Malam tiba seperti tirai yang dijatuhkan.
Raka tidak pernah tahu betapa gelapnya kota bisa menjadi. Tanpa lampu jalan, tanpa cahaya jendela, tanpa kerlap-kerlip papan reklame, kota berubah jadi makhluk hitam yang hanya terganggu oleh nyala kebakaran di kejauhan dan obor-obor darurat yang dibawa orang. Bintang-bintang muncul di atas kota untuk pertama kalinya dalam ingatan Raka—begitu banyak, begitu terang, indah dengan cara yang menakutkan, karena keindahan itu hanya mungkin saat segalanya yang lain mati.
Ia menyalakan satu lilin, melindunginya dengan tangan, lalu memutuskan itu terlalu mencolok dan memadamkannya. Lebih baik tidak terlihat. Ia berjalan dalam gelap, meraba dinding, mengandalkan ingatan dan suara.
Sekolah Bagas masih sekitar satu kilometer lagi saat ia mendengar suara langkah di belakangnya. Banyak langkah. Ia menyelinap ke balik mobil mati yang melintang dan menahan napas. Serombongan orang lewat, membawa obor, membawa benda-benda yang berkilau di cahaya api—pipa besi, parang. Mereka tidak bicara banyak. Diam mereka lebih menakutkan daripada keributan. Raka menunggu sampai langkah mereka jauh, lalu keluar dan bergegas.
Pelajaran kelima, yang baru ia pelajari malam itu: di siang hari kota ini milik kerumunan yang panik. Di malam hari, kota ini milik yang berburu.
Akhirnya, gerbang sekolah muncul di hadapannya. Sebuah bangunan tiga lantai yang ia kenal dari mengantar Bagas dulu. Gelap. Gerbangnya setengah terbuka. Tak ada satpam.
"Bagas?" panggil Raka, suaranya ditahan, tak berani terlalu keras. "Bagas!"
Tidak ada jawaban. Ia masuk ke halaman, melewati lapangan upacara yang kosong. Hatinya mencelos. Sekolah ini sudah kosong. Tentu saja. Sudah berjam-jam sejak lampu padam. Anak-anak pasti sudah dipulangkan, atau pulang sendiri, atau—
Ia tidak mau memikirkan "atau".
Ia menyusuri koridor lantai dasar, memanggil nama adiknya dengan suara tertahan. Pintu-pintu kelas terbuka, bangku-bangku berserakan, tas-tas tertinggal. Ada kepanikan di sini tadi. Ia bisa membaca jejaknya: sepatu yang terlepas, botol minum yang berguling, papan tulis yang masih ada tulisan pelajaran terakhir, terhenti di tengah kalimat.
Lalu ia mendengar sesuatu. Suara kecil. Dari arah ruang yang ia kenal sebagai ruang UKS.
Raka berhenti. Jantungnya berdebar. "Bagas?"
Suara itu—tangisan tertahan, lalu diam. Seseorang menahan napas di dalam.
Ia mendekati pintu UKS pelan-pelan. "Aku Raka. Aku nggak akan nyakitin. Aku nyari adikku, Bagas, kelas sepuluh. Kalian kenal Bagas?"
Hening sejenak. Lalu pintu terbuka sedikit, dan wajah seorang gadis menyembul, mungkin seusia Bagas, mata sembab. Di belakangnya, samar dalam gelap, Raka melihat dua sosok lagi. Anak-anak. Tertinggal.
"Om... om-nya Bagas?" tanya gadis itu, suaranya bergetar.
"Iya. Kakaknya. Kamu kenal dia?"
Gadis itu mengangguk cepat. "Bagas... Bagas tadi sama-sama kita. Tapi terus dia bilang mau pulang. Jalan kaki. Sama Reno sama yang lain."
Sesuatu di dada Raka melonggar dan mengencang sekaligus. Bagas hidup. Bagas tadi di sini. Tapi Bagas sudah pergi.
"Kapan? Berapa jam lalu?"
"Sore. Sebelum gelap. Dia bilang—" Gadis itu menelan ludah. "Dia bilang harus pulang sebelum malam, soalnya kakaknya pasti nyari."
Raka memejamkan mata. Anak itu. Anak itu melakukan persis yang ia harapkan. Pulang sebelum malam. Sementara Raka justru berjalan ke arah sebaliknya, ke sekolah, dan mereka pasti saling berpapasan di jalan yang berbeda di kota yang luas dan gelap ini, dua orang yang saling mencari, terpisah hanya oleh pilihan rute.
"Dia ke arah mana?" tanya Raka.
"Lewat jalan besar, katanya. Yang cepat."
Jalan besar. Yang sekarang dikuasai para pemburu malam.
Raka menatap tiga anak yang tertinggal di ruang UKS itu. Mereka memandangnya dengan harapan yang membuatnya tak sanggup pergi begitu saja. Tapi adiknya ada di luar sana, di jalan besar, sendirian, dalam gelap.
Ia harus memilih lagi. Dan setiap pilihan terasa seperti mengkhianati seseorang.