Berjalan ke selatan saat semua orang berjalan ke arah rumah masing-masing membuat Raka terasa seperti ikan melawan arus.
Wajah-wajah yang berpapasan dengannya semua memandang dengan heran. Kenapa lelaki ini berjalan ke pusat kota, ke arah yang dijauhi semua orang? Ia tidak peduli. Setiap langkah membawanya lebih dekat ke Bagas, dan itu satu-satunya hal yang penting.
Cahaya sore berubah keemasan, lalu jingga. Bayangan memanjang. Dan dengan turunnya matahari, sifat kota berubah.
Toko-toko yang siang tadi masih ragu-ragu kini habis dijarah. Etalase pecah di mana-mana. Beberapa toko dibakar—entah sengaja, entah dari kompor yang ditinggal menyala. Asap menggantung rendah, membuat tenggorokan perih. Di sebuah jalan, Raka harus memutar karena ada kerumunan mengelilingi sebuah gudang, berebut, saling dorong, dan ia tahu kalau ia masuk ke dalam kerumunan seperti itu, ia mungkin tidak akan keluar lagi.
Ia menyusuri gang-gang kecil. Pelajaran keempat: jalan besar berbahaya, gang sempit lebih aman, tapi gang buntu adalah perangkap. Ia mempelajari peta kota dalam kepalanya dengan cara baru—bukan rute tercepat, tapi rute teraman.
Di sebuah gang, ia bertemu seorang perempuan muda yang meringkuk di sudut, memeluk lututnya. Awalnya Raka mengira ia terluka. Lalu perempuan itu mengangkat wajah, dan Raka melihat ketakutan murni di matanya.
"Tolong," katanya pelan. "Ada yang ngejar saya tadi. Saya nggak tahu jalan."
Raka berhenti. Setiap saraf di tubuhnya berkata jangan berhenti, jangan terlibat, kamu punya tujuan sendiri. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa ia matikan dalam dirinya—sesuatu yang membuatnya membesarkan adiknya sendirian, sesuatu yang membuatnya tidak bisa melangkahi orang yang ketakutan.
"Kamu mau ke mana?" tanya Raka.
"Rumah saya di Kampung Bahari. Utara." Perempuan itu menyeka pipi. "Nama saya Sinta."
Utara. Berlawanan dengan tujuan Raka. Ia merasakan tarikan dua arah dalam dadanya.
"Saya nggak bisa nganterin," kata Raka jujur. "Saya harus ke selatan, jemput adik saya. Tapi—" Ia berpikir cepat. "Ikut saya sampai jalan besar di depan. Dari situ kamu lurus ke utara, lewat sisi sungai, hindari pasar. Pasar pasti rusuh."
Sinta berdiri, agak goyah. "Boleh saya ikut sampai situ?"
"Cepat. Jangan jauh-jauh dari saya."
Mereka berjalan bersama, dan Raka menyadari betapa kehadiran orang kedua mengubah cara berpikirnya. Sendirian ia hanya perlu mencemaskan dirinya. Berdua, ia harus melihat ke dua arah.
Di mulut gang, mereka berhenti. Jalan besar di depan dipenuhi orang dan asap. Tapi sisi kanan, ke arah sungai, lebih lengang.
"Dari sini," kata Raka. "Lurus, ikut sungai. Jangan lari, lari bikin orang ngejar. Jalan biasa, tapi jangan berhenti."
Sinta menatapnya. "Kamu kenapa repot-repot nolongin orang asing?"
Raka tidak punya jawaban yang bagus. "Karena kalau adik saya yang nyasar, saya harap ada yang mau nolongin dia."
Sinta diam sejenak. Lalu ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu—sebuah peluit logam kecil, jenis yang dikalungkan pendaki. "Ambil ini. Saya pendaki dulu. Kalau kepepet, tiup. Kadang suara keras bikin orang mundur, ngira ada ramai-ramai."
Raka menerimanya. Benda kecil, tapi entah kenapa terasa berharga. "Hati-hati, Sinta."
"Kamu juga. Semoga ketemu adikmu."
Perempuan itu berbalik dan menyusuri sungai, menghilang di antara bayangan. Raka tidak akan pernah tahu apakah ia sampai. Tapi sesuatu dalam dirinya merasa sedikit lebih utuh, seakan dengan menolong satu orang, ia membuat perjanjian diam-diam dengan dunia bahwa adiknya juga akan ditolong di suatu tempat.
Ia berbalik ke selatan dan terus berjalan, ke dalam kota yang kini menyala bukan oleh lampu, tapi oleh api.