Rumah Bintaro berusia tiga puluh tujuh tahun pada bulan Maret itu, dan Rasya tahu persis karena dia menyimpan akta jual belinya di laci paling bawah meja kerja, di antara surat-surat pajak dan polis asuransi yang tidak pernah dia baca ulang.
Lara dan Bram membelinya ketika mereka masih muda dan bodoh dan penuh harapan—begitu kira-kira bunyi cerita yang Rasya warisi. Sebuah rumah dua lantai dengan halaman yang terlalu besar untuk dirawat dan atap yang bocor di musim hujan pertama. Sekarang catnya sudah pudar tiga kali, pohon mangga di depan sudah lebih tua dari semua cucu, dan Rasya berdiri di ambang pintu sambil memutuskan apa yang akan dia lakukan dengan semua ini.
Bukan pesta. Dia sudah tegas soal itu pada dirinya sendiri. Pesta terasa salah, seperti merayakan sesuatu yang belum dia mengerti sepenuhnya. Yang dia inginkan adalah peringatan—kata yang lebih jujur, kata yang mengakui bahwa rumah ini menyimpan sebanyak yang dia berikan.
"Kau yakin tidak mau katering saja?" Eka bertanya dari dapur, di mana dia sedang mengukur ruang untuk meja tambahan dengan mata insinyurnya. "Kau selalu masak terlalu banyak lalu menyesal."
"Aku mau masak," kata Rasya. "Itu bagian dari intinya."
Eka tidak mendebat. Setelah hampir tiga puluh tahun dia tahu kapan istrinya sedang memproses sesuatu lewat tindakan, bukan kata-kata. Dia hanya mengangguk dan kembali mengukur, lelaki berdasar yang menikahi perempuan yang mewarisi terlalu banyak hantu.
Rasya berjalan ke ruang tengah. Di sini, di sofa yang sudah diganti tetapi di tempat yang sama, ibunya pernah duduk menulis untuk hantu. Di sini Bram pernah pulang larut dengan keheningan yang dia bawa seperti mantel. Di sini Rasya tumbuh, lalu pergi, lalu kembali sebagai pewaris.
Pertanyaannya bukan apakah rumah ini layak disimpan. Pertanyaannya adalah apakah menyimpannya berarti merawat atau memenjarakan. Apakah rumah menahan mereka, atau mereka menahan rumah?
Dia mengirim pesan ke grup keluarga. "Sabtu depan. Bintaro. Bukan pesta. Kita perlu bicara soal rumah. Datang kalau bisa, mengerti kalau tidak."
Balasan datang berurutan. Ara: "Aku datang." Dika: "Pulang dari Bandung Jumat malam." Naia: "Boleh bawa Rafi?" Eka, yang duduk di sebelahnya dan membaca dari layar yang sama: "Tentu boleh."
Rasya menatap layar lebih lama dari yang diperlukan. Tiga anak, tersebar di tiga kota, tiga kehidupan yang dia tidak lagi kendalikan. Inilah seperti apa warisan terlihat di usia mereka sekarang—bukan rumah, walaupun itu juga, tapi ini: mengumpulkan orang-orang yang dulu kau letakkan di kamar tidur kecil, dan bertanya pada mereka apa yang harus dilakukan dengan tempat yang membentuk mereka.
Dia menambahkan satu pesan terakhir. "Aku akan undang Bu Indri juga."
Karena Indri masih hidup, masih tajam, masih membawa kasus terakhir yang tidak pernah benar-benar dia tutup. Dan Rasya tahu bahwa peringatan ini tidak akan lengkap tanpa perempuan yang mencintai ibunya dengan cara seorang detektif: dengan menolak melepaskan.