Pada minggu keempat belas, Giana mengirim pesan kepada Gama. Ia menulis bahwa ia bersedia berbicara sekali lagi, tetapi bukan untuk membahas perkara atau pekerjaan. Ia ingin mendengar apa yang ia pahami tentang hubungan mereka sebelum kontrak, dan ia ingin Gama mendengarkan tanpa membela diri. Ia memilih tempat umum dan meminta tidak ada anggota keluarga lain.
Gama menyetujui. Mereka bertemu di kedai sederhana dekat kantor Giana. Gama datang lebih dulu dan menunggu di meja dekat pintu. Ia tidak memesan untuk Giana. Saat Giana tiba, ia membiarkan ia memilih minuman sendiri.
Giana bertanya mengapa Gama menganggap ia bisa mengancam pekerjaannya tanpa konsekuensi. Gama menjawab ia terbiasa mendapat persetujuan ketika menekan orang, lalu mengira kendali itu sama dengan kemampuan menyelesaikan masalah. Ia tahu sekarang itu bukan alasan. Ia menggunakan posisi sebagai klien dan kekayaan keluarganya untuk membuat Giana merasa tidak punya pilihan.
"Aku tidak mau mendengar bahwa kamu berubah karena aku," kata Giana. "Aku ingin kamu tahu itu salah bahkan kalau aku tidak pernah bertemu kamu lagi."
Gama mengangguk. "Aku mengerti. Aku seharusnya memperlakukan pekerja layanan sebagai profesional sejak awal. Dan aku seharusnya tidak menyuruhmu berbohong tentang kakakku."
Ia menjelaskan bahwa saat itu ia menganggap hubungan palsu sebagai solusi sederhana untuk menghindari konflik dengan Diandra dan meyakinkan Dea. Ia tidak memikirkan siapa yang harus menanggung risiko bila rahasia itu terbuka. Giana berkata ia tahu Gama juga berada di bawah tekanan keluarga, tetapi itu tidak memindahkan tanggung jawab kepada dirinya.
Gama mengatakan ia tak berharap Giana menyelesaikan konflik keluarganya. Ia sedang belajar membicarakan masalah dengan Diandra tanpa ancaman atau ultimatum. Ia juga tidak tahu apakah hubungannya dengan Dea berakhir selamanya dalam arti emosional, tetapi secara praktis ia telah memilih mengakhirinya dan tidak meminta Giana mengisi tempat kosong itu.
Giana menghargai kalimat terakhir. Ia berkata ia tidak ingin menjadi hadiah setelah putus cinta, atau bukti bahwa Gama telah berubah. Ia hanya bersedia bicara sebagai orang yang pernah bekerja dengannya dan memiliki pengalaman yang menyakitkan.
Gama tidak memotong. Ia mengulangi bahwa kepercayaan harus dipulihkan lewat perilaku, bukan kata-kata. Giana bertanya bagaimana ia akan bersikap jika kelak ia menolak permintaan bantuan. Gama menjawab ia harus menerima penolakan tanpa mengancam pekerjaan atau mengubahnya menjadi penghinaan.
Percakapan berlangsung hampir satu jam, lebih lama dari yang direncanakan, tetapi Giana yang mengusulkan waktu tambahan. Saat mereka berpisah, ia berkata itu bukan janji untuk berkencan. Gama menjawab ia paham. Mereka meninggalkan kedai dengan kendaraan masing-masing.
Giana mengawali percakapan dengan mengingatkan bahwa ia sendiri yang meminta pertemuan. Ia tidak ingin Gama menganggap undangan itu sebagai hadiah atas permintaan maafnya. Gama menjawab ia memahami dan bertanya apakah ada topik yang ingin ia hindari. Giana meminta mereka tidak membicarakan kecelakaan, kontrak, atau keputusan Dea. Ia ingin tahu bagaimana Gama melihat dirinya ketika tak ada krisis di antara mereka.
Gama mengatakan ia ingat Giana selalu berani membalas ketika ia merendahkan pekerjaannya. Saat itu ia mengira perlawanan itu sekadar bagian dari akting. Kini ia sadar Giana mempertahankan harga dirinya meski ia memegang kendali sebagai klien. Ia mengaku dahulu merasa kesal karena Giana tidak tunduk, padahal keberanian itu yang membuatnya mulai menghormati Giana.
"Aku tidak mau kekagumanmu berubah jadi alasan untuk mengejarku," kata Giana.
"Aku juga tidak ingin itu. Aku hanya menjawab pertanyaanmu."
Giana berkata ia belum tahu apakah akan percaya pada perubahan Gama. Ia mengakui percakapan itu membuatnya sedikit lebih memahami dirinya, tetapi tidak menghapus rasa takut bahwa suatu hari Gama kembali menggunakan uang atau nama keluarga. Gama bertanya bagaimana ia dapat menunjukkan perilaku berbeda. Giana menjawab ia harus mempraktikkannya dalam hubungan kerja dan keluarga, bahkan ketika tidak ada orang yang akan memuji.
Gama bercerita bahwa ia mulai meninjau kontrak pemasok dan menemukan beberapa praktik komunikasi yang mengandalkan ancaman kehilangan kerja sama. Ia meminta tim mengubah prosedur agar keluhan dapat diajukan tanpa tekanan. Ia tidak menawarkan Giana melihat laporan perusahaan karena itu bukan urusannya. Ia hanya menyebut perubahan yang sedang dilakukan dan mengakui belum tahu apakah hasilnya akan berhasil.
Giana menanyakan apa yang ia lakukan saat Diandra mengancam menarik dukungan. Gama menjawab ia mulai mengatakan bahwa ia akan menghentikan percakapan jika ibunya memakai ultimatum, lalu mengajak bicara lagi ketika semua orang tenang. Ia masih sulit melakukannya, terutama ketika Geraldi dirawat dan keluarga takut kehilangan lebih banyak.
Giana berkata ia mengerti rasa takut, tetapi tak akan menjadi tempat Gama membuang semua masalah. Gama menerima batas itu. Ia bertanya apakah Giana bersedia bertemu lagi sebagai teman. Giana menjawab ia belum memakai label itu. Untuk saat ini, ia bisa menerima satu percakapan lagi jika ia sendiri yang mengajak.
Mereka berjalan menuju pintu. Gama tidak menawarkan mengantar. Giana berkata ia membawa kendaraan sendiri. Mereka berpamitan tanpa janji baru. Giana merasa percakapan itu berjalan lebih jujur karena mereka tidak memaksa hubungan mereka bernama sesuatu.
Giana mengatakan ia mengerti kehilangan dapat membuat orang ingin mengendalikan keadaan. Ia sendiri sering mencoba mengurus semua hal untuk Rahma dan Gufta. Namun, ia belajar bahwa niat melindungi tetap dapat menyakiti ketika tidak ada ruang bagi orang lain untuk memilih. Gama mengakui itulah pola yang perlu ia ubah bersama ibunya, bukan tugas Giana untuk memperbaikinya.
Giana bertanya kepada Gama apakah ia bersedia mengakhiri pertemuan jika salah satu dari mereka mulai merasa tertekan. Gama menjawab iya. Mereka sepakat tidak membahas keluarga atau hubungan romantis kecuali Giana membuka topiknya. Dengan menyebut batas itu sejak awal, Giana merasa ia dapat hadir tanpa harus memantau setiap kalimat Gama.
Ia memilih menyelesaikan tugas kantor sebelum memutuskan langkah pribadi berikutnya.
Ia tidak meminta Aya menilai apakah ia harus memberi kesempatan lagi.
Batas itu membuat keduanya dapat bernapas lebih lega.