Lestari menelepon dari nomor yang Damar tidak kenal, dan suaranya yang biasanya tegas kini gemetar.
"Damar, aku tidak tahu harus telepon siapa lagi."
Damar langsung berdiri, ponsel menempel erat di telinga. Sudah dua minggu sejak gudang, dan ia sengaja tidak menghubungi Lestari — demi keselamatan rekan setimnya, seperti yang ia putuskan sejak awal. Tapi mendengar suaranya seperti ini, ketakutan itu kembali utuh. "Lestari, kamu di mana? Apa yang terjadi?"
"Di kantor. Mereka—" suara Lestari pecah, lalu ia menurunkannya jadi bisikan. "Manajemen, Damar. Bumi Sentosa. Sejak namamu ada di berita, mereka memperlakukan aku seperti penyakit menular. HRD memanggilku tiga kali minggu ini. Mereka tahu kita satu tim. Mereka tahu kamu pernah minta aku tahan rekomendasi Cakrawala. Sekarang mereka bilang kalau aku tidak 'kooperatif', kontrakku tidak diperpanjang. Dan ada yang lebih buruk."
"Apa?"
Hening sejenak. Damar mendengar napas Lestari, cepat dan dangkal.
"Tadi malam ada yang menelepon ke rumah orang tuaku. Bukan ke aku. Ke orang tuaku, di kampung. Menanyakan kabar, pura-pura teman lama. Tapi mereka tahu di mana orang tuaku tinggal, Damar. Mereka tahu nama adikku. Mereka tahu adikku kuliah di mana." Suara Lestari nyaris tidak terdengar sekarang. "Mereka tidak mengancam dengan kata-kata. Mereka tidak perlu. Mereka cuma menunjukkan bahwa mereka tahu. Itu saja. Itu sudah cukup."
Damar menutup mata. Inilah cara mereka. Bukan pistol di gudang — itu cara yang gegabah, cara putus asa. Ini cara mereka yang sebenarnya. Pesan halus yang tidak meninggalkan jejak hukum, tidak meninggalkan bukti, tapi menanam teror di tempat yang paling lunak: keluarga.
"Lestari, dengar aku baik-baik," kata Damar, memaksa suaranya tetap mantap. "Kamu tidak sendirian dalam ini. Sekarang juga aku akan hubungkan kamu dengan orang yang bisa lindungi keluargamu. Bukan polisi biasa — orang yang sudah aku percaya, yang sudah aku uji. Tapi aku butuh kamu memutuskan sesuatu, dan kamu harus memutuskannya dengan jujur, karena ini akan mengubah hidupmu."
"Memutuskan apa?"
"Mereka menekanmu supaya diam. Tapi kamu punya sesuatu yang mereka takutkan. Kamu di dalam Bumi Sentosa. Kamu lihat bagaimana mereka memperlakukan rekomendasi Cakrawala — bagaimana Pak Hendra menyuruh kita lepas tangan, bagaimana fileku 'dipindahkan administrator', bagaimana Salim datang menawari aku suap di lantai atas. Kamu saksi semua itu, Lestari. Kamu saksi bahwa sekuritas tempat kita kerja bukan korban yang tertipu — mereka tahu, dan mereka memilih diam karena dibayar."
Hening panjang di ujung sana. Damar bisa membayangkan Lestari di mejanya, di lantai dua belas yang dulu jadi dunia mereka berdua, menimbang dua jenis ketakutan: takut pada ancaman, dan takut pada apa yang harus ia lakukan.
"Kalau aku bicara," kata Lestari pelan, "aku tidak akan pernah kerja di industri ini lagi. Tidak ada sekuritas yang akan menerima orang yang membongkar sekuritas."
"Mungkin tidak."
"Dan keluargaku—"
"Akan aman. Itu syaratku sebelum kamu bicara sepatah kata pun. Perlindungan dulu, baru kesaksian. Itu yang aku pelajari dengan cara yang sulit."
Napas Lestari bergetar di ujung telepon. Lalu, dengan ketegasan yang Damar kenal sejak hari pertama mereka jadi satu tim — ketegasan yang sama yang dulu membuatnya berani menahan rekomendasi Cakrawala selama dua minggu hanya karena Damar memintanya — Lestari berkata:
"Aku punya sesuatu. Bukan cuma saksi mata. Aku ambil salinan. Email-email internal Bumi Sentosa, memo dari Pak Hendra, catatan rapat soal Cakrawala. Aku simpan sejak HRD mulai menanyaiku, karena aku tahu suatu hari mereka akan coba membuatku jadi kambing hitam. Aku tidak akan jadi kambing hitam, Damar. Kalau kapal ini tenggelam, aku tidak akan tenggelam sebagai orang yang menutupi."
Damar menggenggam ponsel lebih erat. Untuk pertama kali dalam berhari-hari, sesuatu yang hangat menjalar di dadanya — bukan kemenangan, tapi sesuatu yang lebih langka di dunia yang penuh Pak Yusman dan Salim ini. Keberanian dari orang biasa yang seharusnya bisa saja memilih diam.
"Lestari," katanya pelan, "kamu tahu kamu lebih berani dari aku."
"Tidak." Suara Lestari bergetar, tapi ada senyum tipis di dalamnya sekarang. "Aku cuma capek takut. Sama seperti kamu dulu." Hening sebentar. "Kirim orang yang kamu percaya itu ke orang tuaku malam ini. Besok pagi, dokumennya jadi milikmu."