Warung kopi di gang itu masih ada, tapi Tito tidak.
Damar berdiri di depan etalase kaca yang berembun, memandang ke dalam pada kursi plastik tempat ia dulu mendengar Tito menceritakan kematian Pak Gunawan. Bu Ratih sudah memperingatkannya agar tidak datang sendiri, tapi Damar tahu Tito tidak akan pernah muncul kalau ada orang asia berdiri di sebelahnya. Maka ia datang sendiri, dengan ponsel prabayar baru, di siang bolong ketika orang-orang menua di jalanan terlalu sibuk untuk memperhatikan.
Pemilik warung, seorang ibu setengah baya, mengenalinya samar. "Cari yang biasa duduk di pojok itu?"
Damar mengangguk hati-hati. "Beliau sering ke sini?"
"Dulu. Tiap pagi, dua minggu lalu. Belakangan tidak pernah lagi." Ibu itu menyeka meja. "Terakhir ke sini, mukanya pucat banget. Pesan kopi, tidak diminum, terus pergi buru-buru. Kayak lihat setan."
Bukan setan, pikir Damar. Lebih buruk. Tito melihat namanya sendiri.
Butuh dua hari bagi Damar untuk menemukannya. Bukan lewat alamat — Tito sudah pindah dari kontrakan lamanya, meninggalkan tunggakan dan tidak ada jejak. Damar menemukannya lewat satu-satunya benang yang ia ingat: Tito pernah menyebut adik perempuannya berjualan di sebuah pasar tradisional di pinggiran kota. Damar menunggu di sana selama berjam-jam, di antara bau ikan dan sayur layu, sampai ia melihat seorang pria kurus dengan topi ditarik rendah menyelinap menyerahkan sesuatu kepada seorang perempuan di kios sembako, lalu pergi tergesa.
"Tito."
Pria itu membeku. Selama satu detik Damar mengira ia akan lari. Lalu Tito menoleh, dan wajahnya — yang dulu lelah tapi tenang — kini wajah orang yang tidak tidur berhari-hari.
"Kamu," desis Tito, mencengkeram lengan Damar dan menariknya ke balik tumpukan peti. "Kamu gila datang ke sini. Mereka mengawasi adikku. Mereka mengawasi semua orang yang aku kenal."
"Tito, semua sudah keluar. Skema itu sudah terbongkar. Cakrawala disuspend. Salim ditangkap. Kamu tidak perlu sembunyi lagi—"
"Tidak perlu sembunyi?" Tito tertawa, suara yang membuat bulu kuduk Damar berdiri. "Kamu tahu apa yang aku dengar tiga hari lalu? Namaku. Dari mulut orang yang seharusnya tidak tahu apa-apa tentang aku. Nama lengkapku, alamat adikku, nama kontrakan tempat aku dulu tinggal. Bocor, Damar. Bocor dari dalam. Dari tempat yang kamu kira aman."
Perut Damar mengencang. "Bocor dari mana?"
"Dari orang dalam di redaksi wartawan itu. Arini." Tito mengintip lewat celah peti, matanya bergerak gelisah. "Kamu pikir cuma rencana rilis yang dibocorkan ke Salim? Tidak. Daftar nama saksi juga. Termasuk aku. Orang yang sama yang menjual rencana kalian juga menjual aku. Dan sekarang aku tidak tahu siapa yang bisa aku percaya. Aku tidak tahu apakah aparat yang menjemputku akan benar-benar menjemputku, atau menyerahkanku ke jurang seperti Pak Gunawan."
Damar terdiam. Tito benar. Itulah yang membuat kasus ini begitu berbahaya — bukan kekuatan satu orang, tapi ketidaktahuan tentang siapa yang berpihak ke mana. Setiap pintu bisa jadi jebakan. Setiap tangan yang terulur bisa jadi tangan yang membersihkan.
"Tito, dengar." Damar bicara pelan, menahan suaranya tetap tenang meski jantungnya berpacu. "Aku tidak datang untuk menyeretmu ke mana-mana. Aku tidak akan kasih namamu ke siapa pun yang aku tidak yakin seratus persen. Tapi kasus ini butuh kamu. Bukan flashdisk-nya saja — kamu. Suaramu. Kamu yang menyusun angka-angka itu, kamu yang menyesuaikan laporan tiap kuartal, kamu yang tahu Pak Gunawan mau melapor sebelum dia mati. Tanpa kesaksianmu di pengadilan, semua dokumen ini cuma kertas yang bisa mereka bilang palsu."
"Dan dengan kesaksianku, aku jadi mayat berikutnya."
"Tidak kalau kamu dilindungi oleh orang yang benar."
Tito menatapnya lama, dada turun naik. "Siapa yang benar, Damar? Tunjukkan satu nama yang kamu yakin tidak bisa dibeli. Satu saja."
Damar membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Karena ia sadar — dengan dingin yang menjalar dari ulu hatinya — bahwa ia tidak punya jawaban yang pasti. Bahkan Bu Ratih, yang ia mulai percaya, masih nama yang baru dua hari ia kenal.
"Aku belum bisa tunjuk satu nama," Damar akhirnya berkata, jujur. "Tapi aku bisa janji satu hal. Aku tidak akan serahkan kamu sampai aku temukan jalan yang aman. Dan sampai itu, aku tidak akan tulis namamu di mana pun. Beri aku cara menghubungimu. Bukan ke siapa-siapa. Ke aku saja."
Tito ragu lama. Lalu, dengan tangan gemetar, ia menuliskan deretan angka di selembar kertas pembungkus, menyodorkannya, dan menghilang ke dalam keramaian pasar secepat ia muncul — meninggalkan Damar dengan satu nomor di tangan dan satu kepastian yang dingin di dada: ada pengkhianat di redaksi Arini, dan pengkhianat itu masih bebas berkeliaran.