Ruangan itu dingin, terlalu dingin, dengan dinding warna telur asin dan satu meja logam yang dingin di bawah lampu neon yang berdengung. Damar sudah duduk di sana selama empat jam, menjawab pertanyaan yang sama dengan kata-kata yang sedikit berbeda, dan ia mulai mengerti bahwa pengulangan itu bukan kebetulan.
"Mari kita ulang dari awal," kata penyidik di seberang meja. Pria gemuk, kemeja basah di ketiak, pulpennya mengetuk-ngetuk tanpa henti. "Anda mengaku mencuri data dari perusahaan tempat Anda bekerja—"
"Saya tidak bekerja di Cakrawala. Saya analis di Sekuritas Bumi Sentosa. Saya menemukan kejanggalan dalam laporan publik Cakrawala — laporan yang siapa pun bisa unduh dari situs bursa. Itu bukan pencurian. Itu pekerjaan saya."
"Tapi flashdisk itu. Email-email internal. Anda dapat dari mana?"
Damar diam. Ia sudah cukup lama berada di dunia ini untuk tahu bahwa nama Tito tidak boleh keluar dari mulutnya di ruangan ini, di hadapan penyidik yang ia belum tahu berpihak ke mana. Tito masih di luar sana, ketakutan, dan satu nama yang salah ucap bisa jadi vonis mati baginya.
"Saya akan menjawab semua pertanyaan tentang isi dokumen," kata Damar hati-hati. "Tentang skema keuangannya, saya bisa jelaskan setiap angka. Tapi soal sumber, saya minta hadir pendamping hukum lebih dulu."
Pintu terbuka tanpa ketukan. Seorang perempuan masuk — setelan gelap, rambut diikat ketat, map tebal di tangan — dan di belakangnya seorang pria yang lebih tua dengan tatapan yang membuat penyidik gemuk itu langsung menegakkan punggung.
"Cukup," kata perempuan itu. "Saudara Damar Pradipta dipindahkan ke tim kami."
Penyidik gemuk membuka mulut hendak protes. Pria tua di belakang meletakkan sehelai surat di atas meja logam, dan apa pun yang tertulis di sana cukup untuk menutup mulut itu rapat-rapat. Penyidik gemuk mengumpulkan berkasnya, menghindari mata Damar, dan keluar.
Perempuan itu duduk di kursi yang baru saja kosong. Ia menatap Damar lama sebelum bicara. "Nama saya cukup Anda tahu sebagai Bu Ratih. Saya dari satuan tugas khusus yang dibentuk pagi ini — bersama, bukan oleh, otoritas pasar modal. Itu perbedaan penting. Camkan."
"Penyidik tadi—"
"Penyidik tadi mengulang pertanyaan tentang sumber Anda enam kali," potong Bu Ratih. "Itu yang dilakukan orang yang sedang mencari kebocoran, bukan mencari kebenaran. Seseorang ingin tahu siapa lagi yang tahu. Bukan untuk melindungi mereka."
Tubuh Damar mendingin lebih dari suhu ruangan. "Berarti mereka ada di dalam. Di sini. Di antara kalian."
Bu Ratih tidak menyangkal. Ia membuka mapnya, mengeluarkan beberapa lembar yang Damar kenali — cetakan diagram aliran uangnya sendiri, yang ia susun di penginapan murah agar bisa dipahami orang awam. "Pekerjaan yang rapi. Lebih rapi dari yang biasa kami terima dari akuntan bersertifikat. Inilah yang membuat saya yakin Anda bukan sekadar pencuri data, melainkan orang yang betul-betul mengerti apa yang ia temukan."
"Lalu kenapa saya yang diinterogasi?"
"Karena untuk sementara, di mata sebagian orang di gedung ini, Anda lebih berbahaya hidup daripada Wirananta dalam pelarian." Bu Ratih melipat tangannya di atas meja. "Anda tahu cara membaca angka mereka. Anda punya salinan yang tidak bisa mereka hapus. Dan Anda sudah membuktikan bahwa Anda akan menyebarkan semuanya kalau terpojok. Itu membuat Anda aset, sekaligus ancaman. Tergantung siapa yang Anda tanya."
Damar menyandarkan punggung. Ia teringat kalimat Tito di warung kopi gang itu, berabad-abad yang lalu rasanya: Salim bukan cuma tangan kanan Wirananta. Ia tangan yang membersihkan. Salim sudah diborgol. Tapi Damar baru mengerti sekarang bahwa membersihkan bukan pekerjaan satu orang. Ada banyak tangan.
"Bu Ratih," kata Damar pelan. "Arini. Wartawan yang disandera. Di mana dia?"
"Dirawat. Dijaga oleh orang-orang saya, bukan orang gedung ini. Dia aman." Bu Ratih mengumpulkan kembali kertas-kertasnya. "Sekarang dengarkan saya baik-baik, karena saya cuma akan mengatakannya sekali. Anda mengira kemarin malam adalah klimaks. Anda mengira Salim ditangkap, data viral, perang selesai." Ia berdiri, dan untuk pertama kali, ada sesuatu yang menyerupai simpati di wajahnya yang keras. "Itu bukan akhir, Damar. Itu baru tembakan pembuka. Sebab semalam Anda menjatuhkan satu orang. Tapi yang Anda buka pagi ini adalah daftar nama yang setiap pemiliknya punya kekuasaan, uang, dan alasan agar Anda tidak pernah sampai ke ruang sidang. Perang yang sebenarnya baru dimulai pagi ini."
Pintu menutup di belakangnya, dan Damar tinggal sendiri di ruangan dingin itu, menatap lubang ventilasi di dinding, menyadari bahwa ia baru saja bertukar satu jenis bahaya dengan jenis yang jauh lebih sabar.