Pak Hendra mengirim pesan lewat tiga perantara sebelum akhirnya berani menelepon langsung, dan ketika ia bicara, suaranya bukan lagi suara atasan yang dulu memerintah Damar lepas tangan dari Cakrawala. Itu suara orang yang sudah tidak tidur berminggu-minggu.
"Damar. Kita harus bicara. Berdua. Di tempat yang kamu tentukan."
Damar membawanya ke Bu Ratih lebih dulu. Mereka tidak akan bertemu sendirian — bukan lagi. Pertemuan diatur di sebuah ruang yang dijaga, dengan perekam berjalan dan dua orang Bu Ratih di luar pintu. Ketika Hendra masuk, Damar nyaris tidak mengenalinya. Pria gemuk berkacamata itu menyusut. Kemejanya longgar di leher. Tangannya gemetar saat menarik kursi.
"Aku tidak tahu sampai sejauh apa ini, Damar," kata Hendra, bahkan sebelum duduk. "Kamu harus percaya itu. Waktu Salim datang ke kantor, waktu aku menyuruhmu lepas tangan — aku kira aku cuma menjaga hubungan bisnis. Cakrawala klien besar. Grup Wirananta memberi banyak fee ke Bumi Sentosa. Aku kira aku cuma melakukan apa yang dilakukan semua kepala divisi: tidak mengusik klien yang membayar. Aku tidak tahu soal pembunuhan. Aku bersumpah, Damar, aku tidak tahu soal Pak Gunawan."
"Tapi kamu tahu fileku dipindahkan," kata Damar datar. "Kamu tahu Salim datang menawari aku suap. Kamu tahu rekomendasi Cakrawala dipaksakan naik meski angkanya tidak masuk akal."
Hendra menunduk. Untuk waktu yang lama ia tidak bisa bicara. Lalu, dengan suara yang nyaris tidak terdengar, ia berkata, "Ya. Aku tahu semua itu. Dan aku diam. Karena aku takut. Karena aku punya cicilan rumah dan dua anak dan aku kira selama aku tidak melakukan apa-apa, aku bersih." Ia mengangkat wajah, dan matanya basah. "Aku salah. Diam juga perbuatan. Aku belajar itu terlambat sekali."
Bu Ratih bersandar di kursinya. "Anda ingin sesuatu, Pak Hendra. Orang tidak datang ke ruangan seperti ini hanya untuk menyesal. Apa yang Anda tawarkan, dan apa yang Anda minta?"
Hendra menelan ludah. "Aku minta perlindungan. Untuk keluargaku. Dan keringanan — aku tahu aku tidak bisa lepas bersih, aku tahu aku terlibat, tapi aku bukan otaknya, aku bukan pembunuh. Sebagai gantinya..." Ia mengeluarkan map lusuh dari dalam jaketnya, meletakkannya di meja dengan tangan gemetar. "Sebagai gantinya, aku beri kalian aliran fee."
Damar menarik map itu, membukanya. Matanya bergerak cepat di sepanjang baris-baris angka, dan apa yang ia lihat membuat napasnya tertahan.
"Grup Wirananta membayar Bumi Sentosa," kata Hendra pelan, "bukan cuma sebagai klien biasa. Mereka membayar untuk rekomendasi. Tiap kali analis sekuritas mengeluarkan rekomendasi 'beli' untuk Cakrawala, tiap kali kami memasang target harga yang tinggi, ada fee yang masuk. Bukan ke perusahaan saja. Ke rekening pribadi sejumlah orang. Miliaran, Damar. Selama empat bulan saham itu naik tiga ratus persen, kami — analis, sekuritas — adalah mesin yang membuatnya kelihatan sah. Kami yang meyakinkan orang awam bahwa angka gila itu wajar. Karena kami dibayar untuk meyakinkan mereka."
Ruangan itu terasa menyusut. Damar memandang angka-angka di map itu, dan ia mengerti sesuatu yang lebih besar dari yang ia kira. Skema Ponzi tidak berjalan sendiri. Ponzi butuh kepercayaan, dan kepercayaan dibeli. Dibeli dari sekuritas yang mengeluarkan rekomendasi. Dibeli dari analis yang menandatangani laporan optimis. Dibeli dari setiap orang dengan jas dan gelar yang berdiri di antara Wirananta dan jutaan korban, mengangguk, berkata: ini aman, belilah.
"Inilah kenapa kamu menyuruh aku lepas tangan," kata Damar, suaranya nyaris bisikan. "Bukan karena Cakrawala klien besar. Karena kalau aku benar, bukan cuma Cakrawala yang jatuh. Bumi Sentosa ikut. Kamu ikut. Semua orang yang menerima fee itu ikut."
Hendra tidak menjawab. Ia tidak perlu.
Bu Ratih menarik map itu pelan, menutupnya, dan menatap Hendra dengan ekspresi yang tidak menghakimi maupun memaafkan — ekspresi seseorang yang menimbang nilai sebuah aset. "Tulis semuanya," katanya. "Setiap nama, setiap angka, setiap tanggal. Kalau yang Anda berikan terbukti, Anda akan mendapat perlindungan dan keringanan yang sepadan. Tapi Pak Hendra—" ia mencondong sedikit, "—kalau Anda menyembunyikan satu nama saja untuk melindungi teman lama, kesepakatan ini batal, dan Anda akan menanggung seluruhnya sendirian. Apakah itu jelas?"
Hendra mengangguk, berkali-kali, seperti orang tenggelam yang baru disodori tali.
Ketika ia keluar dari ruangan itu, langkahnya masih gemetar, tapi punggungnya sedikit lebih tegak — beban yang berbeda dari sebelumnya. Damar menatap pintu yang menutup di belakangnya, lalu menatap map di tangan Bu Ratih.
"Ini menyeret kasus ke arah yang baru," kata Bu Ratih pelan. "Bukan lagi cuma satu perusahaan jahat. Ini sistem. Sekuritas, analis, mungkin lebih tinggi lagi. Anda siap, Damar? Karena begitu kita tarik benang ini, kita akan menyeret nama-nama yang jauh lebih kuat dari Wirananta."
Damar memikirkan Lestari yang capek takut, Tito yang sembunyi di pasar, Hendra yang menyusut karena diam terlalu lama. Lalu ia memikirkan satu kelompok nama yang sejak awal mengintai di balik semua ini, yang belum tersentuh, yang merasa tak tersentuh.
"Daftar itu," kata Damar. "Daftar pemegang saham pejabat. Sudah waktunya kita bicara tentang itu."