"Seseorang menjual kita," kata Damar, meletakkan kertas pembungkus dengan nomor Tito di atas meja rumah singgah. "Tito dengar namanya sendiri dari mulut yang salah. Daftar saksi bocor. Bukan cuma rencana rilis — semuanya."
Arini diam lama. Wajahnya, yang lebamnya mulai menguning, mengeras. "Aku sudah tahu itu sejak malam di gudang. Salim bilang sendiri waktu menelepon — ada orang dalam di redaksiku. Tapi mendengarnya, dan menemukan siapa, itu dua hal berbeda." Ia menutup matanya sejenak. "Aku cuma percaya pada segelintir orang di kantor itu, Damar. Kalau salah satu dari mereka yang menjual aku..."
"Maka kita harus tahu yang mana. Sebelum dia menjual lebih banyak."
Mereka menyusun ulang garis waktu seperti dua analis membedah laporan keuangan. Siapa yang tahu apa, dan kapan. Arini menarik catatannya — siapa yang ia beri tahu tentang pertemuan di pasar ikan, siapa yang tahu tentang verifikasi tiga email, siapa yang melihat daftar saksi.
"Rencana rilis serentak," kata Arini, menunjuk satu titik di garis waktu. "Aku cuma membahasnya dengan tiga orang. Pemimpin redaksiku, dan dua editor senior. Tidak ada orang lain yang tahu detail waktunya."
"Persempit. Siapa yang juga tahu tentang Tito? Tentang daftar saksi?"
Arini menghitung. Satu per satu, ia mencoret nama. Pemimpin redaksi tidak pernah ia beri tahu tentang Tito secara spesifik. Editor pertama hanya tahu garis besarnya. Tinggal satu nama.
"Pak Yusman," bisik Arini, dan suaranya pecah di nama itu. "Editor seniorku. Orang yang mengajakku masuk ke media ini. Yang mengajariku semua yang aku tahu tentang investigasi. Tidak mungkin—"
"Justru yang paling mungkin," kata Damar pelan. "Dia satu-satunya yang tahu kedua hal itu sekaligus. Rencana rilis dan daftar saksi."
Arini menggeleng keras, seolah bisa mengusir kesimpulan itu. Tapi Damar melihat di matanya bahwa ia sudah sampai ke tempat yang sama, hanya saja hatinya menolak singgah di sana.
Mereka tidak bisa menuduh tanpa bukti. Bukti yang Arini bisa terima, bukti yang pengadilan bisa terima. Maka mereka memasang sesuatu yang Arini, dengan suara bergetar, sebut sebagai ujian terakhir.
Arini menemui Pak Yusman keesokan harinya — di tempat umum, dengan Bu Ratih dan dua orangnya mengawasi dari kejauhan, dan sebuah perekam kecil di saku Arini. Ia berpura-pura masih mempercayainya. Ia mengabarkan, dengan nada penuh kepercayaan, bahwa Tito, saksi kunci itu, akan dipindahkan ke sebuah rumah aman tertentu pada malam berikutnya, dan hanya Pak Yusman yang ia beri tahu lokasinya. Sebuah lokasi yang sepenuhnya palsu. Sebuah gudang kosong yang sudah dipasangi mata oleh orang-orang Bu Ratih.
Malam itu, dua pria datang ke gudang kosong itu. Mereka tidak pernah bertemu Tito, karena Tito tidak pernah ada di sana. Tapi mereka tertangkap kamera, dan ketika ditangkap dan diperiksa, ponsel mereka memuat satu pesan masuk dari nomor yang, setelah ditelusuri, mengarah ke kartu prabayar yang dibeli dengan kartu kredit atas nama sebuah agen perjalanan. Agen perjalanan yang pernah memesan tiket untuk satu nama yang dikenal Arini terlalu baik.
Damar dan Arini menatap layar bukti itu bersama, di ruang temaram rumah singgah, dan untuk waktu yang lama tidak ada yang berkata.
"Dua puluh tahun," kata Arini akhirnya, suaranya hampa. "Dua puluh tahun aku menulis tentang orang-orang yang menjual integritas mereka. Aku selalu pikir aku tahu rasanya marah pada mereka. Aku tidak tahu apa-apa sampai malam ini."
"Kenapa dia melakukannya?" tanya Damar. "Pak Yusman. Dia editor senior, dia punya nama, dia—"
"Justru karena itu." Arini menyeka matanya kasar, marah pada air mata yang menolak ia izinkan. "Orang seperti Salim tidak menawar pada yang lapar. Yang lapar terlalu mudah dibeli, terlalu mudah dijual balik. Mereka menawar pada yang mapan. Yang punya rumah cicilan, anak di luar negeri, gaya hidup yang lebih besar dari gajinya. Mereka tahu persis tekanan di titik mana setiap orang akan retak." Ia menatap Damar. "Pak Yusman tidak menjual aku karena dia jahat. Dia menjual aku karena dia takut kehilangan hidup yang dia bangun. Dan itu, Damar, jauh lebih menakutkan. Karena artinya hampir siapa pun bisa jadi dia."
Damar tidak menjawab. Tapi malam itu ia mengerti satu hal yang akan membentuk seluruh sisa perjuangan ini: musuh mereka bukan satu wajah jahat. Musuh mereka adalah ketakutan yang bisa dibeli, tersebar di mana-mana, tertanam di orang-orang yang paling tidak mereka curigai. Dan tidak ada satu pun penangkapan yang bisa membersihkannya sekaligus.