Hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi. Ariana mendapati dirinya selalu mencari-cari keberadaan Mr. Satksena. Ia memperhatikan setiap detail kecil tentang gurunya itu. Cara Mr. Satksena menyisir rambutnya yang sedikit berantakan sebelum memulai pelajaran, cara ia memegang cangkir kopi di pagi hari, bahkan aroma parfumnya yang samar-samar tercium di dekat ruang guru. Semuanya terasa begitu memikat.
Di sela-sela jam pelajaran, Ariana rajin mencatat setiap kata yang keluar dari bibir Mr. Satksena. Tidak hanya rumus-rumus matematika, tapi juga setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya, setiap mimik wajahnya, setiap gerakan tangannya saat menjelaskan. Semua itu ia catat rapi dalam buku catatan kecilnya, sebagai pengingat akan kehadiran Mr. Satksena dalam hidupnya.
Malam harinya, Ariana menuliskan semua pengamatannya itu dalam sebuah jurnal. Ia menuangkan semua perasaannya, ketakutannya, dan harapannya. Tulisan tangannya yang rapi memenuhi halaman demi halaman, bercerita tentang seorang gadis yang jatuh cinta diam-diam kepada gurunya. Ia menulis tentang senyum tipis Mr. Satksena yang mampu membuat jantungnya berdebar kencang, tentang tatapan mata Mr. Satksena yang mampu membuat pipinya memerah, dan tentang keinginannya untuk lebih dekat dengan Mr. Satksena, meskipun ia tahu itu mustahil.
Di sekolah, Ariana selalu berusaha untuk berada di dekat Mr. Satksena. Ia duduk di barisan depan saat pelajaran Matematika, ia menawarkan bantuan untuk membenahi berkas-berkas di ruang guru, ia bahkan rela menunggu Mr. Satksena di depan gerbang sekolah hingga larut malam. Namun, Mr. Satksena selalu bersikap dingin dan cuek. Ia hanya tersenyum tipis sebagai balasan, tanpa ada tanda-tanda ketertarikan lebih.
Kecemasan mulai menggerogoti hati Ariana. Apakah perasaannya ini hanya khayalan belaka? Apakah Mr. Satksena sama sekali tidak menyadari kehadirannya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuinya, membuatnya merasa gelisah dan tidak tenang. Namun, di balik semua kegelisahan itu, tersimpan sebuah harapan kecil, sebuah harapan yang terus menyala di dalam hatinya, bahwa suatu saat nanti, Mr. Satksena akan menyadari kehadirannya, dan mungkin… akan merasakan hal yang sama. Bayangan Mr. Satksena kini selalu hadir di balik buku teksnya, mencampur aduk antara rasa kagum dan ketakutan.