Bu Ratih menggelar peta di atas meja, tapi bukan peta wilayah. Peta uang.
"Triliunan rupiah masuk ke Cakrawala dari investor," katanya, menunjuk lingkaran-lingkaran yang saling terhubung garis. "Pertanyaannya bukan dari mana uang itu datang. Kita sudah tahu — dari orang-orang biasa yang membeli saham gelembung. Pertanyaannya adalah ke mana uang itu pergi. Karena di rekening Cakrawala yang dibekukan, yang tersisa cuma remah."
Damar mencondongkan tubuh, matanya menyusuri garis-garis itu seperti dulu ia menyusuri laporan keuangan di lantai dua belas. Ini wilayahnya. Ini bahasanya. "Skema Ponzi selalu bocor di dua tempat," katanya. "Pertama, bayar dividen ke investor lama supaya skema kelihatan hidup. Kedua, dialihkan keluar buat orang-orang di puncaknya. Kalau remahnya yang tersisa di rekening resmi, berarti sebagian besar sudah dipompa keluar lewat pintu kedua."
"Lewat mana?"
Damar menarik diagram lamanya, yang sudah ia hafal sampai ke titik koma. "Enam anak perusahaan. CNI Logistik, Bahari Mandiri, dan empat lainnya. Di laporan, mereka kelihatan seperti unit bisnis yang sah — logistik, perdagangan, jasa. Tapi tujuh pelanggan industri di Sulawesi itu fiktif. Tiga tidak ada wujudnya, empat cuma bermodal lima puluh juta. Jadi anak-anak perusahaan ini tidak benar-benar menjual apa pun. Fungsi mereka cuma satu: jadi pipa. Uang masuk dari Cakrawala atas nama 'pembayaran ke pemasok' atau 'investasi unit usaha', lalu mengalir keluar — dari pipa ke pipa, makin lama makin sulit dilacak — sampai akhirnya keluar dari negeri ini."
Bu Ratih menatapnya. "Keluar ke mana?"
"Itu yang harus kita ikuti." Damar mengambil pulpen. "Setiap pipa meninggalkan jejak. Transfer antarbank, kontrak palsu, faktur fiktif. Mereka pintar, tapi mereka tidak menghapus semua. Tidak ada yang bisa. Karena untuk memindahkan triliunan, kamu butuh dokumen, dan dokumen itu meninggalkan bayangan di mana-mana."
Mereka menghabiskan tiga hari berikutnya tenggelam dalam angka. Bu Ratih membawa data dari rekening yang sudah disita, laporan transaksi mencurigakan dari lembaga pengawas keuangan, manifes ekspor-impor yang tidak cocok dengan barang yang sebenarnya pernah ada. Damar membaca semuanya dengan cara yang membuat dua analis forensik di tim Bu Ratih saling bertukar pandang — ia melihat pola yang mereka lewatkan, kejanggalan dalam pembulatan angka, tanggal transaksi yang selalu jatuh tepat sebelum tutup buku kuartal.
Dan perlahan, gambar itu muncul. Uang dari Cakrawala mengalir ke enam anak perusahaan, lalu dari sana ke perusahaan-perusahaan cangkang yang lebih kecil di luar negeri — perusahaan tanpa kantor, tanpa karyawan, tanpa wujud selain nama di akta dan kotak surat di sebuah gedung jasa pendirian perusahaan. Dari cangkang ke cangkang, melintasi tiga yurisdiksi yang sengaja dipilih karena kerahasiaan perbankannya, sampai jejaknya menipis menjadi kabut.
"Di sinilah ia menguap," kata Damar pada akhirnya, menunjuk titik di mana garis-garis itu putus. "Bukan benar-benar menguap. Uang tidak pernah menguap. Tapi dari titik ini, kita butuh kerja sama negara-negara yang punya alasan untuk tidak mau bekerja sama. Itu sebabnya orang seperti Wirananta memilih jalur ini bertahun-tahun lalu."
Arini, yang sedari tadi mencatat di sudut ruangan, mengangkat kepala. "Tapi itu juga yang akan menjatuhkannya."
"Apa maksudmu?"
"Cangkang-cangkang ini." Arini mengetuk catatannya. "Selama kasus ini cuma soal saham gelembung di negeri kita sendiri, dunia tidak peduli. Tapi begitu kita tunjukkan bahwa triliunan uang kotor mengalir lewat sistem perbankan internasional, lewat yurisdiksi-yurisdiksi yang selama ini bersembunyi di balik kerahasiaan — itu bukan lagi masalah kita. Itu masalah mereka. Reputasi mereka. Dan ada lembaga-lembaga internasional yang hidup dari memburu uang seperti ini." Senyum tipis muncul di wajahnya yang masih menguning. "Kita tidak perlu memaksa dunia peduli pada korban kita, Damar. Kita cuma perlu menunjukkan pada dunia bahwa uang kotor ini sedang mengotori halaman mereka sendiri."
Damar menatap diagram itu, garis-garis yang menjulur keluar dari negerinya menuju kabut di seberang lautan, dan untuk pertama kali ia melihat bukan kabut, melainkan benang. Benang panjang yang, kalau ditarik cukup keras dari ujung yang benar, akan menyeret seseorang kembali pulang.