EPISODE 7 ancaman pertama dan keasingan di hadapan keyla
Malam itu, Wendri Abas tidak langsung tidur.
Tatapannya tertuju pada panel merah yang masih melayang di depan matanya.
> [Peringatan Tingkat Menengah]
Seorang investor besar mulai menganggap Anda sebagai ancaman potensial.
Tingkat Bahaya: Sedang.
Wendri mengernyit.
Ancaman?
Ia hanyalah seorang kurir yang baru beberapa hari mengenal dunia saham.
Bahkan hingga saat ini, sebagian besar orang masih menganggapnya pria biasa.
Lalu bagaimana mungkin ada investor besar yang menganggapnya ancaman?
Beberapa detik kemudian, tulisan baru muncul.
> [Saran Sistem]
Percepat pertumbuhan aset.
Tingkatkan pengaruh pasar.
Persiapkan jaringan kepercayaan.
Wendri membaca kalimat terakhir dua kali.
Jaringan kepercayaan.
Artinya ia tidak bisa berjalan sendirian selamanya.
Cepat atau lambat, ia membutuhkan orang-orang yang bisa dipercaya.
Namun saat ini, orang yang benar-benar ia percayai hanya beberapa orang.
Ibunya.
Bakara.
Anto.
Andra.
Dan tidak banyak lagi.
Keesokan paginya.
Pasar masih ramai membicarakan SMT.
Media keuangan terus menulis artikel mengenai lonjakan saham tersebut.
Nama perusahaan itu kini muncul hampir di setiap forum investasi.
Banyak investor terlambat masuk.
Banyak pula yang menyesal karena tidak membeli lebih awal.
Namun tidak seorang pun mengetahui bahwa beberapa hari sebelum semua itu terjadi, seorang kurir bernama Wendri Abas telah masuk terlebih dahulu.
Di sebuah kantor mewah.
Leonard Pratama membaca laporan yang baru diterimanya.
Wajahnya perlahan mengeras.
"Masih belum menemukan apa-apa?"
"Belum, Pak."
Seorang bawahan menjawab dengan hati-hati.
"Semua data menunjukkan dia hanya kurir biasa."
Leonard mengetuk meja pelan.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara itu membuat suasana ruangan menjadi tegang.
"Kurir biasa tidak membeli SMT tepat sebelum pengumuman besar."
"Maaf, Pak."
"Lanjutkan penyelidikan."
"Baik."
Setelah bawahannya keluar, Leonard menatap foto Wendri.
Tatapannya tajam.
Ia tidak suka hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.
Terutama di dunia investasi.
Karena sering kali sesuatu yang tidak bisa dijelaskan adalah sesuatu yang berbahaya.
Sementara itu.
Wendri sedang mengantar paket ke sebuah gedung perkantoran besar.
Saat menunggu tanda tangan penerima, panel sistem tiba-tiba muncul.
> [Misi Kedua Dibuka]
Temukan Peluang Multibagger Pertama.
Batas Waktu: 14 Hari.
Hadiah: Pembukaan Tingkat 2 Sistem.
Mata Wendri langsung membelalak.
"Tingkat 2?"
Selama ini sistem selalu berada di Tingkat 1.
Jika naik tingkat, kemungkinan kemampuannya juga akan meningkat.
Namun yang membuat Wendri lebih tertarik adalah istilah yang digunakan.
Multibagger.
Ia pernah membaca istilah itu.
Saham yang bisa naik berkali-kali lipat.
Bukan sekadar puluhan persen.
Melainkan ratusan persen.
Bahkan ribuan persen.
Jika berhasil menemukan peluang seperti itu...
Hidupnya benar-benar bisa berubah.
Sore hari.
Setelah pulang bekerja, Wendri langsung membuka fitur Analisis Mendalam.
Untuk pertama kalinya ia mulai memeriksa puluhan perusahaan satu per satu.
Hasilnya membuatnya terkejut.
Sebagian besar perusahaan ternyata memiliki banyak risiko tersembunyi.
Ada yang terlihat bagus dari luar tetapi sebenarnya penuh utang.
Ada yang tampak buruk tetapi diam-diam sedang berkembang.
Wendri mulai memahami satu hal.
Dunia saham jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Namun dengan bantuan sistem, ia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki orang lain.
Di sisi lain kota.
Alicia Wijaya sedang menikmati kopi sore ketika asistennya masuk.
"Nona."
"Ada apa?"
"Kami menemukan sesuatu yang menarik."
Alicia mengangkat kepala.
"Asal-usul Wendri?"
"Bukan."
"Lalu?"
Asisten itu menyerahkan tablet.
"Investor yang sedang menyelidiki Wendri bukan hanya kita."
Alicia langsung tertarik.
"Siapa lagi?"
"Leonard Pratama."
Mata Alicia sedikit menyipit.
Nama itu tidak asing baginya.
Leonard adalah salah satu investor besar yang terkenal agresif.
Dan jika Leonard mulai tertarik pada seseorang...
Biasanya bukan kabar baik.
Malam hari.
Wendri sedang duduk di teras rumah bersama ibunya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suasana hatinya terlihat lebih ringan.
Marni memperhatikan anaknya sambil tersenyum.
"Kamu terlihat berbeda."
"Hm?"
"Lebih hidup."
Wendri tertawa kecil.
"Mungkin."
Marni mengangguk.
Apa pun yang sedang terjadi pada putranya, ia hanya berharap satu hal.
Semoga Wendri menemukan kebahagiaan yang selama ini dicarinya.
Namun tepat saat itu...
Panel sistem muncul lagi.
Kali ini dengan tulisan yang membuat senyum Wendri perlahan menghilang.
> [Peringatan]
Dalam waktu dekat, seseorang dari masa lalu Anda akan mencoba kembali mendekat.
> Tingkat Pengaruh terhadap Emosi: Tinggi
Jantung Wendri berdetak pelan.
Ia tidak perlu berpikir lama untuk menebak siapa yang dimaksud.
Karena dalam hidupnya...
Hanya ada satu orang yang masih memiliki pengaruh sebesar itu terhadap emosinya.
Keyla Salim.
Dan tanpa disadarinya, keputusan Keyla dalam beberapa hari ke depan akan menjadi salah satu ujian terbesar sejak ia mendapatkan sistem
Malam itu, Wendri Abas sulit memejamkan mata.
Bukan karena saham.
Bukan karena sistem.
Melainkan karena peringatan yang baru saja muncul.
> Seseorang dari masa lalu Anda akan mencoba kembali mendekat.
Dan Wendri tahu siapa orang itu.
Keyla Salim.
Wanita yang selama lima tahun menjadi pusat hidupnya.
Wanita yang hampir menjadi istrinya.
Dan wanita yang hingga kini masih meninggalkan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Wendri memejamkan mata.
Namun kali ini ia tidak merasa marah.
Ia hanya merasa lelah.
Sangat lelah.
Keesokan paginya.
Hari berjalan seperti biasa.
Wendri mengantar paket dari satu tempat ke tempat lain.
Tidak ada yang istimewa.
Hingga sekitar pukul dua siang.
Ia mendapat pengiriman ke sebuah gedung perkantoran yang sangat dikenalnya.
Gedung tempat Keyla bekerja.
Saat melihat alamat itu, langkah Wendri sedikit melambat.
Sudah hampir dua minggu sejak kejadian malam itu.
Dan sejak saat itu mereka hampir tidak pernah bertemu langsung.
Wendri menarik napas panjang.
Ini hanya pekerjaan.
Tidak lebih.
Beberapa menit kemudian.
Ia memasuki lobi gedung.
Suasana kantor tampak sibuk seperti biasa.
Beberapa pegawai lalu-lalang sambil membawa dokumen.
Wendri menuju meja resepsionis.
"Permisi, paket untuk PT Salim Konsultan."
"Silakan tunggu sebentar."
Resepsionis menghubungi bagian administrasi.
Namun sebelum seseorang turun mengambil paket...
Suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Tak jauh dari sana.
Keyla baru saja keluar dari lift.
Awalnya ia tidak memperhatikan.
Namun ketika melihat sosok pria berseragam kurir itu, tubuhnya langsung membeku.
"Wendri..."
Suara itu sangat pelan.
Namun cukup membuat Wendri menoleh.
Untuk beberapa detik.
Mereka saling memandang.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang bergerak.
Suasana di sekitar seolah menghilang.
Yang tersisa hanya dua orang yang pernah merencanakan masa depan bersama.
Namun kini berdiri sebagai orang asing.
Keyla tampak sedikit lebih kurus.
Mungkin karena kurang tidur.
Sementara Wendri terlihat jauh lebih tenang dibanding terakhir kali mereka bertemu.
"Sudah lama."
Akhirnya Keyla membuka suara.
"Iya."
Jawaban Wendri singkat.
Tidak dingin.
Tetapi juga tidak hangat.
Dan justru itu yang membuat hati Keyla semakin tidak nyaman.
Karena pria yang dulu selalu tersenyum ketika melihatnya kini tampak biasa saja.
"Apa kabarmu?"
"Baik."
"Kamu sehat?"
"Sehat."
Lagi-lagi jawaban singkat.
Keyla menggenggam tangannya sendiri.
Entah kenapa ia merasa gugup.
Padahal selama lima tahun mereka tidak pernah canggung seperti ini.
"Aku dengar kamu mulai berinvestasi."
Wendri mengangguk.
"Sedikit."
"Aku hanya khawatir."
Wendri tersenyum tipis.
Namun kali ini senyum itu berbeda.
Tidak pahit.
Tidak marah.
Hanya tenang.
"Terima kasih."
Kalimat sederhana itu justru membuat Keyla semakin sesak.
Karena ia menyadari satu hal.
Wendri tidak lagi bergantung padanya.
Saat itu juga.
Di lantai atas.
Melani yang sedang melihat ke arah lobi dari jendela kantor langsung membelalakkan mata.
"Bu Keyla..."
Ia bergumam pelan.
Melihat keduanya berdiri bersama lagi membuatnya ikut tegang.
Di lobi.
Keheningan kembali terjadi.
Sampai akhirnya Keyla memberanikan diri bertanya.
"Kamu masih marah padaku?"
Pertanyaan itu membuat Wendri terdiam beberapa detik.
Lalu ia menggeleng pelan.
"Tidak."
"Aku serius."
"Aku juga serius."
Wendri menatapnya.
Tatapan yang tenang.
Dewasa.
Dan jauh berbeda dari sebelumnya.
"Aku sudah terlalu lelah untuk marah."
Kalimat itu membuat d**a Keyla terasa sesak.
Karena ia tahu...
Kalimat tersebut lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Tak lama kemudian, staf kantor turun mengambil paket.
Pekerjaan Wendri selesai.
Ia menyerahkan dokumen dan bersiap pergi.
Namun sebelum melangkah keluar, Keyla kembali memanggilnya.
"Wendri."
Pria itu berhenti.
"Ada apa?"
Keyla menggigit bibir bawahnya.
Lalu berkata pelan.
"Apa kita masih bisa menjadi teman?"
Beberapa detik berlalu.
Wendri tidak langsung menjawab.
Di depan matanya, panel sistem tiba-tiba muncul.
> [Peringatan Emosional]
Stabilitas Mental Menurun 3%
Pengaruh Masa Lalu Terdeteksi
Wendri mengabaikan panel itu.
Lalu menatap Keyla.
"Aku tidak tahu."
Itulah jawaban paling jujur yang bisa ia berikan.
Karena saat ini bahkan dirinya sendiri belum memahami perasaannya.
Setelah mengatakan itu, Wendri pergi.
Meninggalkan Keyla yang berdiri diam di tengah lobi.
Menatap punggung pria yang perlahan menjauh.
Untuk pertama kalinya...
Keyla merasa kehilangan sesuatu yang dulu selalu ia anggap akan tetap ada.
Dan di saat yang sama.
Di sebuah mobil hitam yang terparkir di seberang jalan.
Seorang wanita cantik sedang memperhatikan kejadian itu dari balik kaca jendela.
Wanita itu adalah Alicia Wijaya.
Tatapannya tertuju pada Wendri.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
"Jadi dia orangnya."
Dan tanpa disadari Wendri...
Pertemuan pertama dengan salah satu pewaris konglomerat terbesar di negeri itu baru saja dimulai.