Wendri Abas tidak mengetahui bahwa dirinya baru saja diperhatikan oleh seseorang dari dalam mobil hitam di seberang jalan.
Setelah meninggalkan gedung tempat Keyla bekerja, ia langsung kembali menjalankan tugasnya sebagai kurir.
Mengantar paket.
Menandatangani dokumen.
Berkeliling kota seperti hari-hari biasa.
Namun di dalam mobil mewah itu, Alicia Wijaya masih memperhatikan punggung Wendri yang semakin menjauh.
"Nona, apakah itu dia?"
tanya asistennya yang duduk di kursi depan.
Alicia mengangguk pelan.
"Wendri Abas."
"Dia terlihat biasa."
"Itulah yang membuatnya tidak biasa."
Asistennya terdiam.
Karena selama bertahun-tahun bekerja untuk Alicia, ia tahu satu hal.
Jika Alicia mulai tertarik pada seseorang, biasanya orang tersebut memang memiliki sesuatu yang berbeda.
Sore hari.
Di kantor pusat Wijaya Group.
Alicia kembali membaca seluruh laporan tentang Wendri.
Mulai dari pekerjaannya sebagai kurir.
Riwayat keluarganya.
Lingkungan pertemanannya.
Hingga informasi tentang pertunangannya yang gagal.
Semua data tersusun rapi di atas meja.
Namun semakin banyak ia membaca, semakin besar rasa penasarannya.
"Dia tidak punya latar belakang finansial."
"Benar, Nona."
"Tidak punya keluarga kaya."
"Benar."
"Tidak punya koneksi investor besar."
"Benar."
Alicia mengetuk meja pelan.
"Lalu bagaimana dia bisa masuk ke SMT sebelum pengumuman besar?"
Asistennya tidak memiliki jawaban.
Karena memang tidak ada yang tahu.
Kecuali Wendri sendiri.
Dan tentu saja...
Sistem yang berada dalam dirinya.
Sementara itu.
Wendri baru saja selesai bekerja.
Saat membuka aplikasi saham, matanya langsung tertuju pada nilai asetnya.
Keuntungan dari SMT terus bertambah.
Kini total asetnya sudah melewati angka delapan puluh juta rupiah.
Jauh lebih besar dibandingkan saat pertama kali ia masuk ke pasar.
Namun sebelum sempat merasa puas, sistem muncul.
> [Misi Kedua Berjalan]
Waktu Tersisa: 12 Hari
Temukan Peluang Multibagger Pertama
Progres: 0%
Wendri menghela napas.
Ia hampir lupa dengan misi tersebut.
Selama beberapa hari terakhir, perhatiannya terlalu banyak tersita oleh pergerakan SMT dan pertemuannya dengan Keyla.
Kini ia harus kembali fokus.
Malam itu.
Wendri mulai menggunakan fitur Analisis Mendalam untuk memeriksa ratusan saham.
Satu per satu.
Dengan teliti.
Beberapa jam berlalu.
Namun belum ada yang benar-benar menarik.
Sampai akhirnya...
Sebuah perusahaan kecil muncul di layar.
> PT Nusantara Teknologi Digital (NTD)
Kondisi Saat Ini: Lemah
Perhatian Pasar: Rendah
Potensi Pertumbuhan 12 Bulan: Sangat Tinggi
Probabilitas Kenaikan Besar: 91%
Mata Wendri langsung menyipit.
Ini pertama kalinya sistem memberikan angka setinggi itu pada perusahaan yang hampir tidak dikenal.
Ia segera membuka data lebih rinci.
Lalu panel baru muncul.
> [Analisis Rahasia]
Perusahaan sedang mengembangkan teknologi yang akan menarik perhatian investor besar.
Status Informasi: Belum Diketahui Publik.
Jantung Wendri berdetak lebih cepat.
"Apakah ini?"
Ia mulai merasa bahwa dirinya mungkin telah menemukan target misi kedua.
Namun ia belum terburu-buru mengambil keputusan.
Ia ingin mempelajari lebih dalam terlebih dahulu.
Di sisi lain kota.
Keyla duduk sendirian di apartemennya.
Pikirannya masih teringat pertemuan siang tadi.
Wendri terlihat berbeda.
Sangat berbeda.
Pria yang dulu selalu berusaha mendekatinya kini justru menjaga jarak.
Dan yang paling membuatnya tidak nyaman...
Ia melihat ketenangan dalam mata Wendri.
Seolah pria itu perlahan bisa hidup tanpa dirinya.
Perasaan itu membuat d**a Keyla terasa berat.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Melani muncul.
> Bu, Anda baik-baik saja?
Keyla tersenyum pahit.
Lalu membalas singkat.
> Aku tidak tahu.
Sementara itu.
Di sebuah restoran mewah.
Leonard Pratama sedang makan malam bersama beberapa investor besar.
Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Karena laporan terbaru tentang Wendri baru saja tiba.
Dan laporan itu membuatnya semakin curiga.
"Kurir biasa..."
gumamnya pelan.
Instingnya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan pria itu.
Dan Leonard bukan tipe orang yang suka membiarkan misteri tetap menjadi misteri.
Larut malam.
Wendri akhirnya menutup laptop dan bersiap tidur.
Namun sebelum memejamkan mata, panel sistem muncul sekali lagi.
> [Selamat]
Target Potensial Misi Kedua Ditemukan.
> PT Nusantara Teknologi Digital (NTD)
> Probabilitas Keberhasilan Misi: 89%
Senyum tipis muncul di wajah Wendri.
Untuk pertama kalinya sejak mendapatkan sistem...
Ia merasa bukan hanya sedang mengikuti petunjuk.
Melainkan mulai belajar memahami pasar dengan kemampuannya sendiri.
Namun tepat sebelum panel menghilang, muncul satu notifikasi terakhir.
> [Perhatian]
Dalam 72 jam ke depan, Anda akan bertemu seseorang yang dapat mengubah arah hidup Anda.
Wendri mengernyit.
"Seseorang?"
Sayangnya sistem tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Dan jauh di tempat lain...
Alicia Wijaya menutup berkas terakhir tentang Wendri sambil tersenyum tipis.
Karena ia telah membuat keputusan.
Keputusan untuk bertemu langsung dengan pria yang membuatnya begitu penasaran.
Pagi hari tiba seperti biasa.
Wendri Abas bangun, membantu ibunya menyiapkan sarapan, lalu bersiap berangkat bekerja.
Meski aset investasinya telah meningkat drastis dalam beberapa minggu terakhir, hidupnya belum banyak berubah.
Ia masih tinggal di rumah sederhana bersama ibunya.
Masih mengenakan seragam kurir.
Masih mengendarai motor yang sama.
Namun yang berbeda adalah cara pandangnya terhadap masa depan.
Kini ia memiliki harapan baru.
Sesuatu yang dulu hampir hilang setelah pertunangannya dengan Keyla berada di ambang kehancuran.
Saat sedang mengantar paket ke pusat kota, ponselnya tiba-tiba bergetar.
Bukan dari sistem.
Melainkan nomor yang tidak dikenal.
Wendri sempat ragu sebelum mengangkatnya.
"Halo?"
"Selamat siang. Apakah saya sedang berbicara dengan Bapak Wendri Abas?"
Suara wanita terdengar profesional.
"Ya."
"Saya Rina, asisten pribadi Nona Alicia Wijaya."
Langkah Wendri langsung terhenti.
Nama itu terasa asing.
Namun juga tidak asing.
Karena beberapa kali ia pernah mendengar tentang keluarga Wijaya di berita bisnis.
Salah satu konglomerat terbesar di negara itu.
"Ada keperluan apa?"
"Nona Alicia ingin mengundang Anda untuk makan malam bisnis."
Wendri mengira dirinya salah dengar.
"Makan malam?"
"Benar."
"Apakah ada kesalahan?"
"Tidak ada."
Rina terdengar yakin.
"Undangan tersebut memang ditujukan kepada Anda."
Setelah menyebutkan waktu dan lokasi, panggilan berakhir.
Wendri berdiri beberapa saat di pinggir jalan.
Masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
Kenapa seorang pewaris konglomerat ingin bertemu dengannya?
Sore hari.
Di kantor logistik.
Bakara, Anto, dan Andra sedang beristirahat ketika melihat Wendri melamun.
"Woi."
Bakara menepuk bahunya.
"Kamu dapat surat cinta?"
"Bukan."
"Kalau bukan surat cinta, kenapa wajahmu begitu?"
Wendri menghela napas.
"Ada seseorang yang mengundangku makan malam."
"Wah!"
Bakara langsung bersemangat.
"Siapa? Cewek?"
"Entahlah."
"Apa maksudnya entahlah?"
Wendri akhirnya menyebut nama Alicia Wijaya.
Beberapa detik kemudian.
Ketiga temannya langsung membeku.
"Tunggu."
Andra menelan ludah.
"Alicia Wijaya?"
"Iya."
"Putri Wijaya Group?"
"Iya."
Bakara langsung menunjuk wajah Wendri.
"Kamu bohong."
"Aku serius."
"Kamu pasti mimpi siang."
Wendri hanya mengangkat bahu.
Sejujurnya, ia juga masih sulit mempercayainya.
Malam hari.
Di rumah.
Marni sedang menyiram tanaman ketika Wendri menceritakan undangan tersebut.
Wanita itu tampak terkejut.
"Konglomerat?"
"Iya."
"Kenapa dia mengundangmu?"
"Itu yang sedang kupikirkan."
Marni tersenyum kecil.
"Pergilah."
"Hm?"
"Kalau seseorang mengundangmu dengan baik, tidak ada salahnya datang."
Wendri mengangguk pelan.
Mungkin ibunya benar.
Keesokan harinya.
Hari yang ditentukan akhirnya tiba.
Lokasi pertemuan berada di sebuah restoran mewah yang bahkan belum pernah dimasuki Wendri sebelumnya.
Begitu tiba di depan gedung, ia sempat memandangi pakaiannya.
Kemeja sederhana.
Celana hitam biasa.
Tidak ada yang istimewa.
Di tempat seperti ini, ia tampak seperti orang yang salah alamat.
Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, seorang wanita berjas menghampirinya.
"Pak Wendri?"
"Ya."
"Saya Rina."
Asisten yang kemarin meneleponnya.
"Silakan ikut saya."
Wendri mengikuti langkah wanita itu menuju lantai atas restoran.
Semakin masuk ke dalam, suasana semakin eksklusif.
Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan pribadi.
Rina membuka pintu.
"Silakan masuk."
Wendri menarik napas pelan.
Lalu melangkah masuk.
Di dalam ruangan.
Seorang wanita cantik sedang duduk sambil menikmati secangkir teh.
Rambut hitam panjang.
Wajah elegan.
Tatapan tenang namun tajam.
Begitu melihat Wendri masuk, wanita itu meletakkan cangkirnya.
Kemudian tersenyum tipis.
"Selamat malam, Tuan Wendri."
Wendri langsung tahu.
Wanita inilah Alicia Wijaya.
Orang yang selama beberapa minggu terakhir diam-diam menyelidikinya.
Dan mungkin...
Orang yang dimaksud sistem.
Orang yang dapat mengubah arah hidupnya.
"Selamat malam."
Wendri duduk di kursi yang telah disiapkan.
Untuk beberapa saat.
Keduanya saling memandang.
Sama-sama mengamati.
Sama-sama menilai.
Kemudian Alicia membuka percakapan pertama.
"Saya sudah lama ingin bertemu Anda."
Kalimat sederhana itu membuat jantung Wendri berdetak sedikit lebih cepat.
Karena ia tahu.
Pertemuan malam ini bukanlah kebetulan.
Dan kemungkinan besar...
Akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Ruangan VIP restoran itu dipenuhi suasana tenang.
Lampu-lampu hangat menerangi meja makan yang hanya ditempati dua orang.
Di satu sisi duduk Alicia Wijaya.
Pewaris Wijaya Group.
Wanita yang namanya sering muncul di media bisnis.
Di sisi lain duduk Wendri Abas.
Seorang kurir yang beberapa minggu lalu bahkan tidak pernah membayangkan dirinya akan duduk berhadapan dengan orang seperti Alicia.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Alicia hanya memperhatikan Wendri.
Sementara Wendri juga memperhatikan wanita di depannya.
Namun berbeda dengan banyak pria lain yang mungkin akan gugup atau berusaha mencari perhatian, Wendri terlihat cukup tenang.
Hal itu justru membuat Alicia semakin tertarik.
Biasanya orang akan berubah sikap saat mengetahui identitasnya.
Tetapi Wendri tidak.
Atau setidaknya tidak terlalu menunjukkannya.
Alicia tersenyum tipis.
"Tuan Wendri."
"Ya."
"Apakah Anda tahu alasan saya mengundang Anda kemari?"
Wendri menggeleng.
"Tidak."
"Itu jawaban jujur."
"Saya memang tidak tahu."
Alicia tertawa kecil.
Kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Saya suka jawaban jujur."
Pelayan datang membawa makanan.
Namun tidak satu pun dari mereka langsung menyentuhnya.
Karena percakapan ini jauh lebih menarik.
"Tuan Wendri."
"Ya."
"Saya mendengar Anda berinvestasi di PT Surya Mineral sebelum perusahaan itu mengumumkan proyek besar."
Wendri sudah menduga pembicaraan akan mengarah ke sana.
Namun ia tetap tenang.
"Saya hanya beruntung."
Alicia tersenyum.
"Kebetulan?"
"Mungkin."
"Menurut saya tidak."
Tatapan Alicia menjadi sedikit lebih tajam.
"Saya bertemu banyak investor setiap tahun."
"Banyak orang pintar."
"Banyak orang berpengalaman."
Namun sebagian besar dari mereka gagal membaca peluang SMT."
Alicia berhenti sejenak.
"Lalu seorang kurir berhasil masuk di waktu yang sempurna."
Ruangan kembali hening.
Wendri tahu bahwa wanita ini jauh lebih cerdas daripada yang terlihat.
Namun ia juga tidak mungkin menceritakan tentang sistem.
Karena tidak ada yang akan mempercayainya.
Akhirnya ia hanya tersenyum tipis.
"Mungkin saya memang beruntung."
Alicia tidak melanjutkan pertanyaan itu.
Karena ia tahu tidak akan mendapatkan jawaban.
Setidaknya belum.
Sementara itu.
Di luar restoran.
Sebuah mobil hitam terparkir tidak jauh dari gedung.
Di dalam mobil itu duduk dua pria.
Salah satunya berbicara melalui telepon.
"Ya, Pak."
"Dia benar-benar datang."
"Dia sedang bertemu Alicia Wijaya."
Di ujung telepon.
orang itu perlahan menyipitkan mata.
"Alicia juga tertarik padanya?"
"Sepertinya begitu."
Situasi mulai berkembang lebih cepat daripada yang ia perkirakan.