Mereka datang ke rumah Wirananta pukul sepuluh pagi. Mereka terlambat sembilan jam.
Damar mengetahuinya dari Bu Ratih, yang menunjukkan rekaman ringkas di tablet sambil mengantarnya pulang — bukan ke apartemennya yang sudah tidak aman, melainkan ke sebuah rumah singgah yang dijaga. Rekaman itu memperlihatkan sebuah kediaman megah di kawasan elite: pagar tinggi, kolam yang masih beriak, lampu yang menyala di beberapa kamar. Tapi tidak ada manusia. Lemari pakaian terbuka, sebagian kosong. Brankas di ruang kerja ternganga, isinya lenyap. Di meja makan, secangkir kopi yang sudah dingin, sepertiga terminum.
"Dia pergi tergesa-gesa," kata Bu Ratih. "Tapi tidak panik. Orang panik tidak sempat mengosongkan brankas. Dia tahu lebih dulu."
"Berapa lama lebih dulu?"
"Berdasarkan kopi itu, rekaman keluar masuk gerbang, dan manifes jet — sekitar pukul satu dini hari." Bu Ratih mematikan tablet. "Lima jam sebelum data Anda menyebar. Dua jam sebelum Salim menelepon Anda dari nomor Arini."
Damar menghitung di kepalanya, dan hasilnya membuatnya mual. "Berarti Salim tahu dia akan ditangkap. Salim menyandera Arini, memancing saya ke gudang, sementara Wirananta sudah di udara. Salim umpan. Atau perisai. Dia korbankan dirinya supaya bosnya kabur."
"Atau," Bu Ratih menatapnya lewat kaca spion, "Salim tidak tahu bahwa dirinya umpan. Loyalitas yang naif kadang lebih kuat dari rantai. Itu yang akan kita uji nanti."
Jet pribadi Wirananta, sebuah pesawat bermesin ganda yang terdaftar atas nama sebuah perusahaan cangkang di luar negeri, lepas landas dari sebuah lapangan terbang kecil di pinggiran kota pukul 02.40 dini hari, mengajukan rencana terbang ke sebuah negara tetangga. Tapi pesawat itu tidak pernah mendarat di sana. Di tengah jalan, rencana terbang diubah, transponder dimatikan untuk beberapa lama, dan ketika muncul kembali di radar, arahnya sudah berbeda — menuju sebuah negara kepulauan kecil yang namanya, ketika Damar mendengarnya, tidak berarti apa-apa baginya selain satu fakta yang Bu Ratih ucapkan dengan datar.
"Tidak ada perjanjian ekstradisi dengan kita. Tidak ada perjanjian dengan separuh dunia. Itu sebabnya orang seperti dia memilih ke sana sejak lama. Bukan keputusan semalam. Ini disiapkan bertahun-tahun. Rencana darurat seorang penjahat yang selalu tahu bahwa suatu hari ia mungkin harus lari."
Mereka tiba di rumah singgah. Sebuah bangunan biasa di gang yang biasa, tidak menarik perhatian. Di dalam, Arini sudah ada di sana, duduk di sofa dengan perban di pelipis dan secangkir teh yang sama tidak tersentuh seperti milik Damar tadi pagi. Wajahnya menyiratkan bahwa ia sudah mendengar kabar itu.
"Dia kabur," kata Arini, bukan bertanya.
"Dia kabur." Damar duduk di seberangnya. "Sementara Salim diam. Bu Ratih bilang Salim belum mengucapkan satu kata pun yang menyangkut Wirananta. Cuma mengakui hal-hal yang sudah ada buktinya hitam di atas putih, tidak lebih."
Arini tertawa kecil, getir. "Tentu saja. Itu aturan mainnya. Yang di bawah menanggung, yang di atas lari. Selalu begitu di kasus-kasus seperti ini. Aku sudah meliput cukup banyak untuk hafal koreografinya." Ia menatap Damar. "Tapi ada yang berbeda kali ini."
"Apa?"
"Kali ini bukan cuma satu media yang punya datanya. Kali ini seluruh dunia punya." Mata Arini, meski bengkak, menyala. "Wirananta bisa lari ke ujung bumi. Tapi dia tidak bisa lari dari diagram aliran uang yang sudah dibaca jutaan orang. Uang itu, Damar — triliunan itu — tidak hilang ke udara. Uang selalu meninggalkan jejak. Dan kalau kita ikuti uangnya, cepat atau lambat, jejaknya akan menuntun kita ke tempat dia bersembunyi."
Damar menatap wartawan itu, perempuan yang dua belas jam lalu masih terikat di kursi dengan plester di mulut, kini sudah menyusun strategi babak berikutnya. Untuk pertama kali sejak fajar, ia merasakan sesuatu selain kelelahan.
"Kalau begitu," kata Damar, "kita ikuti uangnya."
Arini meraih ponselnya yang masih membanjir notifikasi, mematikan getarnya, lalu menatap Damar dengan tatapan yang membuat lelah di tubuh pemuda itu sejenak terlupa. "Tapi ada satu hal yang harus kamu mengerti sebelum kita mulai. Selama ini kamu melawan Salim — orang yang bisa kamu lihat, yang bisa ditangkap, yang sekarang sudah di balik jeruji. Mulai detik ini kamu melawan Wirananta, dan Wirananta tidak punya wajah di hadapanmu. Dia cuma punya uang. Uang yang bisa membeli pengacara, membeli berita, membeli penyidik, membeli waktu. Melawan orang itu lebih melelahkan daripada melawan pistol di gudang. Karena pistol selesai dalam satu detik. Uang tidak pernah selesai."
Damar menatap diagram aliran uang yang terhampar di meja, garis-garis yang dulu ia susun sendirian di penginapan murah, dan untuk pertama kali ia melihatnya bukan sebagai bukti melainkan sebagai medan perang. "Kalau dia cuma punya uang," kata Damar pelan, "berarti kalau uangnya habis, dia habis. Itu yang akan kita kejar. Bukan dia. Uangnya."