, jawab Mike dengan pandangan yang tetap fokus ke jalanan yang ada di depannya.
Andin merasa mood bosnya ini sedang tidak baik dan sepertinya ada yang menggangu pikirannya.
" bapak ada masalah?? apa di meeting tadi ada yang kurang sesuai??
" saya cukup puas dengan hasil meeting kita, tak ada masalah! jawab Mike.
suami kamu apa kabar ?? tanya Mike tiba-tiba.
" suami saya?? mas Lukas baik-baik saja, hanya dia sekarang lagi dinas di luar kota !!
" kamu yakin dia di luar kota?? sudah berapa lama ?? tanya Mike lagi
" ya yakin ! sudah seminggu ! kemungkinan hari ini atau lusa suami saya akan pulang ! memang nya kenapa ya pak?? tanya Andin yang masih kurang paham maksud dari pertanyaan bosnya ini.
karena selama ini Mike tidak pernah kepo tentang kehidupan rumah tangganya.
" tidak apa-apa ! rumah kamu yang depan kan?? tanya Mike. ternyata mereka sudah sampai ke rumah Andin.
" terimakasih pak!
" Andin..., seru Mike saat Andin hendak membuka pintu mobil.
sekecil apa pun bentuk perubahannya, saya rasa kamu perlu bertanya atau pun sedikit curiga, ucap Mike yang di ikuti pandangan tak mengerti dari Andin.
" baik pak saya akan mengingatnya, ucap Andin asal.
saat mobil Mike meninggalkan rumah Andin, wanita itu masih berdiri di tempat semula, dia masih terus memperhatikan mobil itu sampai hilang di ujung gang.
" bunda.... teriak Amel yang datang dari dalam rumah dan langsung memeluk Andin.
" Hay sayang bunda.... kangen loh bunda ! ucap Andin sambil membalas pelukan anaknya.
" bunda pasti capek deh, masuk yuk Bun! ajak Amel
ibu dan anak itu pun masuk ke dalam rumah mereka, Andin langsung merebahkan badannya di sofa dan memegang kakinya yang lelah karena tadi keliling mall.
tak lama....
" ini minuman untuk istri ku tercinta!! ucap seseorang dari arah dapur.
" mas Lukas !! kamu kapan pulang ?? tanya Andin yang terkejut karena me Lo ingat suaminya sudah di rumah.
" papa siang tadi sampai nya Bun! jawab Amel.
" kok papa, ga ngabarin bunda sih ?? pesan bunda juga ga di balas !!
" maaf Bun, tadi papa kecapean, trus langsung buru-buru pergi meeting terakhir, jawab Lukas dengan wajah bersalah.
" iya deh bunda maafin, bunda mandi dulunya ! udah gerah, ucap Andin
" nanti sehabis bunda mandi, kita keluar ya ? makan malam !! ajak Lukas.
" yeeeeee... teriak Amel
aku ganti baju dulu ya pa! seru Amel semangat.
belum sempat papa dan bundanya menjawab Amel sudah langsung berlari menuju kamarnya.
" tunggu sebentar ya mas! aku mandi dulu ucap Andin yang di balas dengan anggukan kepala oleh suaminya.
di kamar Andin tidak langsung masuk kamar mandi, dia terlebih dulu membereskan pakaian Lukas yang diletakkan nya sembarangan.
saat membereskan pakaian suaminya itu, Andin mencium aroma parfum lain yang menempel pada baju Lukas.
tapi Andin menganggapnya sebagai angin lalu, karena dia berfikir mungkin itu parfum dari klien yang baru saja Lukas temui. dia pun membawa baju itu ke kamar mandi dan diletakkan di keranjang lalu bergegas membersihkan diri.
selesai mandi dan berpakaian rapi, Andin lalu menuju ruang tengah tempat suami dan anak sedang menunggu.
malam itu mereka memilih makan malam di salah satu food court yang lumayan terkenal, tempat nya nyaman dan cocok untuk pelanggan yang membawa anak.
karena di sebelah tempat makan itu di sediakan area bermain anak yang cukup luas.
setelah kenyang dan Amel puas bermain, kini saatnya mereka untuk pulang ke rumah dan beristirahat.
" Amel udah tidur mas?? tanya Andin
" sudah, kelihatannya dia kecapean, begitu nempel bantal langsung tidur, jawab Lukas sambil berbaring di samping istrinya.
" kamu capek ga mas?? tanya Andin yang memeluk suaminya dari samping
" capek banget, beberapa hari ini aku semakin sibuk, dan kurang tidur, jawab Lukas.
Andin yang awalnya ingin meminta jatah nafkah batin pun mengurungkan niatnya kala melihat mata Lukas yang terpejam tanpa balik membalas pelukannya.
" kasian kamu mas, demi keluarga ini kamu sangat kerja keras, sampai kelelahan gitu, ucap Andin dalam hati.
" Astaga !! seru Lukas yang tiba-tiba terbangun.
" kamu kenapa mas ?? seru Andin kaget
" handphone aku ketinggalan di mobil, seru Lukas.
aku ambil dulu, takut tiba-tiba ada orang kantor yang telepon, kamu tidur duluan aja ! aku batyu ingat ada beberapa berkas yang harus aku cek ulang, ucap Lukas dan langsung beranjak keluar kamar.
Andin pun akhirnya memutuskan untuk tidur, karena besok dia harus kembali beraktifitas di kantor seperti biasa.
namum entah sudah berapa kali dia membolak-balik kan badannya, mata Andin tak kunjung mau terpejam.
saat itu jam di kamar nya sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi suami
nya belum juga kembali ke kamar.
Andin pun memutuskan untuk melihat suaminya di ruang kerja tapi sebelum itu Andin melangkah ke arah dapur untuk membuat secangkir teh jahe yang akan menemani Lukas bekerja.
dengan langkah perlahan Andin berjalan menuju ruang kerja Lukas, saat dia hendak membuka pintu, sayup-sayup terdengar suara Lukas dari arah dalam yang sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon.
tapi kenapa nada bicaranya begitu lembut dan mesra ?
sepertinya seseorang yang sedang bicara dengan pacar saja, pikir Andin saat itu.
wajah Andin seketika menegang begitu mendengar suaminya memanggil orang yang di telepon itu dengan sebutan 'beb'.
karena sepengetahuan Andin 'beb' adalah panggilan sayang yang mereka gunakan di masa pacaran dulu.