Gisela mengerjap pelan. Mencoba buka mata dan menyesuaikan dengan cahaya yang sedikit menyilaukan. Perempuan itu membuang napas dalam ketika melihat selang infus terpasang pada lengannya. Bagi dirinya semua masih terasa mimpi. Masih belum percaya dengan apa yang telah terjadi.
Pernah sekali ia berharap, lelaki itu hadir dan memeluknya. Namun, yang ia dapatkan selalu kekosongan belakang. Tak ada siapa-siapa pun di sisinya. Hanya ada calon anaknya yang masih bersemanyam di dalam kandungan.
Karena lelaki itu tak akan pernah hadir kembali dalam kehidupannya. Dan ini sudah menjadi keputusannya untuk pergi dari kehidupan pria tersebut. Biarkan ia membersarkan seorang diri.
“Kamu benaran?” tanya Aya kala itu dengan tatapan khawatir, “Kakak pasti marah kalau tahu kamu menyembunyikan ini semua