“Sela,” Aya memanggil wanita hamil itu yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Menatapnya dalam-dalam. Seolah Gisela berkata apakah keputusan yang diambil sudah benar. Kembali ke dalam rumah yang akan membawanya ke dalam jurang kepedihan lagi. Terdapat sebuah rasa takut. kecewa yang sama sekali tidak diketahui Aya. “Kamu tidak apa-apa?”
Alayya memegang pelan lengan sang kawan. Membuat wanita itu menoleh ke arahnya dan tersenyum pelan. Namun, dirinya tahu itu semua hanya menutupi rasa sakit yang dipendamnya selama ini. Ada guratan berbeda dalam raut wajah Sela. Dan itu membuat Aya mengamati lebih dalam. Karena dirinya sangat penasaran dengan apa saja yang disembunyikan perempuan itu.
Ingin rasanya Aya bertanya lebih dalam. Akan tetapi, ia mengurungkan. Melihat Gisela seperti ini, ia mer