Seluruh negeri bangun tidur dan mendapati lantainya retak.
Di warung-warung kopi, di angkutan umum, di ruang-ruang rapat sarapan para direktur, satu nama meledak serentak: Cakrawala Energi Nusantara. Skema Ponzi. Triliunan. Pembunuhan auditor. Daftar pejabat. Kata-kata yang semalam masih rahasia, pagi ini sudah menjadi milik semua orang.
Damar menontonnya dari layar televisi kecil di pos keamanan pelabuhan, dibungkus selimut darurat yang diberikan petugas medis, secangkir teh manis panas mengepul di tangannya. Ia belum tidur. Ia tidak yakin akan bisa tidur untuk waktu yang lama.
"...dokumen yang beredar luas sejak pukul enam pagi tadi mengindikasikan bahwa PT Cakrawala Energi Nusantara, emiten yang sahamnya melonjak tiga ratus persen dalam empat bulan terakhir, diduga kuat menjalankan skema investasi bodong berkedok perusahaan energi," kata pembaca berita, suaranya bergetar oleh urgensi yang langka. "Data yang kami terima — dan yang juga diterima sejumlah media internasional secara bersamaan — memuat dugaan aliran dana fiktif melalui setidaknya enam anak perusahaan, di antaranya CNI Logistik dan Bahari Mandiri..."
Damar menutup mata sebentar. Mendengar angka-angkanya sendiri keluar dari mulut orang asing terasa seperti melihat anaknya pergi ke sekolah untuk pertama kali. Sudah bukan miliknya lagi. Sudah milik dunia.
Ponsel Arini — satu-satunya ponsel di antara mereka yang masih menyala — berdering tanpa henti. Wartawan, redaksi, nomor-nomor yang tidak ia kenal. Ia mengabaikan semuanya kecuali satu, sebuah pesan dari kontak yang ia simpan dengan inisial saja. Ia membaca, lalu menunjukkannya pada Damar.
Bursa hentikan perdagangan Cakrawala. Suspend total. Pasar buka jam 9, tapi kode itu dibekukan.
"Mereka harus," gumam Damar. "Kalau tidak, harga akan jatuh bebas. Sejuta orang akan coba jual di detik yang sama dan tidak akan ada yang mau beli. Gelembung pecah selalu begitu — semua mau keluar lewat satu pintu yang sama."
"Dan tidak ada yang sempat keluar," Arini menambahkan pelan.
Itulah bagian yang membuat perut Damar mengencang. Di balik tagar, di balik kemarahan publik, di balik kemenangan yang ia rasakan beberapa jam lalu, ada angka lain yang tidak ada di dokumen mana pun. Ribuan — mungkin puluhan ribu — orang biasa yang menaruh uang mereka di Cakrawala. Ibu rumah tangga yang menjual perhiasan. Pensiunan yang memindahkan seluruh dana hari tua. Anak-anak muda yang ikut-ikutan karena semua orang ikut-ikutan. Mereka tidak akan pernah melihat sahamnya menyentuh harga itu lagi. Bagi mereka, pagi ini bukan kemenangan. Bagi mereka, pagi ini adalah hari tabungan mereka berubah jadi angka nol di layar yang dibekukan.
"Aku terus mikir," kata Damar, "kalau aku rilis ini lebih cepat, sebelum harga naik segila itu, mungkin lebih sedikit orang yang ketipu."
Arini menatapnya tajam, meski wajahnya masih lebam dan satu matanya membengkak. "Kalau kamu rilis lebih cepat, kamu sudah mati di tol seperti Pak Gunawan, dokumennya hilang, dan skema ini jalan terus sampai sepuluh kali lebih besar. Jangan pernah hitung dosa orang lain pakai nyawamu sendiri, Damar. Itu cara berpikir yang bikin orang baik berhenti melawan."
Damar tidak menjawab. Tapi ia menyimpan kalimat itu.
Di televisi, gambar berpindah ke depan gedung otoritas pasar modal. Kerumunan wartawan berdesakan. Seorang juru bicara, wajahnya pucat, membacakan pernyataan yang dipersiapkan tergesa-gesa: penghentian perdagangan, pembentukan tim khusus, "kerja sama penuh dengan penegak hukum." Damar memperhatikan kalimat-kalimat itu seperti seorang analis membaca laporan keuangan — bukan pada apa yang dikatakan, tapi pada apa yang dihindari. Tidak satu kali pun juru bicara itu menyebut nama pejabat. Tidak satu kali pun ia menyebut daftar pemegang saham.
"Mereka sudah mulai," kata Damar pelan.
"Mulai apa?"
"Memilih siapa yang akan dikorbankan dan siapa yang akan diselamatkan." Ia meletakkan cangkir tehnya yang sudah dingin. "Cakrawala sudah mati pagi ini. Tapi orang-orang yang membangunnya masih sarapan dengan tenang di rumah mereka. Berita ini baru permukaannya, Rin. Bagian susahnya belum mulai."
Di luar pos keamanan, langit pelabuhan sudah terang penuh. Klakson kapal melenguh di kejauhan. Dan di seluruh negeri, jutaan jari menggulir layar, membaca nama yang Damar temukan di lantai dua belas, tanpa pernah tahu siapa pemuda yang menemukannya.