Naia mengumumkannya di dapur, di pagi yang Rasya kira biasa.
"Aku pindah," kata Naia, dua puluh delapan sekarang, dengan ketenangan perempuan yang sudah memutuskan. "Sama Rafi. Kami sewa tempat di Tebet."
Rasya menaruh sendok pelan. "Rafi yang jurnalis."
"Rafi yang jurnalis," ulang Naia, dan ada tantangan halus di matanya, karena ia tahu apa yang akan menyusul.
Rasya tahu Rafi. Anak muda yang serius, baik, dengan kelaparan di matanya yang Rasya kenali terlalu baik. Dan ia tahu apa yang Rafi kejar, karena Naia tidak pernah pandai menyembunyikan: Rafi ingin menulis tentang Bram. Bukan sebagai romansa keluarga. Sebagai isu hak asasi manusia—operasi tanpa persetujuan, sistem yang menelan manusia, kebenaran yang disegel negara.
"Naia," kata Rasya, dan suaranya keluar lebih protektif daripada yang ia maksudkan. "Kamu sadar apa yang kamu lakukan?"
"Aku jatuh cinta sama orang yang mau membongkar kakek," kata Naia langsung, karena ia anak Rasya, dan keluarga ini tidak pandai berbasa-basi soal hal penting. "Iya. Aku sadar."
"Itu—" Rasya mencari kata. "Itu polanya, Nai. Persis polanya. Nenekmu mencintai pria yang membawa bahaya rahasia. Aku menikahi cerita itu, mengejarnya tiga tahun sampai hampir kehilangan ayahmu. Dan sekarang kamu—" ia berhenti. "Kamu pindah dengan seseorang yang mau menjadikan rahasia keluarga kita sebagai berita."
"Aku tahu," kata Naia pelan. "Aku lihat polanya jauh lebih jelas dari Mama waktu seumuranku. Aku baca semua catatan Tante Indri, semua naskah Mama, dua buku Nenek. Aku tahu persis di lingkaran mana aku berdiri."
"Lalu kenapa—"
"Karena melihat pola bukan berarti harus lari darinya," kata Naia, dan untuk sesaat ia terdengar lebih tua dari ibunya. "Mama berdamai dengan kakek dengan cara berhenti mengejar rahasianya. Itu cara Mama. Tapi itu bukan satu-satunya cara. Mungkin caraku adalah mencintai seseorang yang mengejar kebenaran, dan belajar di mana batasnya bersama dia. Bukan mengulang luka Nenek. Mengubahnya."
Rasya menatap putri bungsunya—penulis, seperti neneknya; rentan pada narasi, seperti seluruh garis perempuan ini—dan merasakan ketakutan dan kebanggaan bertabrakan di dadanya sampai sakit.
"Aku nggak bisa melindungimu dari ini," kata Rasya akhirnya, dan itu pengakuan, bukan menyerah.
"Aku nggak minta dilindungi," kata Naia lembut. "Aku cuma minta Mama nggak bilang aku mengulang kesalahan, padahal aku memilih dengan mata terbuka. Itu beda. Nenek nggak tahu apa yang dia masuki. Aku tahu. Dan aku tetap memilih. Itu bukan pola yang berulang, Ma. Itu pola yang akhirnya seseorang putuskan dengan sadar."
Rasya tidak punya bantahan. Karena anaknya benar—dan karena ia ingat ibunya, di rekaman wawancara itu, memilih untuk mencintai dengan ruangan tertutup. Setiap perempuan di keluarga ini mewarisi bahaya yang sama, tapi masing-masing memilih bagaimana membawanya.
Ia memeluk Naia, lama.
"Bawa pulang Rafi minggu depan," bisiknya. "Aku mau lihat sendiri pria yang mau membongkar ayahku."
Naia tertawa di pelukannya, dan di luar, Bintaro mendengarkan satu generasi lagi memutuskan apa yang akan ia wariskan.
(bersambung...)