seperti biasa di Minggu pagi ini, Andin bangun lebih dulu untuk menyiapkan sarapan bagi suami dan anaknya.
tepat pukul 7 pagi, dua orang yang paling dia sayangi itupun secara bersamaan turun dari tangga, dengan wajah yang masih setengah mengantuk baik Amel maupun sang suami langsung memeluk Andin.
"waduh.... nie 2 bayi besar kenapa pagi-pagi udah pada manja gini??" seru Andin sambil membalas pelukan keduanya.
"masih ngantuk bundaaaa..." jawab mereka hampir berbarengan.
" sekarang papa sama Amel cuci muka dulu sana, bunda udah siapin sarapan".
Dengan sedikit malas, ayah dan anak itupun beringsut menuju kamar mandi lantai bawah untuk menjalankan perintah dari sang bunda.
pagi itu mereka sarapan bertiga, hal yang sederhana namun sudah sangat jarang mereka lakukan karena kesibukan dari Lukas.
suasana meja makan pagi itu sangat ceria, karena mereka bersantap sambil sesekali bertukar cerita tentang kegiatan dan keseharian Amel selama di sekolah.
saat sedang asik bercengkrama itulah, tiba-tiba handphone Lukas berdering, setelah melihat nama yang tertera di layar telepon, dia sedikit menjauh dari meja makan, dengan tetap memasang raut wajah serius dia berbicara dengan seseorang di seberang sana.
tidak beberapa lama kemudian Lukas pun kembali melanjutkan sarapannya.
"Dari siapa mas?" tanya Andin.
" Dari klien Bun! dia kurang puas sama design yang ayah kirim, jadi dia minta ketemu hari ini untuk membahas dan menyelesaikan pekerjaan, karena ini proyek urgen"
" jadi hari ini kita ga jadi ke taman hiburan dong?" celetuk Amel.
"maafin papa ya sayang, jangan cemberut gitu dong anak papa", ucap Lukas sambil membujuk sang anak.
" nanti kalau kerjaan papa udah beres, kita sekeluarga pasti akan pergi liburan, papa janji," seru Lukas sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
tapi sepertinya sang anak sudah terlalu kecewa karena selalu gagal untuk pergi berlibur dengan sang papa, hingga Amel pun bangkit dari kursinya dan berlari menuju kamar.
"hmmm... memang ga bisa di tunda ya mas, kasian loh Amel, dia kecewa banget pasti sama kamu".
" mau gimana lagi, ini juga udah tanggung jawab aku sebagai arsitek, kamu bujuk lagi Amel gih, aku mau siap-siap dulu," seru Lukas yang beranjak menuju kamar.
" kamu kenapa berubah sih mas, padahal dulu kamu rela ninggalin pekerjaan besar demi nyenengin anakmu?" seru Andin dalam hati.
Setelah membereskan meja makan, Andin pun menemui sang putri di kamar, dia mencoba membujuk dan memberi pengertian kepada sang anak tentang kesibukan papanya akhir-akhir ini.
Karena cara bicara Andin yang lembut akhirnya Amel pun mengerti dan sikapnya mulai melunak. namun dia tetap ingin pergi ke taman hiburan meski tanpa sang papa.
Akhirnya setelah Lukas pergi bekerja, Andin pun menelpon seorang temannya, dia mengajak sang teman untuk berlibur dengan mereka.
_______________
hari sudah cukup siang ketika Andin tiba di salah satu taman bermain yang cukup luas dan terkenal di kota X.
" Tante Tiara," teriak Amel Sambil berlari menghampiri seseorang yang di kenalnya.
" hai cantiknya Tante, udah siap buat main?".
" siap dong", jawab Amel semangat.
mereka bertiga pun segera masuk ke area bermain, Amel terlihat sangat antusias mencoba semua permainan yang ada di sana.
hingga membuat kewalahan Tiara dan sang bunda.
" maaf ya Ra! aku jadi ganggu waktu istirahat kamu," ucap Andin sambil meneguk air mineral yang tadi di belinya.
" ga apa-apa mbak, kebetulan aku juga lagi ga ada acara".
" liat tu dia senang banget main trampolin," seru Tiara lagi sambil melihat kearah Amel yang tengah asik bermain dengan teman baru yang ia kenal di sana.
" dia udah lama banget ngajakin ke sini, tapi baru sekarang kesampaian", ucap Andin membicarakan sang anak.
mungkin karena sudah kelelahan, Amel pun menghampiri sang bunda.
" Bun... Amel laper", serunya
" kalo gitu, ayo Tante traktir Amel makan ayam goreng", ucap Tiara yang langsung di sambut gembira oleh Amel.
Tak jauh dari lokasi area bermain memang terdapat salah satu resto fast food yang sangat terkenal dan di gemari Amel.
mereka pun memilih makan di sana, karena lokasinya yang cukup dekat, hingga mereka bisa menuju resto itu hanya dengan sedikit berjalan kaki.
berjalan santai menuju resto, tiba-tiba saat di penyebrangan jalan mata Andin seperti melihat seseorang pria yang sangat di kenalnya, pria itu adalah Lukas yang saat ini tengah berada di dalam mobil bersama dengan seorang wanita yang tidak Andin tau pasti itu siapa.
gestur mereka terlihat sangat mesra dan intim, sampai-sampai tidak perduli dengan orang yang lalu lalang di depan kendaraan mereka.
jika saja tangan Andin tidak di tarik Amel mungkin dia masih berdiri di sana untuk memastikan penglihatannya.
" bunda lagi liatin apa sih?" tanya Amel saat mereka sudah tiba di seberang jalan.
" ga.. bunda ga liat apa-apa", ucap Andin sedikit tergagap.
" ayo kita masuk," ajak Tiara sambil membuka pintu resto.
" mbak duduk di sini aja, biar aku yang pesan, ucap Tiara saat melihat Andin sedikit linglung.
Andin pun menurut dan duduk di sebelah anaknya, setelah pesanan mereka datang, Amel dan Tiara melahap masing-masing 2 potong ayam dengan semangat dan tanpa sisa sementara Andin masih menatap kosong ke bahu jalan.
Amel yang melihat bundanya termenung pun hanya bisa diam, karena Tiara melarangnya mengganggu sang bunda dengan alasan bundanya lelah.
setelah menghabiskan makannya, mereka pun pulang,dengan Tiara yang menyetir mobil sementara Andin duduk sendiri di belakang masih dengan lamunannya.
dia pun tak bergeming ketika kendaraan yang mereka naikin akhirnya sampai di kediaman mereka.
karena hari yang memang sudah menjelang malam dan kelelahan Amel pun langsung menuju kamarnya untuk istirahat.
sementara Andin dan Amel masih di ruang tamu untuk mengobrol.
" mbak... mbak Andin panggil Amel dengan suara sedikit keras.
" ia kenapa??
" jangan terlalu mbak pikirkan, dan jangan berpikiran buruk dulu, siapa tau yang mbak liat tadi teman kantor mas Lukas," ucap Tiara yang rupanya juga melihat Lukas tadi.
" tapi mereka tadi pegangan tangan, dan sangat mesra, apa lagi akhir-akhir ini sikap Lukas beda banget sama kami," jelas Andin yang tidak bisa menutupi kegelisan dari raut wajahnya.
" aku paham banget pasti mbak shock dan bingung, tapi mbak harus jaga ekspresi wajah mbak di depan Amel, kasian lo dia tadi... Dia bingung liat mbak tiba-tiba diem dan banyak ngelamun," jelas Tiara.
" Astaga.." seru Andin yang seakan tersadar akan sesuatu. Jadi sekarang Amel di mana? Tanyanya lagi.
" Dia udah bebersih di kamar, di temani bibik, pasti sekarang udah tidur karena keliatannya dia capek banget," jelas Tiara.
" Makasih ya ra' yang kamu bilang bener, mbak ga boleh berburuk sangka dulu, nanti aku mau bicarakan semuanya dengan mas Lukas, biar semua jelas", seru Andin dengan sedikit optimis