Tujuh kilometer terasa seperti tujuh puluh.
Raka berlari, lalu berjalan cepat saat napasnya habis, lalu berlari lagi. Keringat membasahi punggungnya. Kota di sekelilingnya berubah perlahan, seperti air yang mulai mendidih—gelembung kepanikan muncul di sana-sini, makin sering, makin besar.
Di sebuah perempatan, ia melihat perkelahian pertama. Dua lelaki memperebutkan sebuah sepeda. Sepeda. Benda paling sederhana, paling tidak bernilai kemarin, kini jadi harta karena ia bergerak tanpa listrik, tanpa bensin yang tak bisa lagi dipompa dari SPBU mati. Salah satu lelaki itu memukul yang lain dengan helm. Darah. Raka memalingkan muka dan terus berlari.
Ia belajar cepat di sepanjang jalan. Pelajaran-pelajaran kecil yang menumpuk jadi naluri.
Pelajaran pertama: jangan menatap mata orang terlalu lama. Tatapan adalah tantangan sekarang.
Pelajaran kedua: jangan terlihat membawa sesuatu yang berharga. Ia memasukkan ransel ke depan, dipeluk, agar tidak jelas penuh atau kosong.
Pelajaran ketiga: air lebih berharga dari uang. Ia melewati seorang anak menjual air mineral seharga lima puluh ribu sebotol, dan ada yang membelinya tanpa menawar.
Saat melewati sebuah apotek yang sudah dijarah, kaca pintunya berserakan di trotoar, ia berhenti sejenak. Otaknya, yang selama ini terlatih bekerja di belakang meja, kini bekerja dengan cara berbeda. Obat. Bagas punya asma ringan. Inhalernya di rumah tinggal sedikit. Raka melangkah masuk ke apotek yang sudah porak-poranda, melewati orang-orang yang menyikut satu sama lain, dan mencari di rak yang berantakan. Sebagian besar sudah ludes. Tapi di sudut bawah, terjatuh, ia menemukan dua inhaler dan beberapa strip obat penurun panas. Ia masukkan ke ransel cepat-cepat, jantung berdebar bukan karena lari, tapi karena ia baru saja melakukan sesuatu yang kemarin akan ia sebut mencuri, dan hari ini ia sebut bertahan hidup.
Perubahan itu, betapa cepatnya, membuatnya ngeri pada dirinya sendiri.
Ia keluar dan melanjutkan.
Matahari sudah turun seperempat langit saat ia akhirnya mengenali jalan-jalan dekat rumahnya. Gang-gang sempit, warung-warung kecil, pos ronda yang biasanya kosong di siang hari kini dikerumuni orang. Tetangga-tetangga berkumpul, bicara berbisik, wajah-wajah yang ia kenal kini diselimuti ketakutan yang sama.
"Raka!" Pak Hadi, tetangga sebelah, memanggilnya. "Kamu dari kantor? Jalan kaki?"
"Iya, Pak." Raka berhenti, napas tersengal. "Bagas udah pulang?"
Pak Hadi menggeleng. Dan dengan satu gelengan kepala itu, dunia Raka miring.
"Belum keliatan. Anak-anak sekolah pada belum pulang. Jauh-jauh sekolahnya."
Raka memaksa dirinya tetap tenang. "Mungkin masih di jalan. Jauh kan, jalan kaki."
"Mungkin." Pak Hadi menepuk bahunya. "Masuk dulu, istirahat. Minum. Kamu pucat."
Raka masuk ke kontrakannya. Pintu ia buka dengan tangan gemetar. Di dalam gelap, hawa pengap karena tidak ada kipas, tidak ada apa-apa. Ia menyeruak ke dapur, mengambil galon air yang masih setengah penuh, meneguk langsung dari kerannya. Air. Berharga. Ia menutup keran dengan hati-hati, seakan menumpahkan setetes pun adalah dosa.
Lalu ia berdiri di tengah ruangan, dan untuk pertama kalinya sejak lampu padam, ia membiarkan dirinya merasakan rasa takut yang sebenarnya.
Bagas. Lima belas tahun. Sendirian di kota yang sedang runtuh.
Ia menatap matahari lewat jendela. Mungkin tiga jam lagi gelap. Pulang dulu, kumpulin keluarga, kata kakek tadi. Sebelum malam.
Raka mengisi ranselnya. Air dalam dua botol. Inhaler cadangan. Beberapa biskuit yang ia temukan di lemari. Pisau dapur yang ia bungkus kain dan selipkan. Senter—lalu ia tertawa pahit, karena senter pun mati, dan ia melemparnya ke lantai. Ia mengambil korek api gas yang untungnya masih bekerja, karena api tidak butuh elektronik. Lilin. Tiga batang.
Ia menyampirkan ransel ke punggung, lalu keluar lagi ke jalan yang mulai meredup, melawan arah semua orang yang berbondong-bondong pulang.
Ia akan ke sekolah. Ia akan mencari adiknya.