Tak terasa jam pulang sudah tiba, Fahri dan kedua teman barunya melangkah menuju parkiran hendak menuju kendaraan masing masing dan kemudian pulang.
“lo langsung pulang Ri, main dulu ke rumah gua gak ?” tanya rizal pada fahri yang sekarang sudah menduduki motor masing masing, sementara Nayla ikut menumpang di motor Rizal karena rumahnya yang memang berdekatan
“kayanya gak deh, lain waktu aja yah. Saya harus buru buru pulang” tolak fahri dengan halus ajakan rizal tersebut. Pasalnya Fahri sudah kangen sama si kembar di rumah dan ingin buru buru bercengkrama dengan kedua buah hatinya tersebut.
“yaudah, hati hati di jalan yah. Awas tragedy tadi pagi jangan di ulang yah” ucap rizal sambil terkekeh
“hehe dasar” balas fahri dengan kekehannya
“Rizal memajukan motornya terlebih dahulu, dan Nayla melambaikan tangannya kea rah Fahri disertai dengan senyum manisnya dan dibalas lambaian tangan dan senyum oleh fahri.
Sesampainya dirumah, fahri buru buru masuk. Tak sabar rasanya ingin segera bercengkrama dengan kedua buah hatinya.
“Assalamu’alaikum, abi pulaaang” Ucapnya sambil mendapati kedua buah hatinya sedang menonton televisi di ruang keluarga
Hal itu sontak membuat kedua buah hatinya menghambur kedalam pelukan sang ayah, namun raut keduanya terlihat menjadi kecewa.
“Loh kenapa jadi pada manyun gini” tanya Fahri yang merasa heran dengan perubahan raut kedua buah hatinya tersebut
“kata abi kalau pulang mau bawa makanan, terus mana makanannya” tanya Azka sang anak laki laki fahri
“Astagfirullah, Abi lupa. Tadi buru buru pulang. Habisnya kangen kalian” jawab Fahri yang memang lupa akan janjinya tadi pagi
“Yaah Abiii…” ucap keduanya yang masih dengan ekspresi kecewanya
“Kamu ini Nak, anak kecil itu kalau dijanjiin yah pasti ngarep lah. Mana dari tadi bawel nanyain ke mamah kapan abi pulang, kapan abi pulang” ucap sang ibu kepada anaknya
“iya mah, aku beneran lupa” jawab fahri
“yaudah gini deh, nanti habis sholat ashar kita jalan jalan yang nyari tempat jajan yang enak. Oke” ujar fahri sambil menaikan kedua jempolnya
“Asiiiik, jalan jalan” ucap keduanya kompak
Kemudian Fahri pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian melaksanakan Sholat Ashar diikuti dengan kedua anaknya. Fahri memang mengajarkan kedua anaknya untuk melaksanakan salah satu kewajiban yang paling utama sebagai umat muslim, agar kelak mereka terbiasa melaksanakannya.
Sesuai dengan janjinya, sehabis sholat. Fahri mengajak kedua anaknya untuk jalan jalan mencari tempat jajan guna untuk menebus rasa bersalah karena lupa tak menepati janjinya kepada ankanya.
Mereka berangkat dengan menggunakan mobil, yah meskipun fahri hidup sederhana bukan berarti kekurangan dari segi materi. Penghasilannya dari mengajar terbilang cukup, dan seminggu dua kali dia selalu mengisi pengajian umum di universitas di daerah dekat rumahnya. Dan fahri biasa diberikan ongkos dari pihak universitas yang cukup lumayan. Juga tak jarang sebagai aktivis agama, fahri sering di undang untuk mengisi acara acara pengajian dan diskusi tentang agama yang mana dia selalu jadi narasumber pembicara di acara acara tersebut.
Meskipun tidak mewah, namun mobil yang fahri miliki cukup nyaman untuk membawa keluarganya apabila hendak keluar sebatas jalan jalan dan bepergian jauh.
Sebuah mobil sedan berwaarna biru keluar dari penkarangan rumahnya dan menelusuri jalan kota bandung yang ramai namun tidak terlalu macet.
Hingga pada akhirnya, mereka berhenti di sebuah kafe yang menjual aneka makanan ringan dan sedang.
Namun Ketika hendak memasuki kafe, fahri melihat sosok yang tidak asing baginya yang sedang berdiri di depan etalase apotik di pinggir kafe tersebut, sosok itu adalah Nayla teman barunya di kampus. Fahri langsung menghamiri nayla yang tengan berdiri menunggu di depan etalase apotek.
“Assalamu’alaikum Nayla” sapa Fahri kepada Nayla
Nayla menoleh dan terkejut melihat sosok laki laki tampan yang dari pagi sampai siang selalu dicuri curi pandang terhadapnya.
“Waalaikumsalam, eh Fahri kok ada disini” tanya Nayla dengan ekspresi keterkejutannya
“iya kebetulan lagi ajak Jalan – jalan anak anak” jawab fahri sambil menggandeng kedua anaknya tersebut
“oh, kamu udah nikah fahri ?” tanya nayla sambil merasakan rasa kecewanya dalam hati
“hmmm, tepatnya udah pernah nikah” jawab fahri
“haa, maksudnya ?” tanya Nayla yang merasa bingung dengan jawaban ambigu yang fahri berikan
“hmm gimana ya jelasinnya, eh kamu lagi apa disini. Ada waktu luang gak ?
Gimana kalu ikut kita makan makan dulu di kafe sebelah, sambil saya jelasin maksud jawaban tadi ?”
Ujar fahri kepada Nayla
“lagi beli obat, yaudah boleh deh. Lagian aku juga rencananya sambil mau nyari makan” jawab Nayla yang kebudian mereka langsung berlalu meninggalkan apotik setelah nayla mendapatkan obat yang dibutuhkannya
Setelah itu mereka memesan makanan, dan memulai perbincangan
“emang kamu beli obat buat siapa Nayla. Kamu sakit ?” tanya fahri yang penasaran untuk siapa nayla membeli obat
“bukan untuk aku, tapi untuk ibu. Beliau sudah 2 tahun ini mengidap penyakit strouke. Jadi aku harus rutin membelikan obat untuk ibu” Jawab Nayla memberikan penjelasan kepada Fahri
“Eh, jawab dong tadi pertanyaan aku. Maksudnya kamu pernah menikah ? terus istri kamu kemana ?” tanya Nayla yang tidak sabar mendengar jawaban dari fahri
“iya, aku pernah menikah. Istriku meninggal satu tahun yang lalu karena penyakit yang serius. Dan ini anak – anaku, mereka kembar. Usianya baru tiga tahun” terang fahri kepada Nayla
Disisi lain Nayla merasa kasihan kepada fahri dan kedua anaknya, karena harus kehilangan istri dan ibu dari anak anaknya disaat usia mereka berdua masih sangat sangat membutuhkan sosok sang ibu disisinya. Namun disisi lain, dia merasa lega karena ternyata dia masih memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan fahri.
Entah mengapa, sejak pertemuan pertama pagi tadi. Ada rasa yang aneh tumbuh di hati Nayla, rasa kagum, rasa suka, dan apakah mungkin inikah perasaan cinta pada pandangan pertama. Dia tidak tau pasti apa yang dia rasakan. Yang pasti saat ini dia ingin lebih dekat lagi dengan sosok pria di depannya tersebut, ditambah ada rasa yang lebih setelah mengetahui kedua anak anak manis di depannya ini sangat membutuhkan sosok seseorang seperti ibunya.
“Maaf yah Fahri aku gak bermaksud mengungkit ingatan kamu yang menyakitkan, aku tidak tau. . .”
Ucap Nayla yang melihat perubahan ekspresi pada wajah Fahri yang murung
“Tidak apa – apa Nay, semua ini sudah Takdir dari sang Maha Kuasa. Saya ikhlas kok menerima semuanya” ujar Fahri dengan sedikit senyum yang dipaksakan
“kamu hebat Fahri, Aku salut sama kamu. Oh iya, adek adek manis ini siapa Namanya. Sini sama tante sayang” tutur Nayla yang sekarang beralih memperhatikan dua sosok imut yang Bersama dengan fahri
“tuh di panggil sama tante, sayang” Ucap Fahri sambil menunjukan telunjuk kearah Nayla
“Aku Azka, ini adik aku Azkia. Tante Namanya siapa” tanya sang abang kepada nayla
“duh lucu lucu banget sih, pinter lagi. Tante Namanya Nayla, Sini Tante suapin makannya” tutur nayla yang kini mencoba lebih dekat dengan kedua insan kembar tersebut
Hingga tak terasa hari mulai agak gelap, pertanda waktu Maghrib telah dekat. Merekapun bergegas keluar dari kafe hendak pulang
“Oh iya, rumah kamu jauh gak dari sini Nay. Kesini naik apa ?” tanya fahri yang sedari tadi dia tidak melihat Nayla membawa kendaraan
“Lumayan deket kok, aku biasa naik angkutan umum kesini. Maklum aku gak bisa pake motor dan gak kebele juga sih. Hehe” jawab Nayla yang memang dari segi ekonomi Nayla termasuk sederhana. Beruntung karena kepintarannya, dia tak perlu terlalu pusing memikirkan biaya kuliah karena dia selalu mendapatkan beasiswa dari mulai SMP sampai dengan Program S2 sekarang.
“oh, yaudah hayu saya anter dulu kamu pulang mumpung belum magrib” tawar Fahri pada nayla yang tidak tega membiarkan nayla pulang sendiri
“ngerepotin gak nih ? kalo repot gak usah” tanya nayla, padahal dalam hatinya dia sangat Bahagia dengan tawaran fahri tersebut
“enggak kok, santai aja” jawab fahri
“yaudah, maksih yah fahri” ujar nayla yang dijawab oleh fahri seraya tersenyum ramah, dan lagi lagi hal tersebut membuat jantung di d**a nayla berdegub tak karuan
“haduuuh kenapa sih kalau fahri senyum selalu bikin aku meleleh. Fix harus aku perjuangin laki – laki di depanku ini” Gumam Nayla dalam hati
Hingga merekapun melaju dengan mobil ke rumah Nayla, sehingga menampakan rumah yang sederhana namunmemiliki halaman yang agak lega dan asri. Dihiasi dengan bunga bunga berbagai macan jenis
“Ini rumah kamu Nay, Ternyata kamu suka bunga yah. Indah banget rumah kamu Nay” ujar Fahri melihat takjub rumah nayla yang penuh dihiasi dengan bunga bunga
“sebenarnya mamah aku yang suka bunga, dulu sebelum mamah aku sakit, dia seneng banget ngurus bunga. Cuma karena saat ini kondisi mamah lagi tak memungkinkan mengurus bunga, jadi aku yang gantiin ngurus. Lumayan buat nambah ketenangan kalau lagi galau ya liat liat bunga” jawab nayla sambil menampilkan senyum manisnya.
“jangan galau – galau, hidup itu harus Bahagia dan selalu bersyukur. Meskipun Allah sedang menguji kita dan kita merasa Ujian Itu berat. Kita tetap harus bersyukur atas apa yang kita punya dan kita dapatkan saat ini. Diluar sana banyak orang yang merasa menyesal karena semasa orangtuanya hidup, mereka mengabaikan kesempatan untuk membahagiakan orangtuanya sehingga kesempatan tersebut hilang dan kalau sudah seperti itu, penyesalanpun tidak ada gunanya” tutur fahri yang seakan mengerti apa yang sedang Nayla rasakan.
“hmm, kamu bener Fahri. Makasih yah nasehatnya. Beban di pundakku seakan menjadi ringan” ujar nayla
“mau mampir dulu gak ?” Tanya nayla Kembali
“lain kali saja yah Nayla, sebentar lagi magrib” tolak fahri secara halus
“yaudah, sekali lagi makasih yah” ujar nayla seraya turun dari mobil dan melambaikan tangannya, tang lupa mengusap dan menciumi pucuk kepala si kembar secara bergantian
Waktu pun berlalu, kini fahri tengah berada dikamar, hendak meninabobokan si kembar karena waktu memang sudah menunjukan pukul sembilah. Sebagai single Father, kegiatan seperti ini biasa dia lakukan karena memang anak seusia itu masih sangat sangat perlu kasih sayang orang tua. Dan Fahri melimpahkan semua kasih sayangnya kepada kedua anaknya tersebut meskipun tanpa kehadiran sang istri disampingnya. Dia bertekad, meskipun si kembar saat ini tengah kehilangan sosok penting di hidupnya, namun fahri akan mencurahkan semua perhatiannya sehingga kedua anaknya tersebut tidak kurang mendpat kasih sayang dari orangtua.
Sedangkan ditempat lain, ada sesosok insan yang tengah berbunga bunga hatinya. Menampilkan senyum diwajahnya dan sesekali tampak melamun namun dengan ekspresi yang Bahagia.
“ehem, kayaknya ada yang lagi Bahagia banget nih. Dari tadi senyum senyum sendiri” ucap sang mamah di kursi rodanya yang berhasil membuyarkan lamunan gadis tersebut
“ih mamah apaan sih, gak kok biasa aja” elak gadis tersebut, yang dibuat salah tingkat karena kepergok sang mamah tengah melamun dan senyum senyum sendiri
“ya, gak apa apa kok kalau beneran juga. Mamah justru Bahagia litanya. Jarang jarang kamu seceria ini. Biasanya kamu murung terus. Ada apa, cerita dong sama mamah kamu ini ?” ucap sang mamah yang begitu penasaran dengan tingkah anak gadisnya tersebut
“hmm, gimana yah mah. Pokonya gitu deh mah. Hehe” jawab sang anak yang masih merasa malu kalau harus bercerita kepada mamahnya itu
“Emmm, kayaknya habis ketemu calon imam yah hmm” goda sang mamah
“Ih mamah, tapi doain aja yah mah” ujar sang anak sambil tersenyum kepada mamahnya
“pasti dong, mamah pasti selalu doain yang terbaik buat kebahagiaan anak mamah. Semoga kelak kamu mendapatkan kebahagiaan kamu nak, dan kamu dipertemukan dengan laki laki baik yang bisa menjaga kamu dan rela mengorbankan segalanya demi kebahagiaan kamu” tutur sang mamah sambil mengusap punggu putrinya tersebut yang duduk di sampingya
“aamiiin Ya Robbal Alamiinn..” Ucap Nayla
*****