Gisela bangun dari duduknya. Perempuan itu merentangkan kedua tangannya. Menutup mata sejenak untuk menikmati sentuhan angin. Ingin rasanya terbang bebas. Namun ia sadar ke mana dirinya harus pulang.
Liburan ini terasa sangat menyenangkan. Di sini dirinya begitu menikmati waktu sendiri. Akan tetapi jauh dalam lubuk hatinya merindukan sang kekasih. Bagaimana keadaan Manggala saat ini. Apakah lelaki itu bak-baik saja.
Bagaimana reaksinya ketika tahu dirinya akan hamil. Apakah lelaki itu akan mengakui ini anaknya. Oh, Tuhan ini benar-benar menyiksa dirinya.
Tanpa wanita itu sadari ada seseorang yang berada di belakangnya. Tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh munggil tersebut. Sontak saja Gisela memberontak. Akan tetapi, ia terpaku saat mendengarkan suaranya.
“Aku merindukanmu, Sela!”