Pada minggu ketiga belas, Gama mengirim pesan kepada Giana lewat surel pribadi yang pernah mereka gunakan untuk urusan kontrak. Ia tidak menulis panggilan Putri atau Kakak. Ia meminta waktu untuk menyampaikan permintaan maaf, dan menambahkan bahwa Giana boleh menolak tanpa harus menjelaskan alasannya.
Giana membaca pesan itu bersama Aya. Ia tidak merasa wajib menjawab hanya karena Gama menyebut kata maaf. Namun, ia juga ingin menentukan sendiri apakah percakapan itu perlu. Ia memilih bertemu di kantor layanan, pada siang hari, dengan Aya berada di ruang sebelah. Ia memberi batas waktu tiga puluh menit dan meminta Gama datang sendiri.
Gama hadir tanpa hadiah atau map perusahaan. Ia duduk di kursi seberang dan berkata, "Aku datang sebagai Gama. Tidak ada kontrak, tidak ada permintaan kerja, dan aku tidak akan memanggilmu kakak."
Giana mengangguk. "Aku mendengarkan. Tapi aku belum berjanji memaafkan atau melanjutkan hubungan apa pun setelah ini."
"Aku mengerti."
Gama meminta maaf karena sejak awal meremehkan pekerjaan Giana. Ia pernah mengatakan pekerjaan layanan itu tidak serius, menyebutnya tidak pantas dipercaya untuk acara penting, dan mengancam akan menghentikan kontrak serta memastikan kantor mereka tidak mendapat pekerjaan lagi jika ia tidak mengikuti keinginannya. Ia mengakui ancaman itu memakai kekuasaan sebagai klien untuk menekan Giana, padahal ia tidak berhak merendahkan mata pencahariannya.
Giana menatapnya tanpa menyela. Gama melanjutkan bahwa ia juga meminta Giana memakai nama Aninta tanpa meminta persetujuan kakaknya. Ia menyebutnya sebagai sandiwara yang akan mudah dijelaskan, padahal ia tidak mempertimbangkan akibat bagi Giana maupun Aninta.
"Kamu tahu ancaman itu bisa membuatku kehilangan pekerjaan," kata Giana. "Aku bekerja untuk membantu Rahma dan Gufta. Kamu menjadikan kebutuhan itu sebagai cara supaya aku menurut."
Gama menunduk. "Benar. Aku tidak akan membela diri dengan mengatakan sedang panik atau hanya bercanda. Itu tetap ancaman."
Ia meminta maaf karena membuat Giana berdiri di depan keluarga sebagai saudara palsu, karena tidak menjelaskan bahwa orang tua Dea mungkin mengetahui peran itu, dan karena baru menghentikan tuntutan setelah Giana sendiri memaksakan batas. Gama menegaskan ia tidak meminta Giana menganggap dirinya orang baik hanya karena ia menyebut kesalahannya satu per satu.
Giana berkata permintaan maaf yang rinci lebih baik daripada kata-kata umum, tetapi tidak menghapus akibat. Ia kehilangan waktu, menghadapi risiko keluarga, dan harus mengurus hubungan masa lalu yang tidak ia pilih. Gama menyetujui semuanya tanpa menambahkan penjelasan.
Waktu tiga puluh menit hampir habis. Gama bertanya apakah ada tindakan yang ia bisa lakukan untuk memperbaiki kerugian. Giana menjawab pembayaran kontrak telah selesai dan ia tidak ingin hadiah. Ia meminta ia tidak menyebarkan ceritanya, tidak menghubungi Rahma atau Gufta tanpa izin, dan tidak menggunakan kenalan perusahaan untuk mengatur pekerjaan bagi mereka.
Gama menyetujui. Ia tidak meminta janji pertemuan kedua. Giana berdiri ketika waktu habis. "Aku sudah mendengar. Itu saja untuk hari ini."
Gama menjawab, "Terima kasih sudah mengizinkan aku bicara," lalu keluar tanpa menunggu Aya mengantarnya.
Giana membuka pesan itu beberapa kali sebelum menjawab. Ia meminta Aya duduk bersamanya sebentar, bukan untuk memutuskan apakah Gama pantas dimaafkan, melainkan memastikan tempat dan waktu aman baginya. Aya bertanya apakah Giana ingin menolak. Giana menjawab ia ingin mendengar, tetapi ia ingin pembicaraan tercatat sebagai permintaan maaf pribadi, bukan urusan kantor. Mereka mengatur supaya Farel tahu Gama datang, tanpa menghadirkannya di ruang rapat.
Sebelum masuk, Giana menulis tiga hal yang ingin ia dengar: apa yang Gama akui, apa dampak tindakan itu, dan apa yang akan ia lakukan tanpa mengharapkan balasan. Ia tidak membawa dokumen kecelakaan. Ia tak ingin fakta tentang Geraldi membuat pembicaraan berubah menjadi pertukaran rasa bersalah.
Gama menjelaskan satu per satu. Ia mengakui pernah mengejek pekerjaan Giana sebagai pekerjaan yang bisa dilakukan siapa saja, menuduhnya tak mampu bersikap profesional, dan menggunakan ancaman untuk memaksanya tetap hadir. Ia juga mengingat nada suaranya saat berkata bahwa ia bisa membuat kantor mereka kehilangan klien. Giana mengonfirmasi bahwa ancaman tersebut membuatnya takut, terutama karena pendapatan itu membantu keluarga.
"Aku tidak bisa membatalkan apa yang sudah kamu dengar," kata Gama. "Aku bisa berhenti memakai posisi sebagai klien untuk menekan orang, dan aku bisa memperbaiki kebijakan di perusahaanku. Tapi kamu tidak harus percaya hanya dari janji ini."
Giana bertanya apakah ia meminta maaf karena kini tahu siapa Giana sebenarnya. Gama menjawab tidak; ia seharusnya meminta maaf sejak ia memperlakukan pekerjaannya dengan hina. Ia tidak perlu tahu latar keluarga Giana untuk memahami bahwa ancaman kehilangan pekerjaan adalah bentuk tekanan.
"Kalau aku bukan pekerja kontrak yang tahu soal kecelakaan itu, kamu tetap merasa salah?" tanya Giana.
"Iya. Bahkan sebelum tahu semua ini, aku sudah salah. Kabar tentang kecelakaan membuatku sadar ada akibat lain, bukan membuat kesalahan pertamaku muncul."
Giana menatapnya lama. Ia merasa lega mendengar jawaban itu, tetapi tidak memberi tahu Gama bahwa ia memaafkannya. Ia mengatakan satu-satunya permintaan saat ini adalah agar ancaman itu tidak diulang kepada staf lain. Gama menjawab ia telah meminta timnya meninjau komunikasi klien dan bahwa ia akan melaporkan tindakan tersebut kepada perusahaan, bukan menyelesaikannya hanya lewat percakapan dengannya.
Giana tidak meminta bukti saat itu. Ia berkata ia akan menilai perubahan dari waktu ke waktu. Gama menerima bahwa ia mungkin tidak akan diberi kesempatan melihatnya. Mereka menutup pertemuan setelah tiga puluh menit. Giana meminta Aya menemani sampai Gama pergi, lalu kembali ke meja kerjanya sendiri.
Giana mengakhiri hari kerja dengan mengirim pesan kepada Farel bahwa pertemuan selesai sesuai batas. Ia tidak meminta kantor menghapus catatan ancaman yang pernah dibuat Gama. Ia juga meminta agar catatan itu tidak dibagikan kepada klien lain. Farel mengonfirmasi kedua hal tersebut.
Ia mengirim pesan kepada Aya bahwa ia sudah pulang dan ingin malam itu tenang.