“Aku nggak bisa,” Sela menggeleng pelan. Yang diinginkan Aya sungguh sangat sulit untuk dikabulkannya. Cukup kesalahan pertama ia lakukan. Tidak untuk kedua kalinya. Dan kali ini, ia akan tegas dengan keputusan yang telah diambil. “Maaf.”
Mungkin dulu ia diperbudak oleh cinta. Tak tahu mana yang benar dan salah. Meskipun ia tahu kelak itu semua akan menyakitkan. Namun, tetap saja ia menjalani ini semua dengan tangisan di malam hari. Membuat hatinya semakin hancur berkeping-keping tanpa sisa. Dan menjadikan setiap hari serasa kelabu. Tak ada warna lain. Karena ia telah menutup semuanya.
Padahal di luar sana masih banyak hal yang menyenangkan selain tentang cinta. Namun, ia telah dibutakan oleh rasa tersebut. Hingga tak bisa melihat yang lainnya. Seharusnya, dirinya tak mencurahkan seluru