Tercium bau besi di udara. Qin Raven langsung tahu ada darah di gedung sekolah itu. Langkahnya berhenti tepat di depan koridor menuju area UKS yang remang karena lampu padam sebagian. Beberapa siswa berbisik takut, sementara dua guru berdiri panik, mencoba menutupi sesuatu dengan alasan “perbaikan listrik”.
Qin Raven tersenyum tipis.
“Perbaikan? Di jam pelajaran? Dan di area yang paling krusial?”
Mata hitamnya menajam, menangkap detail kecil yang orang lain abaikan: noda merah berukuran kecil menetes di lantai, menciptakan pola tidak beraturan jejak yang baru saja terjadi.
[System] Peringatan.
Anomali terdeteksi. Potensi insiden: 87%.
Misi Wajib: ‘Lindungi Target Kecil’.
Waktu tersisa: 14 menit 22 detik.
Target Kecil.
Satu-satunya orang yang cocok dengan deskripsi itu adalah gadis kecil berusia 12 tahun yang nanti menjadi adiknya Qin Yuwei.Raven merasakan debar kecil di dadanya… bukan karena panik, tapi karena marah.
“Jika seseorang menyentuhnya… maka dunia ini perlu kubersihkan lebih cepat dari rencana awal.”
“Tuan Qin… mengapa Anda ada di sini?”
Guru laki-laki itu mencoba tersenyum, tapi wajahnya pucat.
“Sekolah menerima laporan bahwa Yuwei jatuh pingsan di lapangan,” kata Raven santai. “Tapi entah mengapa… dia tidak ada di sana.”
Sekejap, pupil guru itu menyempit.Raven menangkapnya.
“Begitu,” tuturnya lembut terlalu lembut.
Seorang guru wanita berdiri menahan pintu UKS, seolah tidak ingin Raven masuk.
“Maaf, UKS sedang—”
BRAK.
Raven menendang pintu tanpa memberi kesempatan.Pemandangan di dalam membuat udara membeku.Ruangan yang seharusnya berbau antiseptik kini beraroma logam. Di sudut ruangan, tempat tidur putih sudah ditarik ke samping. Lantai terdapat bekas geseran panjang seperti seseorang diseret paksa.
Dan di meja, ada syal kecil warna biru muda.
Syal milik Yuwei.Jemari Raven meremasnya. Senyum lembutnya pudar, berubah menjadi ekspresi yang membuat bulu kuduk berdiri.
“Siapa.”
Satu kata. Tidak lebih. Tapi itu cukup membuat kedua guru itu gemetar.Guru laki-laki itu menelan ludah.
“Kami… kami—”
“Saya bertanya sekali saja.”
Ta-ta-ta.
Langkah kaki berat terdengar dari belakang gedung.Guru wanita itu pucat seketika.
Raven menyadari semuanya dalam satu detik.
“Kalian bukan penculiknya.”
Dia melangkah maju. “Kalian penutupnya.”
[System] Analisis: Kedua orang ini dipaksa. Ancaman utama berada 16 meter di belakang gedung.Dalam hitungan detik, Raven keluar melalui pintu belakang UKS dan melihat sebuah mobil hitam tanpa plat berhenti dengan mesin menyala.
Di kursi belakang, terlihat bayangan tubuh kecil sedang berusaha menendang pintu dari dalam.
Yuwei.
“Berhenti!” teriak seorang pria dari arah kanan sambil menarik sesuatu dari pinggangnya.Raven tidak menjawab.Ia hanya melangkah.Empat penculik keluar dari semak-semak, memegang pisau dan tongkat besi. Seharusnya, pria biasa akan panik atau melarikan diri.
Tapi Raven menatap mereka seolah mereka hanyalah sampah.“Keluarkan Yuwei dari mobil itu,” ujarnya datar.
“Atau kalian tidak akan pulang dengan tubuh utuh.”
Pria bertato itu tertawa. “Bocah kaya sok berani! Tahu siapa yang menyuruh kami? Tuan—”
DOR!
Tendangan Raven menghantam dagunya sebelum kata itu selesai. Tulang rahang pria itu bergeser dengan suara patah yang jelas.Dua orang lain menyerbu.Raven bergerak seperti bayangan cepat, dingin, tanpa ragu.
Satu pukulan ke solar plexus.Satu hentakan ke tengkuk.Lalu satu lemparan ke tanah hingga tubuh lawan terkapar, mengerang minta ampun.
Penculik terakhir mencoba masuk ke mobil. Raven meraih pergelangannya, memelintirnya hingga terdengar bunyi krak.
Pria itu menjerit.
“Siapa yang memerintahkan kalian?”
Suara Raven tenang. Tenang yang berbahaya.
“Ka—kai… tidak boleh kukatakan! Kalau kubilang, aku—ARGH!”
Raven menekan titik syaraf pria itu.
“Nama.”
Satu kata. Namun bertenaga seperti pisau.
“Dia… dia orang dekat tunanganmu! Dia bilang… bawa gadis itu… buat mengancammu untuk tidak memutuskan—”
Raven membeku.
Tunangannya.Jadi permainan sudah dimulai bahkan sepuluh tahun lebih awal dari waktunya.
Ia merasakan sesuatu yang dingin merambat di punggungnya.Rasa jijik yang familiar.
“Baik.”
“Terima kasih untuk informasinya.”
Pria itu menangis lega. “Jadi… kau tidak akan—”
BRUK.
Raven memukul tengkuknya hingga pingsan.
Ia membuka pintu mobil.Yuwei menatapnya dengan mata berkaca-kaca.Tubuh kecilnya gemetar.
“G-ge…ge…”
Raven berlutut, meraih pundaknya lembut.
“Tidak apa-apa. Kakak di sini.”
Yuwei langsung memeluknya erat, menangis tersedu-sedu.Raven tidak pernah menyukai anak kecil sebelumnya.Namun saat ini, ia merasakan perasaan aneh melindungi, menghangatkan, sekaligus marah karena seseorang menyentuh keluarganya.
[System] Misi ‘Lindungi Target Kecil’ BERHASIL.
Hadiah: Identitas Tambahan – ‘Pemilik Bayangan’.
Kemampuan: Mengakses jaringan informasi bawah tanah.]
Raven tersenyum tipis.
“Tepat seperti yang kubutuhkan.”
Namun sebelum ia sempat berdiri, System berbunyi lagi:
[Peringatan.
Ancaman baru terdeteksi.
Target: Qin Raven.
Lokasi: 600 meter mendekat.]
Raven mengangkat kepalanya.Di ujung jalan, sebuah mobil mewah melaju cepat ke arahnya.
Ia mengenali nomor plat itu.Dan wajahnya tertutup kegelapan penuh kebencian.
“Dia.”
Tunangannya.
Mobil itu berhenti dengan keras tepat di depan merekadan pintu terbuka perlahan, memperlihatkan orang yang di masa lalu menusuknya paling dalam.