Giana tidak langsung membahas pertemuan dengan Aya. Mereka kembali bekerja pada daftar klien dan menyelesaikan panggilan yang tertunda. Menjelang sore, Aya bertanya apakah Giana ingin bicara. Giana menjawab ia ingin memikirkan dulu, bukan karena permintaan maaf Gama membuatnya bingung, tetapi karena ia ingin menilai apa yang ia rasakan tanpa dipandu harapan orang lain.
Di rumah, Rahma melihat Giana pulang tepat waktu. Ia bertanya apakah ada sesuatu yang terjadi. Giana mengatakan Gama datang meminta maaf dan mengakui ancaman yang pernah ia buat. Rahma tidak bertanya apakah Giana sudah memaafkannya. Ia hanya menyajikan teh dan duduk menunggu.
"Aku merasa lebih ringan karena dia tidak menyangkal," kata Giana. "Tapi aku belum merasa aman untuk mempercayainya. Dua hal itu bisa benar bersamaan, kan?"
"Bisa," jawab Rahma. "Menerima permintaan maaf bukan berarti kamu harus kembali dekat."
Gufta keluar dari kamar membawa buku matematika. Ia bertanya apakah Gama akan datang lagi. Giana menjawab tidak tahu dan tidak ingin membuat janji atas nama orang lain. Gufta mengangguk, lalu meminta bantuan untuk satu soal. Percakapan pindah ke persamaan dan cara mengatur waktu belajar, memberi Giana jeda dari urusan keluarga Pradipta.
Keesokan paginya, Gama mengirim satu pesan pendek untuk memastikan ia tidak melanggar batas. Ia menulis bahwa ia tidak akan menghubungi lagi kecuali Giana membuka percakapan atau ada informasi resmi yang diminta. Giana membalas bahwa ia menghargai sikap itu dan meminta komunikasi apa pun tentang perkara tetap melalui petugas hukum.
Gama membalas setuju. Ia tidak menyisipkan pertanyaan tentang apakah Giana marah, apakah ia ingin bertemu, atau apakah mereka bisa mulai lagi. Giana menyimpan percakapan itu di folder, lalu kembali pada pekerjaannya.
Di kantor, Farel bertanya kepada Giana apakah ia ingin mereka menolak semua klien yang mengenal Gama. Giana menjawab tidak perlu mengubah penugasan lain hanya karena masa lalu. Ia hanya tidak ingin menerima kontrak yang mengharuskan dirinya menjadi anggota keluarga atau menyembunyikan identitas. Farel berkata rancangan aturan kantor sudah memasukkan persetujuan pihak ketiga dan hak staf menolak tugas.
Aya membaca ulang formulir baru yang masih berupa draf. Ada bagian untuk menjelaskan siapa yang akan hadir, peran staf, serta batas layanan. Giana menyarankan agar kata-kata yang terdengar menjamin kerahasiaan diganti dengan penjelasan realistis tentang data yang disimpan. Mereka memperbaikinya bersama.
Giana tidak merasa permintaan maaf Gama memperbaiki sistem kantor. Perubahan harus terlihat dalam cara mereka menerima klien berikutnya. Ia juga tidak ingin pengalaman pribadinya dijadikan cerita promosi. Farel mencatat permintaan itu.
Seminggu kemudian, petugas hukum mengirim pembaruan bahwa berkas Juardi masih diperiksa. Ada bagian dokumen yang harus diverifikasi dan belum ada keputusan akhir. Giana membaca pemberitahuan tersebut sendiri, lalu menyimpan salinan tanpa mengirimkannya kepada Gama. Ia telah menyepakati saluran resmi untuk informasi perkara dan memilih menjaga jarak dari keluarga Pradipta.
Sore itu, Giana meminta salinan kebijakan kantor yang sedang direvisi. Ia ingin melihat bahwa batas kerja berlaku bagi semua penugasan dan bukan hanya untuk klien Gama. Farel menjelaskan bahwa mereka menambahkan hak staf menolak tugas yang melibatkan penyamaran tanpa persetujuan langsung, serta kewajiban manajer memberi informasi risiko sebelum kontrak ditandatangani. Draf itu belum disahkan, tetapi akan dibahas pada rapat minggu depan.
Giana menyarankan agar formulir tidak menjanjikan bahwa semua masalah klien dapat diselesaikan. Layanan mereka hanya mengatur kebutuhan praktis. Aya setuju dan mengganti kalimat promosi yang terlalu berani. Mereka membahas satu contoh klien yang meminta staf mengaku sebagai sepupu untuk meyakinkan pemilik kos. Kali ini kantor menolak bagian kebohongan dan menawarkan bantuan menyusun surat permohonan yang jujur.
Farel bertanya apakah Giana ingin mengambil cuti setelah percakapan dengan Gama. Giana berkata ia akan melihat kondisinya setelah makan malam. Ia tidak ingin diperlakukan rapuh, tetapi juga tidak ingin berpura-pura semua kata tadi mudah didengar. Farel menyetujui dan mengingatkan bahwa mengambil cuti adalah hak, bukan kelemahan.
Di rumah, Rahma mendengarkan cerita Giana. Ia tidak mengomentari apakah Gama layak mendapatkan kesempatan. Ia hanya bertanya apakah Giana mengatakan apa yang ingin ia katakan. Giana menjawab iya. Gufta datang membawa piring dan berkata, "Kalau orang minta maaf, minimal ia harus mencuci piring juga." Rahma tertawa kecil dan menyuruhnya mencuci piringnya sendiri.
Giana menjelaskan bahwa ia belum meminta apa pun dari Gama. Ia tidak ingin menerima bantuan biaya atau pekerjaan khusus. Rahma berkata ia dapat mengubah pikiran nanti, tetapi keputusan itu harus datang dari kebutuhan Giana sendiri, bukan tekanan untuk membalas kebaikan.
Giana tidur lebih awal. Pagi berikutnya, Gama mengirim pesan sesuai batas yang mereka sepakati: ia telah menyerahkan catatan tentang kebijakan klien kepada timnya dan tidak mengharapkan balasan. Giana menyimpan pesan itu sebagai informasi, bukan bukti bahwa masalah selesai. Ia meneruskan satu pertanyaan kepada Farel tentang status draf, tanpa memasukkan nama Gama.
Aya tidak menanyakan apakah Giana kini menyukai Gama. Ia bertanya apakah Giana merasa didengar. Giana menjawab iya untuk percakapan hari itu, tetapi ia belum tahu apakah perilaku Gama akan berubah. Aya berkata ia boleh menilai dari waktu ke waktu dan tidak perlu memberikan jawaban akhir setelah satu pertemuan. Mereka mengakhiri malam dengan membicarakan kebutuhan belanja rumah, sehingga Giana dapat kembali pada urusan yang ia pilih sendiri.
Keesokan harinya, Giana meminta Farel agar permintaan maaf Gama tidak dicatat sebagai penyelesaian keluhan secara otomatis. Farel berkata ia akan menunggu sampai Giana sendiri menyatakan jika ada hal lain yang perlu dicatat. Ia tidak meminta Giana menentukan sekarang apakah ancaman itu sudah selesai baginya. Sikap itu menguatkan bahwa kantor sedang mencoba memberi pilihan kepada stafnya, bukan menutup persoalan demi citra klien.
Giana juga tidak menceritakan hal itu kepada klien lain.
Ia menyimpan catatan itu tanpa mengubahnya menjadi penilaian akhir atas Gama.
Ia menyimpan keputusan itu untuk dipikirkan sendiri.