Hati yang sama-sama tengah bersedih dan gundah itu, kini tengah berjauhan dan terpisah. Namun tetap semua yang ada dalam d**a dan kepala adalah dirinya satu sama lain.
‘Kenapa semakin kumembencinya, semakin banyak dirinya memenuhi isi kepalaku...’
Begitu sesal Shinta, tak sanggup ia melupa akan dirinya dan perbuatannya.
“Hhhh....”
Napas berat terus saja di hembuskannya, namun tak dapat menghempaskan apa yang begitu berat membebani perasaannya.
“Shinta...”
Hanya selalu satu kata, yaitu namanya yang terucap dari bibir yang sejujurnya ingin berucap sampai berbusa-busa itu. Ia tahu bukan saatnya ia memberikan kata-kata seperti
‘Jangan sedih...’
Mau dilarangpun sedih itu pasti tengah ada memeluknya,
‘Jangan di pikirkan...’
Tak mungkin ia tak memikirkan dirinya yang tak lain adal