Tembakan itu menggema, tapi Damar masih berdiri.
Selama satu detik yang terasa seperti satu jam, ia tidak mengerti kenapa dadanya tidak terasa apa-apa. Tidak ada panas, tidak ada robekan. Hanya telinganya yang berdenging, penuh, seperti ditampar dari dalam. Bau mesiu menyengat. Asap tipis mengambang di antara dirinya dan Salim.
Lalu ia paham. Pintu baja gudang itu meledak dari engselnya tepat di detik Salim menarik pelatuk. Dobrakan tim gabungan mengguncang seluruh ruangan, menggetarkan lantai beton, dan tangan Salim — yang seharusnya stabil — tersentak naik sepersekian detik sebelum peluru lepas. Proyektil itu lewat di samping kepala Damar, menghantam dinding seng di belakangnya, meninggalkan lubang sebesar kepalan tangan.
"Tiarap! Tiarap! Letakkan senjata!"
Suara-suara membanjiri gudang. Sinar senter taktis menyilangi kegelapan seperti pisau cahaya. Damar menjatuhkan diri ke lantai, menutup kepala dengan kedua lengan, jantungnya menghantam tulang rusuk begitu keras hingga ia yakin orang lain bisa mendengarnya.
Salah satu pria besar di sisi Salim mengangkat sesuatu yang berkilau. Ia tidak sempat menyelesaikan gerakannya. Dua letusan pendek, tegas, dari arah pintu. Pria itu terhuyung, lalu jatuh menimpa tumpukan peti, dan tidak bergerak lagi. Pria kedua langsung menjatuhkan senjatanya, mengangkat tangan tinggi-tinggi, berteriak bahwa ia menyerah.
Salim tidak berteriak. Salim tidak lari.
Ketika Damar mengangkat kepala, ia melihat pria berambut perak itu berdiri kaku di tengah lingkaran moncong senjata, pistolnya masih di tangan, mengarah ke bawah sekarang. Wajahnya — wajah yang selama berminggu-minggu menghantui mimpi Damar dengan ketenangannya yang dingin — untuk pertama kali kehilangan ketenangan itu. Bukan ketakutan. Sesuatu yang lebih buruk: perhitungan yang gagal. Seorang akuntan yang baru saja menyadari angka-angkanya tidak bisa lagi dibuat seimbang.
"Letakkan. Sekarang." Seorang petugas dengan rompi bertuliskan huruf besar melangkah maju, laras membidik dahi Salim.
Untuk sesaat Damar mengira Salim akan memilih jalan lain. Mengangkat pistol itu sekali lagi, menyelesaikan satu hal terakhir, seperti katanya. Tapi Salim hanya menunduk, menatap senjata di tangannya seolah benda asing, lalu membungkuk pelan dan meletakkannya di lantai beton. Logam berdenting. Ia mundur selangkah, menyatukan kedua tangan di belakang kepala, dan tersenyum tipis — senyum orang yang kalah catur tapi belum mau mengakui papan sudah tamat.
"Anda terlambat sepuluh menit, Tuan-tuan," kata Salim, suaranya tetap halus. "Atau mungkin tepat waktu. Tergantung dari sisi mana Anda menghitung."
Borgol mengatup di pergelangan tangannya dengan bunyi klik yang, bagi Damar, terdengar seperti dentang lonceng.
Damar merangkak ke arah Arini. Wartawan itu masih terikat di kursi, tubuhnya membungkuk ke depan sejauh ikatan mengizinkan, matanya terbuka lebar di atas plester yang menutup mulutnya. Damar menarik plester itu sehati-hati yang bisa ia lakukan dengan tangan yang gemetar hebat.
"Damar," Arini terbatuk, suaranya serak, bibirnya pecah dan berdarah. "Kamu—kamu masih hidup."
"Kita berdua." Damar berjuang melepas simpul tali di pergelangannya. Jari-jarinya tidak mau menurut. Seorang petugas medis menyibakkannya dengan lembut dan mengambil alih dengan gunting. "Kita berdua masih hidup, Rin."
Arini tertawa — suara aneh, separuh isak, separuh kemenangan. "Mereka sampai. Aku kira tidak ada yang akan datang."
"Bukan mereka yang aku panggil." Damar menelan ludah, tenggorokannya kering pasir. "Aku tidak menghapusnya. Email anonim itu. Tiga jam yang Salim kasih, aku tidak pakai buat nyerah. Aku pasang rilis otomatis. Jam enam pagi, semua datanya terkirim. Diagram, email pengakuan soal Pak Gunawan, daftar nama-nama itu. Ke wartawan asing, ke akun-akun medsos, ke lembaga antikorupsi internasional. Semua, sekaligus."
Mata Arini melebar. Ia menoleh ke arah jendela tinggi gudang yang mulai pucat oleh fajar.
"Jam enam," bisiknya. "Sekarang jam berapa?"
Seorang petugas di dekat mereka, yang sedari tadi mendengarkan tanpa berkata, mengangkat ponselnya. Layar menyala. Di sana, di bawah jam yang menunjukkan pukul 06.14, notifikasi-notifikasi berjatuhan satu demi satu, terlalu cepat untuk dibaca. Sebuah nama tagar yang Damar tidak ciptakan, tapi yang baru saja lahir dari benih yang ia tanam, sudah merangkak naik di urutan teratas.
Petugas itu menatap Damar lama. "Jadi ini ulah kamu."
Damar tidak menjawab. Ia memandang Salim yang dibawa keluar, punggung lurus di antara dua petugas, dan untuk pertama kali sejak ia membuka berkas Cakrawala di lantai dua belas Gedung Mahanusa berminggu-minggu lalu, ia membiarkan dirinya bernapas sampai ke dasar paru-paru.
Di luar, helikopter masih berputar. Cahaya pagi menerobos lubang peluru di dinding seng, menggambar titik terang di lantai gudang, tepat di tempat Damar seharusnya jatuh.