Jalanan adalah pemandangan yang tidak masuk akal.
Raka berjalan cepat, menerobos kerumunan yang makin lama makin tebal. Semua orang keluar dari mana-mana—dari gedung, dari toko, dari mobil yang mati. Mereka berdiri di tengah jalan raya yang biasanya tidak boleh diinjak, menatap ponsel mati di tangan masing-masing, menekan tombol berulang kali dengan keyakinan yang menyedihkan.
"Sinyal hilang," kata seorang ibu kepada siapa saja yang mau mendengar. "Sinyal hilang dari tadi."
Bukan cuma sinyal, Bu, batin Raka. Tapi ia tidak punya waktu menjelaskan sesuatu yang ia sendiri belum mengerti.
Ia memilih jalan kaki. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada bus, tidak ada ojek, tidak ada taksi. Mobil-mobil yang mogok membentuk barisan logam yang membeku. Beberapa orang masih duduk di dalam mobil mereka, menstarter mesin yang sama sekali tidak merespons, putar kunci, putar lagi, klik—tidak ada apa-apa.
Seorang lelaki paruh baya membuka kap mobilnya, menatap mesin seakan jawabannya tertulis di sana. "Aki baru kemarin," gumamnya. "Aki baru."
Raka tahu sekarang aki itu bukan masalahnya. Tapi ia menyimpan pengetahuan itu. Di tengah orang sebanyak ini, pengetahuan bisa jadi beban kalau diucapkan terlalu keras.
Ia memotong lewat trotoar, melewati toko-toko yang gelap. Di sebuah minimarket, ia melihat antrean panjang sudah terbentuk. Mesin kasir mati, jadi kasir mencatat di kertas dengan tangan, lambat, sementara orang-orang di belakang mulai meninggikan suara. Seseorang mengangsurkan kartu debit yang tidak bisa digesek. Ada yang membayar tunai. Ada yang tidak punya tunai sama sekali, karena siapa yang masih bawa uang kertas di tahun-tahun ini.
Itu, pikir Raka sambil terus berjalan, akan jadi masalah besar.
Ia menyeberangi jembatan penyeberangan yang biasanya ia naiki dengan eskalator. Sekarang ia menaiki anak tangganya satu per satu. Dari atas, ia bisa melihat lebih jauh. Asap mengepul dari tiga, empat titik berbeda di seluruh kota. Kebakaran. Tanpa pompa listrik, tanpa mobil pemadam yang bisa menyalakan mesin, api akan tumbuh sesuka hati.
Seorang pemuda berlari melewatinya di jembatan, menabrak bahunya tanpa minta maaf. Di tangannya, sekotak air mineral. Di belakangnya, dari arah minimarket tadi, terdengar teriakan. Raka menoleh. Antrean tadi sudah bukan antrean. Itu kerumunan yang berdesak masuk ke dalam toko. Kaca etalase pecah dengan bunyi yang aneh, hampir merdu, di tengah keheningan kota tanpa mesin.
Begitu cepat, pikir Raka. Belum satu jam.
Ia mempercepat langkah. Rumahnya—rumah kontrakan kecil tempat ia tinggal bersama Bagas—berada di pinggiran, sekitar tujuh kilometer ke barat. Sekolah Bagas lebih jauh lagi, di selatan. Ia harus membuat keputusan: pulang dulu, atau langsung ke sekolah.
Logikanya berkata sekolah. Tapi sekolah itu jauh, dan kalau Bagas anak yang ia kenal—dan ia mengenalnya, ia membesarkannya sendiri sejak orang tua mereka meninggal empat tahun lalu—maka Bagas akan melakukan persis yang Raka ajarkan: kalau terjadi sesuatu dan tidak bisa menghubungi siapa-siapa, pulang. Pulang ke rumah. Rumah adalah titik temu.
Raka berpegang pada keyakinan itu seperti orang berpegang pada tali di tengah arus.
Ia turun dari jembatan dan masuk ke jalan yang lebih sempit, melewati deretan ruko. Di sini lebih sepi, tapi kesepiannya tidak menenangkan. Sebuah keluarga berjalan beriringan, ayah menggendong anak, ibu menyeret koper, seakan mereka hendak ke bandara yang tidak akan pernah lagi memberangkatkan pesawat. Seorang kakek duduk di kursi plastik di depan rumahnya, memandangi jalan, wajahnya tenang dengan ketenangan orang yang sudah melihat terlalu banyak hal untuk terkejut.
"Mau ke mana, Nak?" tanya kakek itu saat Raka lewat.
"Pulang, Kek. Jemput adik."
Kakek itu mengangguk pelan. "Bagus. Kumpulin keluarga. Sebelum malam." Ia menatap langit yang masih terlalu biru. "Malam ini bakal beda. Nggak ada lampu jalan. Nggak ada apa-apa. Orang jadi berani kalau gelap."
Kata-kata itu mengikuti Raka sepanjang sisa perjalanan, lebih berat dari ransel di punggungnya. Orang jadi berani kalau gelap. Ia melihat matahari. Masih tinggi, tapi mulai condong. Ia punya waktu, mungkin lima jam, sebelum kota ini berubah jadi sesuatu yang lain sama sekali.
Ia mulai berlari.